SUARA PEMBARUAN DAILY

Negosiasi Ulang Proyek 10.000 MW

Deperin Fasilitasi PT PLN dengan Produsen Baja

[JAKARTA] Departemen Perindustrian berjanji memfasilitasi pertemuan produsen industri baja dengan PT PLN untuk membicarakan negosiasi ulang Proyek 10.000 Mega Watt (MW). Negosiasi dilakukan untuk mencari jalan tengah harga baja terkait dengan melonjaknya harga baja internasional sejak Januari 2008.

"Deperin mencoba mencari jalan tengah untuk kalangan indsutri dan PT PLN. Diharapkan solusinya bisa menguntungkan kedua belah pihak," ujar Direktur Logam dan Mesin Ditjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka (ILMTA) Departemen Perindustrian, C Triharso kepada SP, Senin (28/1).

Harga baja internasional pada Desember 2007 masih ada di kisaran US$ 700-US$ 800 per ton. Namun, sejak harga minyak dunia menyentuh level US$ 100 per barel, harga baja internasional ikut melambung menjadi US$ 1.000 per ton.

Direktur Komersial PT Krakatau Wajahtama Siti Nuryani selaku produsen baja siku mengatakan, kenaikan harga baja memberatkan kalangan produsen, industri dan kontraktor baja yang terlibat dalam proyek 10.000 MW PT PLN. Sebab ketika mengikuti tender tersebut harga baja masih ada di kisaran normal yakni US$ 600-700 per ton.

Khusus harga baja siku, sejak Januari 2007 terus meningkat. Sebelumnya pada Januari 2007 harga baja siku Rp 5.900 per kilogram (kg). Namun Januari 2008 harganya meningkat 60 persen menjadi Rp 9.800/kg. "Produsen tidak bisa menekan harga ketika harga dunia melambung tinggi. PT Krakatau berharap PT PLN bersedia mempertimbangkan negosiasi ulang tersebut," ujar Nuryani.

Sementara itu Sekretaris Umum Asosiasi Masyarakat Baja Indonesia (AMBI) Singgih Wasesa mengatakan produsen dan industri baja kemungkinan akan mempertimbangkan impor baja dari Tiongkok dan India. Hal tersebut dilakukan akibat kelangkaan bahan baku baja seperti scrap (besi tua) asal Madura. Sementara dalam proyek 10.000 MW scrap merupakan bahan baku utama untuk membuat billet dan bloom.

"PT PLN membutuhkan sekitar 36.000 ton scrap untuk Proyek 10.000 MW. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut produsen terpaksa impor," paparnya. [EAS/M-6]


Last modified: 29/1/08