SUARA PEMBARUAN DAILY

Produksi Pertanian dan Ketidakpastian Iklim

Oleh Viktor Siagian

Tahun 2008 merupakan tahun sulit bagi dunia pertanian karena banyak daerah sentra produksi padi dilanda banjir bandang. Contohnya, banjir yang melanda Jawa Tengah dan Jawa Timur, yang tentunya merusak tanaman padi (puso).

Kemudian kita juga dihadapkan pada naiknya harga input pertanian, antara lain, pupuk, pestisida, herbisida, dan upah tenaga kerja. Kenaikan harga input ini, terutama pestisida dan herbisida, mencapai 10 - 100 persen. Tapi, hal ini tidak menjadi masalah jika marginal benefit lebih besar dari marginal cost. Artinya setiap kenaikan biaya akan menghasilkan kenaikan keuntungan yang lebih besar.

Kemudian masalah lainnya menyangkut kemarau panjang, yang juga menurunkan produksi pada 2007. Menurut data BPS, pada 2007 kita memang mampu meningkatkan produksi 4,5 persen menjadi 57,05 juta ton gabah kering panen (GKP). Tapi, di sebagian daerah sawah non-irigasi seperti daerah tadah hujan, lebak rawa, pasang surut, produksi padi 2007 menurun signifikan 10 - 50 persen. Berdasarkan survai penulis, di Provinsi Sumatera Selatan hal ini terjadi di Kecamatan Lempuing, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Kecamatan Inderalaya, Kabupaten Ogan Ilir, Kecamatan Semendau Darat Ulu, Kabupaten Muara Enim, dan Kecamatan Air Saleh, Kabupaten Banyuasin.

Padi sawah adalah tanaman air (aquatik) yang membutuhkan air sepanjang proses hidupnya, mulai dari pra-tanam sampai pemasakan buah malai. Pada fase kritis seperti pembuahan, air harus ada. Jika kekurangan air akan berpengaruh terhadap hasil gabah. Bukan hanya tanaman padi yang membutuhkan air, tapi hampir semua tanaman tropis membutuhkannya untuk fotosintesa dan untuk mengganti air yang hilang akibat penguapan oleh tanaman.

Jadi, adanya ketidakpastian iklim ini sangat mempengaruhi perkembangan produksi pertanian. Sebagian pengamat mengatakan hal itu sebagai akibat global warming (pemanasan global) yang diakibatkan rusaknya lapisan ozon. Rusaknya lapisan ozon ini disebabkan meningkatnya emisi CO2 baik yang berasal dari emisi pabrik maupun karena kemampuan bumi menghasilkan O2 semakin rendah. Berkurangnya kemampuan bumi menghasilkan O2 ini disebabkan semakin menurunnya luas vegetasi hutan.

Terganggu

Jika demikian, bagaimana dengan produksi pertanian kita, terutama tanaman pangan? Tentunya akan terganggu selama ekosistem belum kembali pada keseimbangan awal. Bukti empirisnya, kekeringan dan banjir bandang yang sejak lima tahun terakhir rutin melanda Indonesia. Tahun ini kita tidak tahu pasti terjadi di mana, hanya perkiraannya di daerah yang hutannya tandus seperti Pulau Jawa, Provinsi Lampung, Sumatera Selatan, Riau, dan Sumatera Utara.

Biaya kerusakan lingkungan yang harus kita bayar ternyata jauh lebih tinggi dibandingkan dengan manfaat ekonomi yang kita peroleh dari mengeksploitasi hutan. Akibat rusaknya hutan sebagian besar ditanggung oleh masyarakat yang tidak terlibat dalam pemanfaatannya, seperti, di daerah hilir sungai. Masyarakat di daerah hulu juga menanggung dampak secara langsung dalam bentuk bencana longsor. Masyarakat pesisir menanggung kerugian akibat degradasi hutan dalam bentuk banjir pantai, seperti yang terjadi di Muara Baru, Jakarta Utara.

Untuk mengatasi dampak kemarau dalam sesaat (jangka pendek) memang diperlukan bantuan pompa air untuk menyalurkan air dari sungai-sungai atau danau. Tapi, karena terbatasnya anggaran pemerintah hal ini hanya dilakukan secara terbatas. Sumber air untuk penyedotan juga menjadi kendala karena sudah semakin berkurang debit air dari sumbernya.

Untuk mengatasi banjir memang sangat sulit. Mitigasi yang dilakukan dalam jangka pendek adalah membangun tanggul penahan banjir, yang juga membutuhkan biaya besar. Bahkan di negara maju pun sulit diatasi. Kekuatan massa air (daya rusak air) ternyata mampu menghancurkan tembok-tembok, rumah, jalan, dam, dan sebagainya. Banjir bandang sama halnya dengan bentuk bencana alam lainnya, seperti, gempa bumi, yang sulit diprediksi.

Apakah negeri ini akan menjadi negeri seribu bencana? Bisa jadi, bencana-bencana dalam kurun waktu lima tahun ini telah membuktikannya. Mulai dari bencana alam kelas dunia (tsunami Aceh) sampai bencana alam kelas desa (tanah longsor). Semua ini tentu mempengaruhi produksi pertanian kita.

Anggaran Negara

Secara langsung bencana juga menyedot anggaran negara yang sangat besar. Apalagi sistem penanganan bencana kita yang terlalu populis dengan memberikan bantuan rumah gratis bagi yang terkena musibah. Semuanya semakin menyulitkan kita. Secara tidak langsung hal ini berdampak serius terhadap anggaran negara (APBN).

Pada 2007 anggaran pembangunan untuk departemen-departemen pada akhirnya dipangkas guna membiayai penanggulangan bencana alam. Pada 2008 ini anggaran departemen juga akan dipangkas untuk membiayai bencana alam mulai dari lumpur Lapindo sampai banjir bandang Ngawi.

Produksi padi kita diharapkan tetap meningkat pada 2008 karena harga padi saat ini sangat menguntungkan petani. Harga padi di tingkat petani umumnya di atas harga pembelian pemerintah (HPP). Gairah petani menanam padi sangat tinggi. Margin keuntungan petani padi kita sangat besar, berkisar Rp 7 juta - 12 juta/ha.

Pada musim kemarau tahun ini petani memiliki banyak alternatif tanaman yang akan diusahakan. Apakah menanam padi, jagung, ataupun kedelai, yang semuanya memberikan keuntungan yang layak.

Harga kedelai sudah mencapai Rp 4.500 - 6.000/kg, walaupun saat ini belum ada petani kedelai yang panen, karena tanaman tersebut umumnya ditanam pada musim kemarau (MK). Harga jagung pipilan kering berkisar Rp 1.500 - 1.750/kg. Jadi, dari segi harga, terjadi kenaikan yang tajam baik karena menurunnya produksi dunia (akibat kemarau panjang dan hama penyakit, seperti, pada komoditas karet, kakao, dan kopi) ataupun karena terjadinya pengalihan sebagian produksi pangan untuk diolah menjadi biofuel seperti jagung, kedelai, dan kelapa sawit.

Kenaikan harga bahan bakar minyak dunia di satu sisi menggoyahkan struktur APBN kita, tapi di sisi lain meningkatkan harga pangan dunia. Para negara pengimpor pangan dirugikan karena harus mengeluarkan devisa yang lebih besar. Tetapi, petani-petani pangan sangat menikmati situasi ini. Mereka menerima rezeki tak terduga. Jadi tidak hanya petani tanaman pangan yang menikmati harga output yang tinggi tahun ini, tapi juga petani tanaman perkebunan.

Pada awal 2007 harga kelapa berkisar Rp 400 - 500/butir dan pada awal Januari ini sudah mencapai Rp 1.000/butir di tingkat petani. Demikian juga dengan harga kelapa sawit meningkat dari Rp 5.00 - 650/kg tandan buah segar (TBS) menjadi Rp 1.200 - 1.400/kg, karet Rp 6.500 - 7.500/kg slab basah, kakao Rp 12.000 - 14.000/kg biji kering, dan sebagainya. Harga tersebut kemungkinan meningkat tahun ini karena kemarau panjang mengakibatkan menurunnya produksi. Semua tanaman di atas adalah tanaman yang membutuhkan curah hujan tinggi, yakni minimal 2.500 mm/tahun. Masalah banjir bukan kendala bagi tanaman perkebunan karena relatif lebih mampu bertahan pada genangan air dibandingkan dengan tanaman pangan.

Penulis adalah peneliti pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumsel, Badan LitbangDeptan, Palembang


Last modified: 29/1/08