SUARA PEMBARUAN DAILY

Industri Kecil Terancam Gulung Tikar

AS Potong Pajak Besar-besaran

[JAKARTA] Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2008 diprediksi tidak akan mencapai 6,5 persen. Hal tersebut sebagai dampak resesi perekenomian Amerika Serikat (AS) yang mengimbas pada penurunan ekspor dan daya beli, khususnya untuk produk industri manufaktur. Pada gilirannya, kondisi itu akan membuat industri kecil dan menengah gulung tikar.

"Kalangan pengusaha resah, karena tidak bisa mengandalkan ekspor. Di lain pihak daya beli dalam negeri masih lemah. Situasi sekarang menyulitkan industri dan pengusaha," ujar Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi, di Jakarta, Kamis (24/1).

Menurut Sofjan, resesi AS juga memicu penurunan ekspor sampai 10-15 persen. Akibatnya, industri manufaktur terpukul, dan terpaksa menjual produknya di pasar domestik. Ironisnya, saat ini mereka harus bersaing dengan produk impor dari Tiongkok yang membanjir.

Ketatnya daya saing produk dalam negeri, pada akhirnya akan membuat industri kecil dan menengah gulung tikar. Lemahnya daya beli, memaksa sektor industri mengurangi produksi dan perlahan tutup karena tidak sanggup menanggung biaya tinggi.

"Pengurangan produksi berdampak pada pegurangan tenaga kerja. Dikhawatirkan jumlah pengangguran di 2008 meningkat dibandingkan 2007," ujar Sofjan.

Berdasarkan data Bank Indonesia, komoditas utama ekspor Indonesia ke AS, di antaranya pakaian (32,7 persen), karet mentah (8,5 persen), dan ikan serta kerang-kerangan (5,5 persen).

Sementara itu, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, MS Hidayat mengatakan, Indonesia memiliki empat kendala akibat melemahnya ekonomi dunia. Keempat kendala itu adalah, terjadi krisis komoditas bahan pangan dunia yang berakibat lonjakan harga pangan, tingginya harga bahan baku industri, melemahnya daya beli dalam dan luar negeri, serta ketatnya persaingan dengan dengan masuknya produk impor yang lebih berkualitas dengan harga terjangkau.

Menurutnya, tahun 2008, semua negara terkena dampak resesi perekonomian AS. Pertumbuhan ekonomi negara-negara yang bergantung ekspornya pada AS, seperti Indonesia dan Tiongkok, ikut terpengaruh. Untuk itu, pemerintah diminta mengantisipasi dampak penurunan ekonomi dunia dengan kebijakan yang mendukung industri manufaktur serta konsentrasi di ketahanan pangan.

Pemotongan Pajak

Dari Washington dilaporkan, Gedung Putih dan Partai Demokrat di Kongres menyepakati paket stimulus ekonomi sebesar US$ 150 miliar (Rp 1.400 triliun) sebagai pengganti pemotongan pajak, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Ketua DPR AS, Nancy Pelosi mengatakan, Kongres akan segera menyetujui hal tersebut sehingga potongan pajak dapat segera dilakukan.

Sekitar 117 juta rumah tangga di AS akan menerima pemotongan pajak hingga US$ 600 (Rp 5,4 juta) untuk perorangan, dan US$ 1.200 (RP 10,8 juta) untuk mereka yang telah menikah. Sedangkan, keluarga yang telah memiliki anak akan mendapat tambahan pemotongan sebesar US$ 300 (Rp 2,7 juta) per orang.

Washington bergerak cepat untuk mencoba men- cegah kejatuhan ekonomi ke dalam resesi. Total pemotongan pajak untuk rumah tangga mencapai US$ 100 miliar (US$ 900 triliun), sedangkan dunia usaha sebesar US$ 50 miliar (Rp 450 triliun). [EAS/L-11/BBC/N-3]


Last modified: 25/1/08