[MALANG] Para produsen di pusat pengolahan tempe dan keripik tempe di Malang Raya, Jawa Timur (Jatim), belum merasakan dampak yang berarti kendati harga kedelai di pasaran turun dari Rp 8.000 menjadi Rp 7.250 per kilogram (kg), Jumat (25/1). Mereka mengeluh, dengan harga kedelai dan ongkos produksi yang relatif masih tinggi, membuat pemasaran keripik tetap turun.
"Meski begitu, kita tetap bersyukur karena, Kamis (24/1) harga kedelai masih bertahan di posisi Rp 7.450 per kg, hari ini turun lagi menjadi Rp 7.250," ujar H Machfud (55), Ketua Primer Koperasi Tempe Indonesia (Primkopti) 'Bangkit Usaha' di Kota Malang.
Ratusan produsen tempe dan tahu serta keripik tempe di sentra Sanan, Purwantoro, Blimbing, Kota Malang berharap, harga kedelai berada pada posisi yang wajar sekitar Rp 5.250 hingga Rp 5.500 per kg.
Kebijakan pemerintah yang meniadakan bea impor kedelai ikut memberi dampat pada penurunan harga bahan baku tahu, tempe, dan keripik tempe di Malang Raya. "Tetapi untuk usaha keripik tempe, harganya relatif masih mahal karena harga minyak goreng tetap saja tinggi," katanya.
Sementara itu, Ir Nur Hidayat MP, Ketua Laboratorium Bio Industri Universitas Brawijaya Malang mengatakan, menyiasati kenaikan harga kedelai yang membuat produsen tempe di Malang Raya gulung tikar dapat dilakukan tiga langkah, yakni melakukan substitusi atau bahan baku pengganti, diverifikasi, dan merintis sentra kedelai.
"Substitusi dilakukan dengan mencampur bahan baku tempe dengan kedelai lokal-impor. Jika masih belum memungkinkan, dicari bahan baku lain yang tetap kacang-kacangan seperti kacang koro, kacang hijau, kacang panjang dan atau petai cina," katanya.
Panen Kedele
Sementara itu, hasil panen kedelai di Kabupaten Banyuwangi, Jatim setiap tahun selalu surplus karena memiliki areal lahan kedelai paling luas dibandingkan daerah-daerah lain di Jatim yang mencapai 33.854 hektare (ha) dengan produktivitas lahan rata-rata mencapai 14 kuintal per ha.
Menurut Kepala Bidang Pertanian Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Banyuwangi, Abdul Rachman, Kamis (24/1), produksi kedelai di Banyuwangi sudah melebihi kebutuhan Banyuwangi. Produsen tahu dan tempe beberapa kota seperti Malang dan kota-kota di luar Jawa menggunakan kedelai dari Banyuwangi,''katanya.
Pada saat harga kedelai eks impor naik, petani kedelai tidak ikut menikmati kenaikan harga. Tanaman kedelai di Banyuwangi tidak memasuki masa panen. Hasil panen pada Oktober dan November 2007 sudah dilepas oleh para petani.
Sementara itu, para petani tebu di Jatim siap mendukung gerakan peningkatan produksi kedelai lokal dengan melakukan sistim tanam tumpang sari di areal tanaman tebu.
Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia, HM.Arum Sabil menjelaskan, sistem tumpang sari tanaman kedelai dan tanaman tebu sudah pernah dicoba dalam skala uji coba pada tahun 2000 oleh Departemen Pertanian di Kabupaten Jember. [ES/070]