SUARA PEMBARUAN DAILY

Ratusan Balita di Cilincing Kekurangan Gizi

[JAKARTA] Sebanyak 40 persen dari 900 balita (bayi di bawah umur lima tahun) yang ditanganiYayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) di Kelurahan Kali Baru, Cilincing, Jakarta Utara, mengalami kekurangan gizi dan rentan terhadap gizi buruk.

"Jumlah balita yang gizi buruk hanya sekitar empat atau lima. Tapi ada 40 persen yang kurang gizi. Dan jumlah ini cenderung mengarah ke gizi buruk. Dikhawatirkan jika tidak segera diatasi, maka akan menambah jumlah balita dengan gizi buruk. Jumlah ini hanya berasal dari satu kelurahan. Bayangkan kalau digabungkan dengan kelurahan lain, pasti jumlahnya akan bertambah," tutur Koordinator Revitalisasi Posyandu Cilincing, Kelurahan Kali Baru, Jakarta Utara Sondang Siregar kepada SP, Kamis (24/1).

Sondang mengatakan, kondisi itu dapat menjadi gambaran umum tentang kondisi gizi balita di Jakarta secara keseluruhan. "Karena jika kita melihat keadaan di Jakarta Utara dengan wilayah pemukiman yang padat, lingkungan yang tidak bersih dan terletak di pinggiran kota, kondisi ini merupakan fenomena umum dari wilayah dengan balita dengan gizi kurang dan gizi buruk," katanya.

Tingkat gizi yang rendah disebabkan oleh ekonomi masyarakat sekitar yang miskin dan rendahnya pendidikan orangtua. "Kalau untuk masalah ekonomi, kami tidak bisa membantu secara terus menerus. Saat ini yang kami kerjakan adalah memberi makanan tambahan dengan biaya murah. Tapi untuk masalah pendidikan, kami memberikan seminar parenting untuk para orangtua agar dapat mengubah cara pikir yang salah. Dan semua ini kami adakan melalui program revitalisasi posyandu (pos pelayanan terpadu)," lanjutnya.

Dengan jumlah posyandu yang hanya dua di kelurahan ini, dirasakan sangat kurang untuk menampung sekitar 1.200 balita. Kebanyakan dari para orangtua mereka tidak menyadari pentingnya memberikan asupan gizi yang benar di masa tumbuh dan kembang anak. Mereka tidak memperhatikan pola makan dan makanan yang dikonsumsi tiap hari oleh anaknya. Dan ditambah dengan kurangnya pengetahuan tentang arti kebersihan bagi kesehatan anak.

"Para orangtua cenderung membiarkan anak-anaknya untuk jajan di luar rumah. Padahal kita tahu, jajanan itu banyak mengandung bahan pengawet, bahan pewarna, dan bahan perasa buatan yang tidak baik. Kebersihan makanan di luar rumah juga tidak terjamin di lingkungan seperti itu," paparnya. [MRS/Y-4]


Last modified: 25/1/08