
emiskinan dan penderitaan mewarnai kehidupan sehari-hari masyarakat Thailand selatan. Kebebasan dan keamanan menjadi barang mahal di sana. Aksi-aksi kekerasan bernuansa sektarian telah menorehkan citra kelam bagi kawasan ini.
Keamanan di wilayah perairan Thailand selatan juga jadi barang mahal. Maklum, letak yang sangat strategis di Selat Malaka menyebabkan wilayah itu rawan pembajakan dan berbagai aktivitas penyelundupan, mulai dari senjata hingga narkoba. Namun, kedamaian tetap diimpikan dan diperjuangkan oleh masyarakat di sana.
"Kami merindukannya," ungkap Ketua Advisory Council for Peace Building in the Southern Border Provinces, Aziz Benhawan, di sela-sela pertemuan dengan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, di Jakarta, Rabu (23/1).
Aziz Benhawan yang datang bersama 40 pejabat dan ulama dari lima provinsi di wilayah Thailand selatan, menuturkan betapa masyarakat di sana merindukan kedamaian.
Mayoritas warga di lima provinsi di Thailand selatan, yakni Narathiwat, Songkhla, Yala, Pattani, dan Setun, menganut Islam. Mereka keturunan Melayu dan mencakup 80 persen dari enam juta umat Muslim di Thailand. Seluruh penduduk Thailand mencapai 63 juta jiwa.
Islam, sebagaimana diketahui, adalah agama yang mengajarkan perdamaian. Sayang, kekerasan justru terbayang di benak orang apabila mereka berbicara tentang Thailand selatan.
Aziz Benhawan yang mencermati kehidupan umat Islam di Indonesia, mencermati bahwa keharmonisan umat beragama di sini tidak bisa dilepaskan dari peran besar dua organisasi Islam terbesar, yakni NU dan Muhammadiyah.
Karena itulah, menurut dia, sesungguhnya banyak hal bisa dipelajari masyarakat Thailand selatan dari dua organisasi Islam tersebut tentang bagaimana menyemai kerukunan umat. "Pencerahan bisa diperoleh masyarakat dari pengalaman dua organisasi ini, agar kedamaian dan keamanan bisa terwujud," harap Aziz Benhawan, dalam acara yang dihadiri pula oleh Duta Besar Thailand untuk Indonesia Akasit Amatyakul dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amidhan.
Resolusi konflik
Gagasan untuk saling bertukar pengalaman dan keterampilan sesungguhnya sudah disuarakan dalam kunjungan Din Syamsudin ke Thailand pada Juli 2007. Din berkunjung atas undangan pihak kerajaan dan bertemu Raja Thailand Bhumibol Adulyadej, Perdana Menteri Surayud Chulanont, Wakil Menteri Luar Negeri Sawanit Kongsiri, Jenderal Sonthi Bunyaratglin dan sejumlah gubernur dan ratusan ulama di Pattani.
"Kami menyimpulkan, ada harapan agar organisasi Islam di Indonesia, termasuk Muhammadiyah, dapat membantu penyelesaian konflik di Thailand selatan," ungkap Din.
Karena itulah, Pemerintah Thailand disarankan agar lebih mengedepankan kekuatan lunak dalam penyelesaian masalah di Thailand selatan. "Penggunaan hard power hanya mengundang aksi dan reaksi yang merugikan semua pihak," Din menilai.
Pendekatan dengan kekuatan lunak justru lebih bermanfaat. Salah satu yang diusulkan yakni pemberdayaan masyarakat di sana. Dalam hal ini, Muhammadiyah menawarkan tiga usulan. Pertama, pencerahan dakwah Islamiyah.
"Kami mengusulkan saling pertukaran guru dakwah. Inti dakwah yang ingin dikedepankan bahwasanya Islam adalah agama perdamaian, keadilan, dan kemajuan," ungkapnya. Kedua, revitalisasi pendidikan. Ketiga, pemberdayaan ekonomi.
Pemberdayaan bisa dimulai dengan membagikan pengalaman Muhammadiyah mengembangkan pendekatan keuangan mikro (micro finance institution). Ini semua didasarkan pada pandangan tentang Islam yang berkemajuan.
Prinsip Islam yang berkemajuan, bagi Din, merupakan salah satu prinsip yang dikembangkan oleh Muhammadiya. Pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan hampir seabad yang lampau. mengatakan iman dan Islam harus dinyatakan dalam amal perbuatan.
Ini yang mendorong Muhammadiyah melahirkan berbagai amal dan aktivitas pemberdayaan masyarakat, baik di bidang ekonomi, kesehatan, maupun pendidikan. [SP/Elly Burhaini Faizal]