
[ROMA] Perdana Menteri Italia Romano Prodi (68) mengundurkan diri, Kamis (24/1), setelah memimpin pemerintahan selama 20 bulan yang diwarnai berbagai tekanan. Prodi, pemimpin yang berhaluan tengah-kiri, mundur setelah menghadapi mosi tidak percaya dalam pemungutan suara di Senat.
Italia kemungkinan akan mempercepat pemilu atau membentuk pemerintahan sementara. Keputusan itu harus dibuat oleh Presiden Giorgio Napolitano yang akan berkonsultasi dengan sejumlah pemimpin politik Italia. Konsultasi akan dimulai Jumat (25/1) sore, akan dilakukan antara Napolitano dengan ketua Senat dan dewan deputi di Majelis Rendah. Prodi tetap menjabat sampai ada penjabat pengganti.
Presiden Napolitano tampaknya lebih memilih membentuk pemerintahan sementara. Tetapi, oposisi sayap kanan cenderung mendesak digelarnya pemilu baru.
Pemerintahan Prodi sejak awal sudah rentan. Ia semakin tak berdaya setelah ditinggalkan oleh Partai Katolik UDEUR yang beraliran tengah. Krisis demi krisis muncul di tubuh pemerintahan Prodi yang diawali pengunduran diri menteri kehakiman di kabinet Prodi, yakni pemimpin UDEUR Clemente Mastella. Mastella mundur setelah didakwa melakukan korupsi bersama istrinya. Baik Mastella maupun istrinya menyatakan mereka tidak bersalah.
Prodi kehilangan lima suara di Majelis Tinggi, 161-156 setelah debat sengit. Ketegangan menyelimuti ketika pemungutan suara berlangsung di Senat.
Prodi kembali ke panggung kekuasaan 20 bulan lalu setelah berhasil menang tipis atas pendahulunya, Silvio Berlusconi, orang terkaya di Italia sekaligus pemimpin kerajaan media di Italia.
Prodi diperkirakan bakal menangguk pujian atas upaya-upayanya mengatasi defisit belanja negara yang terjadi selama beberapa tahun Berlusconi berkuasa.
Italia mengalami defisit sekitar 2 persen dari produk domestik bruto (GDP) pada 2007. Angka itu jelas cenderung membaik jika dibandingkan defisit tahun 2006 yang mencapai 4,4 persen serta tingkat defisit serupa yang berlangsung di bawah pemerintahan Berlusconi dari kubu konservatif.
Ia menangguk pujian internasional atas kepemimpinannya sebagai Presiden Komisi Eropa. Meskipun disanjung dalam beberapa hal, Prodi juga kerap dipandang sebagai teknokrat yang kurang kharisma. Ia lebih nyaman mengayuh sepeda kesayangannya ketimbang tampil di televisi. Sebelumnya, Prodi telah memenangi pemilu pada 1996. Tetapi, pemerintahan koalisi tengah kiri Prodi yang pertama jatuh setelah dua tahun dan lima bulan berkuasa. Pemerintahan jatuh ketika ia kehilangan dukungan dari kubu Komunis, yang menolak upaya-upaya dia untuk melakukan reformasi pasar buruh dan pensiun. [AFP/E-9]