SUARA PEMBARUAN DAILY

"Washi Ningyo"

Menyulap Kertas Menjadi Boneka Cantik

SP/Ignatius Liliek

Sejumlah boneka Jepang "Shikishi Ningyo" karya peserta lokakarya.

Seni melipat kertas, origami memang sudah dikenal lama. Tetapi masyarakat Jepang tak hanya mengenal keterampilan Origami. Boneka washi ningyo adalah hasil keterampilan melipat kertas sehingga bisa menjadi boneka cantik dan lucu.

"Washi artinya kertas Jepang dan Ningyo berarti boneka," kata instruktur Wahsi Ningyo dari Japan Foundation, Ita Tunjung.

Di ruangan Japan Foundation Jakarta, Selasa (23/1), ada sekitar 30 orang peserta yang mengikuti workshop washi ningyo. Workshop ini merupakan rangkaian tiga workshop yang diadakan dalam rangka memperingati 50 tahun hubungan Indonesia-Jepang. Pembuatan washi ningyo bagi pemula tidaklah mudah, para peserta workshop bahkan menghabiskan waktu hampir tiga setengah jam untuk membuat satu washi ningyo.

"Susah membuatnya, washi ningyo harus buat dari berlapis-lapis kertasnya," kata Lala (22).

Membuat washi ningyo tidaklah semudah yang dibayangkan. Peserta membutuhkan ketekunan dan keterampilan khusus untuk membuat satu washi ningyo. Satu boneka wanita Jepang berpakaian kimono yang berukuran 15 centimeter itu membutuhkan 4 lembar kertas washi berbeda dengan 13 komponen. Membuat kimono washi ningyo saja dibutuhkan tiga lapis kertas washi bercorak.

"Washi ningyo ini hanya tiga lapis, kalau kimono aslinya bisa sampai tujuh lapis. Mungkin karena zaman dahulu sedang musim dingin sehingga model pakaian harus berlapis-lapis dan kainnya semakin tebal," kata Ita.

Harga kertas Jepang yang digunakan untuk membuat washi ningyo tergolong sangat mahal. Untuk satu lembar keras washi, per lembarnya bisa mencapai Rp 200 ribu dengan ukuran 60 x 90 cm. Na- mun, jika tidak mampu membeli, jangan khawatir, masih bisa menggunakan kertas kado.

"Tapi kertas harus yang berserat agar ketika dilipat tidak berbekas sehingga terlihat natural," kata Ita.

Lain lagi motivasi seorang peserta bernama Prisillia (13). Keterampilan cara membuat washi ningyo yang unik membuatnya ingin tahu lebih dalam.

"Penasaran cara buat washi ningyo. Di sekolah, saya sudah pernah diajari membuat boneka kertas Jepang tapi yang ini beda, lebih bagus dan dikasih tahu polanya juga," kata siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) Grace, Jakarta itu.

Keunikan kebudayaan Jepang juga membawa seorang pengusaha Berry (40) mengikuti ketiga workshop tersebut. Workshop sebelumnya adalah membuat origami dan daruma (boneka khusus tahun baru).

"Saya suka dengan kebudayaan Jepang dan tertarik mengenal budaya dan karakter orang Jepang. Washi ningyo adalah sebuah karya seni jika ditekuni dengan baik mungkin dapat menjadi prospek usaha yang menguntungkan," kata Berry.

Selesai membuat washi ningyo, boneka cantik wanita Jepang itu direkatkan pada sikishi (alas karton bergambar) sehingga washi ningyo dapat dipajang di dinding.

Washi ningyo bukanlah sembarang boneka yang dapat dimainkan, sekalipun umumnya menjadi pajangan dinding rumah.

Tradisi membuat washi ningyo sudah ada sejak zaman Heian (794). Washi ningyo ketika itu dibuat untuk mengisi waktu dalam acara minum teh. Washi ningyo menjadi alternatif murah sebagai pengganti hina matsuri (boneka patung) karena harganya yang sangat mahal.

Tokoh hina matsuri atau washi ningyo beragam seperti tokoh keluarga kerajaan Jepang yaitu raja dan permaisuri, tokoh kabuki, hingga gadis kecil berpakaian kimono.

Hina matsuri diberikan kepada keluarga Jepang yang memiliki anak perempuan. Hina matsuri menandakan bahwa dalam keluarga tersebut memiliki anak perempuan.

Hina matsuri dipercaya membawa keberuntungan bagi anak perempuan dalam suatu keluarga. Setiap bulan Februari hingga 3 Maret semua boneka hina matsuri dan washi ningyo dipamerkan dan dipajang di ruang tamu. Tradisi itu dilakukan dalam rangka menyambut festival Hina Matsuri atau girl festival.

Pada festival Hina matsuri itu, keluarga bangsa Jepang mendoakan anak perempuannya agar selamat dan bahagia. Sebelum 11 Maret, hina matsuri harus segera disimpan kembali. Menurut kepercayaan Jepang, jika hina matsuri tidak disimpan sebelum 11 Maret, anak perempuan dalam keluarga itu akan menjadi perawan tua.

"Sampai hari ini, warga Jepang suka membuat washi ningyo. Sayangnya, anak-anak muda Jepang tidak lagi mau membuat washi ningyo. Mereka lebih suka bermain game," kata Ita. [DLS/U-5]


Last modified: 25/1/08