![]()
SP/Ferry Kodrat
Zhou Chunya bersama salah seorang pengunjung pameran berpose di depan salah satu lukisan.
"Auuuu...guk.. guk... guk...". Begitulah budayawan yang juga Rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Profesor Sardono W Kusumo menirukan suara anjing yang melonglong lalu menggonggong, sebelum membuka pintu sebagai prosesi pembukaan pameran lukisan dan patung karya pelukis ternama Tiongkok, Zhou Chunya di Galeri Nasional, Jakarta, Rabu (23/1) malam.
Pameran yang bertajuk "Green Dog" atau "Anjing Hijau" tersebut menyedot perhatian banyak orang, khususnya pencinta seni lukis dan patung Indonesia. Terbukti, para tamu yang datang bukan saja yang berdomisili di Jakarta, melainkan juga kota-kota besar lainnya di Indonesia seperti Bandung, Medan, Surabaya.
Kehadiran "Anjing Hijau" itu memang cukup menggegerkan. Sebelum membuka pameran, Sardono mengungkapkan kekagumannya pada karya-karya Zhou. Karya-karya Zhou dinilai sebagai mahakarya dari seseorang yang sangat berkarakter. Karya yang muncul dari hubungan fisik atau hati, yang menjadikan seekor anjing bukan sekadar hewan.
"Saya amati ada suatu power nature pada karya-karya Zhou. Kalau saya melihat patungnya, di dalamnya terbersit sebuah bayangan di mana dia sedang bergelut dengan anjingnya. Ya, ada suatu keakraban," kata Sardono.
Pujian juga diucapkan kurator Jim Supangkat. Zhou dianggap seniman yang unik. Kepedulian Zhou pada budaya tradisional negerinya cukup kuat. Juga, pada masalah-masalah yang rasional.
Neo Expressionisme Jerman yang diperoleh Zhou selama menuntut ilmu di Sesamt Hoshchule Kassel Fachbereichkunt, Jerman tahun 1986 hingga 1989, diterjemahkannya secara kultural ketika membangun konsep karya-karyanya. Memang berisiko. Tetapi, kepekaan Zhou pada budaya tradisional membuat dia semakin percaya pada elemen rupa, sehingga di kalangan dunia Barat pun, karya-karya Zhou disebut modernis.
"Karya-karya Zhou mencerminkan genre yang memperlihatkan kepercayaan-kepercayaan mendasar tentang seni di dunia non-Barat. Padahal sebelumnya, karya-karya seperti ini tidak bisa diterima di pentas seni internasional. Zhou telah menemukan jawabannya lewat Green Dog-nya," ujar Jim.
Memang, kalau melihat dari delapan lukisan ekspresionis berukuran besar, 200 x 250 cm, serta 11 patung Green Dog yang dipamerkan di Galeri Nasional tersebut, dia seolah-olah percaya, ekspresi karyanya bisa bicara secara bebas tanpa penjelasan faktor eksternal. Zhou cenderung mengembangkan persoalan rupa dalam berkarya. Seperti mengolah tekstur, warna, garis, dan tekanan kuasnya. Menurut pelukis muda beraliran ekspresionis Indonesia, Donovan Phity, dalam melukis, Zhou memiliki tenaga yang kuat dalam memainkan kuasnya.
"Lukisan-lukisan yang dipamerkan ini hanya sekali sentuhan kuas saja, namun sentuhannya sangat bertenaga, serta memiliki tingkat kesulitan yang tinggi dan sangat berisiko," katanya.
Inspirasi Zhou menjadikan anjing tema lukisan dan patungnya datang dari seekor anjing herder yang dihadiahkan seorang teman pada tahun 1995. Anjing itu diberi nama Hei Gen. Zhou sangat menyayangi anjing itu, sehingga ke mana pun pergi selalu bersama anjingnya, termasuk di kala tidur.
Hubungan emosional yang sangat dekat itulah yang mengilhami Zhou untuk memainkan warna, sapuan kuas, serta membuat jejak-jejak lukisan anjing di tahun 1997. Dua tahun kemudian, dia sempat berhenti melukis "anjing hijau" setelah kematian Hei Gen. Barulah pada tahun 2001, Zhou bangkit dan kembali melukis "anjing hijau".
Seorang pengusaha muda H Iswahyudi Azhari yang menggemari karya Zhou mengaku tertarik dengan lukisan Zhou sejak tahun 2007. Tepatnya, ketika Zhou menggelar pameran di Kota Beijing, Tiongkok. Dia pun membeli satu lukisan seharga Rp 2,5 miliar. Lukisan itu bergambar dua anjing herder betina dan jantan berwarna hijau dengan ukuran 120 x 150 cm.
"Saya menyukai lukisan Zhou karena saya tertarik dengan kekuatan karyanya yang memberikan warna hijau pada anjing. Mana ada di dunia ini anjing berwarna hijau. Selain itu, tarikan kuasnya di atas kanvas pun sangat bertenaga sekali," kata Iswahyudi yang masih menyimpan lukisan itu di rumahnya. [F-4]