
engupas keunikan dan keindahan Vietnam tidak ada habisnya. Tetapi seniman selalu punya cara mengangkat sisi lain keindahan Vietnam. Demikian pula, Truong Tan Dung, yang menampilkan keunikan "wanita Saigon" dalam setiap kanvasnya.
Pameran lukisan yang bertema All About Miss Saigon tersebut tidak hanya memperlihatkan kecantikan wanita Saigon, tetapi juga keanggunannya. Truong memamerkan sekitar 45 lukisan wanita di Vietnam yang diilustrasikan sebagai kaum pekerja di masyarakat urban dan pedesaan Vietnam. Lukisan-lukisan beraliran pop kontemporer itu dipamerkan di sepanjang lobi Four Seasons Hotel dan berlangsung hingga 15 Maret 2008.
Harvest, lukisan karya Truong Tan Dung menggambarkan sejumlah wanita sedang menyemai padi. Truong juga menginterpretasikan ketulusan wanita Saigon dengan melukiskan pakaian tradisional Vietnam berwarna putih. Selain itu, Truong mengusung tema lingkungan pedesaan tradisional dengan sentuhan karya seni lukis modern. Hal itu terpancar dalam lukisannya yang berjudul Rice Field, wanita dilihat sebagai pekerja tradisional yaitu bertani.
Keindahan Vietnam pun muncul lewat gaya lukisan minimalis dan impresionis. Kesan minimalis terlihat dalam lukisan pria kelahiran 1 Juli 1971 berjudul Cycling in White, yang hampir semua kanvas berwarna putih dan hanya sekitar lima persen yang memuat sosok wanita sedang bermain sepeda.
"Gambar kanvas sengaja dibuat luas oleh Truong sehingga peminat lukisan bebas bereksplorasi dan menginterpretasikan objek di balik lukisan tersebut. Truong tidak ingin membatasi atau mengarahkan peminat dengan objek gambar sesuai dengan yang diinginkannya," kata Manager Marketing dan Promosi Soka Gallery, Royke Julius.
Minimalis dan kesederhanaan lukisan Truong seolah memberitahu para pencinta seni bahwa melukis adalah hal yang mudah. Seorang pengunjung pameran, Enot (55) mengatakan, lukisan Truong sederhana, sehingga bisa dinikmati.
Berbagai Media
Lukisan wanita pedesaan Saigon yang tidak kalah menawan juga dituangkan dalam kanvas oleh pelukis populer Vietnam lainnya, Pham Hoang Anh. Pham melukis masyarakat tradisional Vietnam dalam berbagai media, seperti cat minyak, akrilik, dan cat air pada kain sutra. Lukisan-lukisannya didominasi warna merah.
Lukisan Pham yang berjudul Playing Tradisional Music 1 dan 2 menggambarkan seorang wanita plontos berpakaian tradisional Vietnam sedang memainkan alat musik petik. Pham, lulusan Universitas Seni Rupa Hue, mengartikulasikan wanita tanpa rambut sebagai bentuk ciri khas ilustrasi wanita.
"Pham meniadakan rambut wanita karena dia ingin para pencinta seni dapat mengartikulasikan sendiri keindahan mahkota pada wanita itu," kata Royke.
Lukisan lain yang dipamerkan adalah karya Profesor Le Xuan Chieu. Lukisannya menggambarkan aktivitas di pasar tradisional Vietnam dengan judul Market. Sementara, lukisan cat Chieu menggambarkan kaum minoritas perempuan yang tinggal di daerah pegunungan dengan pemandangan yang sangat indah.
Menurut Royke, pameran lukisan karya pelukis Vietnam digelar karena secara geografis dekat dengan Indonesia. Diharapkan, ujarnya, pameran tersebut bisa memicu dan menstimulasi pelukis Indonesia untuk berani mengeksplorasi warna dan mengangkat tema masyarakat tradisional pedesaan.
"Diharapkan pameran ini dapat mengisi kekosongan lukisan pop kontemporer dengan lukisan-lukisan yang berfokus pada masyarakat urban atau pedesaan yang seringkali diabaikan oleh pelukis Indonesia saat ini," katanya. [DLS/N-4]