[JAKARTA] Target Pertamina untuk menaikkan produksi minyak mentah sebesar 26 persen tahun 2008 dinilai pengamat perminyakan Kurtubi tidak realistis, karena target 2007 saja sebesar 155.000 barel per hari (bph) tidak tercapai. Pertamina hanya mampu memproduksi 143.000 bph.
Direktur Hulu PT Pertamina Sukusen Soemarinda akan melakukan beberapa upaya untuk mencapai target produksi minyak 2008 sebesar 181.000 bph. Pernyataan tersebut disampaikan dalam jumpa pers, di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Kamis (24/1).
Dia menjelaskan, upaya yang dilakukan untuk mencapai target yakni dengan mengintensifkan ladang-ladang minyak dan gas (migas) di daerah primadona Pertamina. Selain itu, usaha untuk menemukan cadangan baru juga sedang digalakkan oleh Pertamina.
Terkait target produksi minyak tersebut, pengamat perminyakan Kurtubi menilai nyaris mustahil dan sepertinya Pertamina tetap akan sulit mencapai target. Pasalnya, produksi minyak yang rendah saat ini adalah dampak dari investasi yang rendah selama 3-4 tahun yang lalu.
"Target itu terlampau tinggi, apalagi belum ada upaya signifikan untuk mencapainya. Mengandalkan ladang migas primadona Pertamina seperti Blok Cepu dan Pondok Tengah, Bekasi tak akan bisa mencapai target dalam waktu sesingkat itu," katanya kepada SP ,Kamis (24/1) malam.
Blok Cepu yang menjadi andalan Pertamina, tuturnya, baru mulai berproduksi tahun 2009. Total produksi minyak yang dihasilkan pada produksi pertama hanya mencapai sekitar 10.000 bph. "Blok Cepu akan menghasilkan sekitar 100.000 bph setelah tahun 2012, jadi tidak mungkin dalam waktu singkat akan menghasilkan ribuan barel minyak," tambahnya.
Dia menjelaskan, produksi minyak di Pondok Tengah, Bekasi yang sempat diunggulkan oleh Pertamina setahun yang lalu karena produksinya mencapai 20.000 bph. Tetapi realisasi produksinya tidak mencapai angka tersebut, hanya sekitar 4.000 bph.
Langkah yang paling signifikan untuk mencapai target tersebut, menurut Kurtubi, dengan menemukan cadangan ladang migas baru dan meningkatkan produksi lapangan-lapangan yang sudah tua. "Tetapi lapangan-lapangan tua di daerah operasi Sumatera Utara, Jambi, Cepu, Kalimantan Timur, dan Papua itu sudah menurun produktivitasnya," ujarnya.
Tetapi menurut Sukusen, peningkatan produktivitas ladang migas tua akan diatasi dengan penerapan teknologi baru. Salah satu teknologi tingkat lanjut yang diterapkan yakni Enhanced Oil Recovery (EOR) yang dinilai dapat mengaktifkan kembali ladang migas yang sudah tidak beroperasi aktif.
Menanggapi penerapan EOR, Kurtubi menjelaskan memang teknologi itu cukup membantu untuk mengaktifkan kembali ladang migas yang turun produksinya. Namun, penerapan teknologi tersebut tidak bisa langsung dilihat hasilnya.butuh waktu kira-kira 2 hingga 3 tahun
Selain program pengaktifan kembali ladang tua, Pertamina berusaha menemukan cadangan minyak baru. Sukusen menuturkan dalam Laporan Kinerja Hulu 2007 dan Target 2008, hasil temuan cadangan baru pada 2007 mencapai 124 juta barel minyak ekivalen. [MYS/M-6]