![]()
SP/YC Kurniantoro
Menteri Pertanian, Anton Apriyantono (kiri), memaparkan pemikirannya saat berdiskusi dengan jajaran redaksi Suara Pembaruan di Jakarta, Kamis (24/1). Diskusi antara lain membahas masalah ketahanan pangan dan melonjaknya harga sejumlah bahan pangan.
[JAKARTA] Departemen Pertanian menaikkan target produksi kedelai tahun ini menjadi 1,2 juta ton atau 60 persen dari total kebutuhan kedelai dalam negeri. Jumlah produksi diharapkan terus meningkat sehingga pada tahun 2011 nanti, swasembada kedelai sudah tercapai dengan produksi sedikitnya 90 persen dari total kebutuhan yang diperkirakan akan mencapai 2,2 juta ton pada saat itu.
Demikian Menteri Pertanian Anton Apriyantono saat berdiskusi dengan jajaran redaksi SP, Kamis (24/1) malam.
Untuk mencapai target tersebut Departemen Pertanian menyiapkan tiga langkah yakni intensifikasi produksi, ekstensifikasi lahan, serta jaminan pasar dan harga.
Lebih lanjut Mentan mengatakan, intensifikasi dilakukan dengan penyediaan benih kedelai unggul yang akan diberikan secara gratis kepada petani. Pemerintah juga akan menyediakan pupuk hayati maupun pupuk organik untuk menjaga produktivitas kedelai agar tetap unggul.
Intensifikasi juga dilakukan dengan memberikan pendampingan dan penyuluhan teknologi budi daya. Pemerintah juga mendukung penuh pembiayaan untuk petani termasuk menyediakan jaminan bank jika petani berniat meminjam modal ke Bank. Khusus mengenai permodalan, Deptan sudah menyiapkan skim pembiayaan melalui lembaga keuangan mikro (LKM) yang dibentuk di tingkat desa yang nantinya akan menjadi lembaga keuangan mitra bank. LKM dibentuk untuk menghilangkan hambatan administrasi yang kerap dihadapi petani selama ini.
Dengan penanganan yang intensif, Mentan yakin produktivitas kedelai lokal akan meningkat tajam menjadi mendekati 3 ton per hektar. Jika produktivitas naik maka produksi nasional pun akan meningkat sesuai dengan target pemerintah.
Selain itu pendapatan petani pun bisa meningkat marjin keuntungan lebih dari Rp 6 juta per musim tanam.
Langkah berikutnya adalah dengan melakukan ekstensifikasi lahan untuk penanaman kedelai tanpa harus mengganggu lahan untuk padi dan jagung. Deptan menyiapkan 10 provinsi sebagai sentra kedelai nasional yaitu NAD, Sumatera Utara, Jambi, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara.
"Sentra-sentra kedelai lama akan kami hidupkan kembali, sambil membangun sentra-sentra-sentra produksi kedelai baru," ujar Anton.
Untuk perluasan lahan tersebut, Deptan sudah menggandeng pihak swasta untuk mengembangkan sentra kedelai dengan mempertimbangkan ketepatan agroekologi daerah. saat ini sudah ada BUMN yang siap mengembangkan kedelai yakni PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X dan Perhutani, maupun pihak swasta.
"Sedikitnya ada 50 ribu hektar lahan yang disiapkan untuk kedelai yang dikembangkan perusahaan swasta maupun BUMN," ujar Anton.
Bulog
Sementara itu langkah ketiga untuk jaminan pasar dan harga kedelai, Deptan akan menggandeng Bulog sebagai lembaga penampung produksi kedelai petani dengan tingkat harga yang menguntungkan petani. Saat ini disepakati harga di tingkat petani sekitar Rp 5.500 sedangkan harga jual ke pengrajin sekitar Rp 6.000 - Rp 6.500.
Bulog siap menyerap kedelai petani seperti halnya pada komoditas beras. Jika pada suatu waktu diperlukan, Bulog bisa mengeluarkan stoknya untuk menstabilkan harga. Pemerintah juga menetapkan mekanisme pembatasan impor menggunakan instrumen bea masuk.
Jika produksi kedelai petani melimpah atau harga kedelai impor murah, maka bea masuk kedelai harus dinaikkan. BM bisa diturunkan jika harga kedelai impor melonjak tajam sehingga mempengaruhi stabilitas kedelai didalam negeri, ujar Mentan. [L-11]