SUARA PEMBARUAN DAILY

SUARA PEMBACA

Suara pembaca dikirim melalui email opini@suarapembaruan.com atau Faks ke redaksi, disertai alamat lengkap dan fotocopy identitas yang masih berlaku

Tanggapan dari HSBC

Terkait dengan suara pembaca di SP (21/1) dengan judul "HSBC Mengecewakan" yang disampaikan Ibu Diana Kertanegara di Kebayoran Baru Jakarta, perlu kami sampaikan bahwa pihak HSBC telah menghubungi Ibu Diana Kertanegara secara langsung tanggal 17 Januari 2008 dan kedua belah pihak telah menyelesaikan permasalahan ini dengan baik.

Atas nama HSBC kami ingin menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan Ibu Diana Kertanegara. Kami mengucapkan terima kasih atas semua kritik dan saran yang diberikan untuk perbaikan pelayanan di masa mendatang.

Agung Laksamana

Senior Vice President Marketing Communications & Public Affairs HSBC Indonesia

Mohon Penjelasan Menteri Pertanian

Kami sangat kecewa dengan manajemen negara ini yang sangat amburadul dalam menangani masalah-masalah pertanian. Pertanyaan kami : Mengapa negara agraris yang katanya gemah ripah lohjinawi tata tentrem kerta raharja, soal budidaya komoditas pertanian, ternyata hasilnya nol besar, bahkan minus ?

Krisis kedelai menjadi salah satu bukti betapa pemerintah tidak memiliki tidak adanya sense of crisis. Sudah paham betul bahwa tahu-tempe merupakan makanan sehari-hari yang menjadi hajat hidup orang banyak, pejabat kita malahan sibuk mencari alasan sambil mempersalahkan mengapa petani tidak menanam kedelai ? Buntutnya diambil solusi jangka pendek (dengan masalah baru) yaitu impor.

Prihatin dengan fenomena seperti ini, maka perkenankan melalui forum suara pembaca ini kami mengajukan pertanyaan sekaligus permohonan kepada pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yu- dhoyono, dalam hal ini Menteri Pertanian Anton Apriyantono untuk menjelaskan kepada publik, bagaimana langkah-langkah jitu pemerintah untuk mengatasi krisis kedelai, serta krisis-krisis komoditas pertanian lainnya mengingat kini harganya merangkak naik ?

Mudah-mudahan jawaban simpatik dari Pak Menteri dapat memulihkan kepercayaan publik terhadap buruknya kinerja pejabat di lingkaran pemerintah.

Libera Saturnus

Koordinator KEPEPET (Kelompok Peduli Petani) Jakarta

Rakyat Kecil Selalu Tergusur

Entah mengapa, sejak dahulu, kebanyakan dari korban penggusuran adalah rakyat kecil. Jika tidak rumah mereka, bangunan usaha milik mereka digusur. Mungkin benar bahwa mereka tidak memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB), tapi apakah harus dilakukan penggusuran secara paksa seperti yang telah terjadi selama ini?

Masalahnya adalah penggusuran yang banyak terjadi, tidak menyelesaikan masalah yang ada, malah justru menambah masalah menjadi kian pelik. Itu semua dikarenakan pemerintah tidak memberikan tempat baru kepada korban penggusuran. Bila ada tempat baru pun, tidak memadai atau kadang tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan.

Seperti penggusuran Pasar Barito, para pedagang mengatakan bahwa kios baru yang dijanjikan pemerintah belum jadi, belum siap pakai, belum ada air, dan sebagainya. Padahal, semua pedagang di sana harus segera berjualan untuk menyambung hidupnya. Banyak pedagang yang terpaksa menutup usahanya. Pengangguran bertambah. Pada kasus lain, banyak orang yang tidak lagi memiliki tempat tinggal. Jika yang terjadi seperti ini, jelas bukan menyelesaikan masalah, malah semakin menjadi-jadi. Ini sama saja seperti memindahkan masalah dari satu tempat ke tempat yang lain.

Dengan alasan ingin membangun taman, pemerintah menggusur rakyat kecil. Tapi di lain pihak, di tengah maraknya penggusuran, bangunan mewah seperti mal dan apartemen terus dibangun. Kalau memang pemerintah ingin membangun taman, seharusnya pemerintah membatasi pembangunan gedung-gedung bertingkat yang memakan banyak tanah resapan air, bukan menggusur tempat usaha atau tempat tinggal rakyat kecil yang hanya beberapa meter persegi. Jika pembangunan gedung bertingkat bisa dibatasi, tentu saja taman yang akan dibangun bisa menjadi lebih luas.

Saya rasa, tidak adil jika rakyat kecil terus-menerus diteror oleh penggusuran, kecuali jika ada solusi yang bisa diberikan pemerintah untuk mereka. Dan tentunya, saya berharap ada langkah baik dari pemerintah untuk memikirkan nasib mereka yang tergusur.

Gadis

Jalan Alam Pesanggrahan VI/3 Cinere, Jakarta Selatan

Hati-hati dengan Iklan

Sebagai perempuan lajang berusia 30-an saya merasa kesulitan mencari pasangan hidup yang cocok. Bahkan saya punya anggapan bahwa kredibilitas seorang wanita, sehebat apa pun tidak ada jaminan dia bisa menemukan pasangan hidup dengan mudah. Menyadari hal itu, maka dalam satu tahun terakhir saya mencoba peruntungan dalam mencari pasangan hidup dengan beriklan di surat kabar sebagai alternatif usaha yang terakhir, tentunya setelah segala cara pernah dicoba.

Di luar dugaan, setelah dua kali beriklan di surat kabar dengan 12 kali tayang sepanjang tahun 2007, ternyata peminat yang menanggapi iklan saya cukup banyak. Tapi kesimpulannya adalah 80 persen peminatnya adalah pria iseng yang sebagian di antaranya sudah berkeluarga. Lima persen peminat yang lain adalah pria serius yang juga mencari pasangan hidup, tetapi sulit sekali mencari kesepakatan. Lima belas persen lainnya adalah wanita lajang yang berusia 35-48 tahun yang ingin mencari sahabat untuk curhat karena juga kesulitan mencari pasangan hidup.

Asal tahu saja, wanita lajang ini rata-rata mampu hidup mandiri dan sebagian besar memiliki profesi dan karier cukup mapan. Dari kejadian ini, saya berharap agar pembaca berhati-hati jika ingin beriklan di surat kabar untuk urusan yang sama. Selain rugi biaya iklan, juga boros pulsa untuk menangani banyaknya peminat.

Akhirnya saya tahu bahwa untuk menggapai cita-cita mulia, semua usaha, segala pengorbanan dan sejuta doa tidak pernah cukup untuk menjamin keberhasilannya. Kita masih perlu mengolah kesabaran hingga tanpa batas.

Titian_ku@yahoo.com


Last modified: 25/1/08