
Ki Supriyoko
uatu saat saya dikontak oleh teman yang tengah berada di Hong Kong. Ia adalah pejabat Depdiknas yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan ujian nasional. Dari Hong Kong ia mengabarkan tengah berpartisipasi dalam "The IEA General Assembly Meeting" yang diikuti puluhan negara karena keterlibatannya pada forum Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) dan Progress In International Reading Literacy Study (PIRLS).
Pada dasarnya TIMSS merupakan studi internasional yang diselenggarakan empat tahun sekali dan bertujuan mengetahui perkembangan kemampuan matematika dan sains para pelajar di berbagai negara. Sedang PIRLS adalah studi internasional bidang membaca pada anak-anak di berbagai negara. Kedua momentum ini diselenggarakan The International Association for The Evaluation of Educational Achievement (IEA) di Belanda.
Pertemuan seperti yang berlangsung di Hong Kong, "The IEA General Assembly Meeting", diselenggarakan setiap tahun untuk meningkatkan koordinasi antarnegara partisipan. Amiens (2006), Helsinki (2005), Taipei (2004), dan sebagainya adalah tempat-tempat yang pernah digunakan pada pertemuan sebelumnya.
Delapan tahun yang lalu, 1999, Indonesia sudah terlibat dalam kegiatan TIMSS. Putaran berikutnya, 2003, Indonesia pun kembali mengikuti forum yang bergengsi bagi masyarakat matematika dan sains di tingkat internasional itu. Dan putaran yang berikutnya lagi, 2007, Indonesia juga melibatkan diri dengan menyertakan ribuan siswa.
Bagaimana prestasi siswa Indonesia dalam ajang pentas matematika dan sains dunia tersebut? Memprihatinkan, karena baik dalam TIMSS 1999 maupun TIMSS 2003 prestasi siswa Indonesia hanya berada pada peringkat di atas 30 dari 30-an dan 40-an negara. Ini berlaku baik di bidang matematika maupun sains.
Untuk tingkat SMP dalam TIMSS 1999, misalnya, dari 38 negara parti-sipan siswa Indonesia hanya di ranking ke-34 bidang matematika. Empat negara di bawah kita, Chili, Marokko, Filipina, dan Afrika Selatan. Lima negara terbaik adalah Singapura, Korea Selatan, Taiwan, Jepang, dan Belgia. Untuk bidang sains, siswa Indonesia hanya mampu menempati urutan ke-32 dari 38 negara. Lima negara terbaik adalah Taiwan diikuti oleh Singapura, Hongaria, Jepang, dan Korea Selatan.
Bagaimana dengan TIMSS 2003? Sama saja! Kali ini siswa Indonesia hanya pada ranking ke-35 dari 46 negara partisipan bidang matematika. Untuk sains, siswa Indonesia hanya di tangga ke-37 dari 46 negara.
Melihat posisi Indonesia yang berada di papan bawah, baik dalam TIMSS 1999 maupun TIMSS 2003, terlihatlah daya saing siswa Indonesia memang rendah khususnya di bidang matematika dan sains.
Jangan membandingkan diri dengan negara maju, seperti, AS, Inggris, dan Hong Kong. Dengan negara tetangga, seperti, Australia, Malaysia, dan Singapura saja kita berada jauh di bawahnya. Dalam TIMSS 2003 ketika siswa Indonesia hanya di ranking ke-35 maka siswa Australia berada di ranking ke-14 dan Malaysia ke-10, sedangkan siswa Singapura menyabet predikat "kampiun".
Belasan Tahun
Apakah dalam TIMSS 2007 yang hasilnya baru akan dipublikasikan prestasi siswa Indonesia bisa meningkat? Kemungkinan meningkat tentu saja bisa kalau sistem pendidikan kita memang mendukung. Kalau mutu guru-guru matematika dan IPA diperbaiki, kualitas proses pembelajaran diperbaiki, dan keseriusan siswa mengikuti pelajaran juga dibina mengapa kita tidak naik kelas?
Meski kemungkinan naik peringkat itu ada, tetapi tidak mungkin terjadi secara skipping up alias meloncat ke papan atas. Benar, siswa Indonesia memenangi Olimpiade Matematika dan Fisika di berbagai kesempatan, namun harus diingat bahwa dalam momentum olimpiade tersebut siswa kita yang berhasil sifatnya individual, sedangkan dalam TIMSS sifatnya kolekif. Dalam TIMSS 2003, misalnya, lebih dari 5.000 siswa Indonesia dilibatkan dalam pengujian. Jadi, momentum ini lebih representatif dan lebih menggambarkan kualitas siswa Indonesia.
Memperbaiki peringkat siswa artinya harus memperbaiki sistem pendi-dikan matematika dan IPA di Indonesia secara keseluruhan. Tidak mungkin kita mengkarantinakan jutaan siswa untuk diberi perlakuan khusus sebagaimana dilakukan terhadap siswa yang akan mengikuti Olimpiade Matematika dan Fisika. Berapa triliun rupiah biaya yang harus dikeluarkan, di samping masalah teknis lain yang tidak memungkinkan.
Meskipun prestasi siswa Indonesia dalam TIMSS diperkirakan masih rendah, saya tetap mendorong Depdiknas agar Indonesia tetap setia berpar-tisipasi. Dari forum itu secara obyektif kita akan tahu sejauh mana daya saing siswa kita di forum internasional. Nah, kalau hasilnya benar-benar masih rendah, sebagaimana yang diperkirakan, hal itu bisa digunakan sebagai cambuk untuk memacu prestasi siswa Indonesia.
Penulis adalah pamong Tamansiswa dan Pembina Sekolah Unggulan "Insan Cendekia" Yogyakarta