Oleh Ayu Lathifah
ahun lalu Jakarta dilanda leptospirosis. Penyakit yang biasa disebut "kencing tikus" ini merenggut nyawa warga ibukota. Bukan tidak mungkin peristiwa itu akan kembali menelan korban, tak hanya di Jakarta, tapi juga di wilayah lain di Tanah Air, mengingat banjir melanda beberapa daerah.
Penyakit yang di Indonesia populer dengan nama demam banjir ini adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan suatu jasad renik tertentu yang dinamakan Leptospira sp., sebuah mikro organisme berbentuk spiral. Di beberapa negara, leptospirosis dikenal dengan nama demam icterohemorrhagic, demam lumpur, penyakit Stuttgart atau demam canicola. Bakteri leptospira bisa terdapat di genangan air saat iklim panas dan terkontaminasi oleh urin binatang. Leptospirosis dapat menyerang manusia atau hewan dan digolongkan sebagai penyakit zoonosis. Artinya menular dari hewan ke manusia.
Penyakit leptospirosis masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat terutama di negara tropis dan sub-tropis di negara berkembang. Hal ini akibat, antara lain, curah hujan tinggi, kesehatan lingkungan yang kurang baik, terutama terkait dengan masalah sampah.
Kejadian leptospirosis di Indonesia cukup tinggi dan angka kematian karena penyakit ini cukup besar. Indonesia menempati peringkat ketiga di dunia. Munculnya penyakit yang masih asing di telinga awam ini disebabkan banyaknya tikus mati yang terbawa arus banjir, terutama karena urin hewan tersebut mengandung bakteri leptospirosis. Sebenarnya, leptospirosis bukanlah penyakit baru. Hanya masyarakat awam dan tim medis sering salah diagnosa dan mengira penyakit ini sebagai sakit kuning atau demam biasa.
Petani, pengelola kebun, pekerja pembersih tinja, dokter hewan, dan kalangan militer adalah jenis pekerjaan yang riskan terhadap penyakit ini. Ancaman berlaku juga bagi mereka yang mempunyai hobi melakukan aktivitas di danau atau sungai, seperti berenang dan rafting. Namun, bukan tidak mungkin penyakit ini menyerang manusia akibat kondisi, seperti, banjir, air bah, atau saat air konsumsi sehari-hari tercemar oleh urin hewan.
Dalam sejarah, Hawaii merupakan kawasan di mana kasus leptospirosis mewabah. Wilayah tropis yang banyak mengalami curah hujan menjadi sasaran empuk berkembang-biaknya bakteri leptospira. Di Amerika Serikat tercatat sebanyak 50 sampai 150 kasus leptospirosis setiap tahun.
Di Indonesia, demam banjir sudah sering terjadi di beberapa daerah, seperti, Klaten, Demak atau Boyolali. Bakteri leptospira juga berkembang-biak di daerah pesisir pasang surut, seperti, Riau, Jambi, dan Kalimantan. Walaupun musim hujan telah lewat di Jakarta diharapkan masyarakat tetap waspada terhadap penyakit ini. Terutama waspada terhadap genangan air kotor, seperti, di kali, got, comberan, dan sebagainya.
Untuk menghindari penyakit mematikan ini sebaiknya warga menjauhi tempat di mana air menggenang terlalu lama. Daerah tropis diketahui sebagai tempat subur mewabahnya penyakit ini. Kalau seseorang berada di situasi tak terelakkan dari genangan air maka sebaiknya mengonsumsi doxycycline, semacam antibiotik pencegah infeksi bakteria.
Gejala Tertentu
Masa inkubasi leptospirosis 2-26 hari. Bakteri ini dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui kulit yang terluka atau secara tak sengaja menelan air yang terkontaminasi. Sekali berada di aliran darah, bakteri ini bisa menyebar ke seluruh tubuh dan mengakibatkan munculnya gejala tertentu.
Orang yang terinfeksi leptospirosis akan terkena demam, sakit kepala, kedinginan, mual, muntah-muntah, radang mata dan nyeri otot. Kondisi ini biasanya diikuti dengan mata memerah yang lama-kelamaan menjadi kuning. Demikian juga pada kulit. Karena itu masyarakat awam sering menyangkanya sebagai sakit kuning.
Gejala ini bisa terlihat 10 hari setelah infeksi terjadi. Pada tahap parah orang itu bisa mengalami kerusakan lever, gagal ginjal, dan pendarahan internal. Ini disebabkan oleh komplikasi yang terjadi pada tubuh sehubungan dengan kerusakan organ . Jika dibiarkan bisa berakibat kematian.
Organ tubuh yang sering diserang adalah hati, otak, dan ginjal. Kematian bisa terjadi jika penderita tidak segera ditangani oleh ahli medis. Jatuhnya korban jiwa di Jakarta bisa jadi akibat diagnosa yang salah atau penanganan terlambat.
Banyak petugas kesehatan yang masih belum memahami tentang penyakit ini. Oleh sebab itu gejala penyakit ini harus benar-benar diketahui oleh petugas kesehatan untuk menghindari terjadinya kesalahan diagnosa.
Untuk bisa mendiagnosa penyakit ini diperlukan tes darah khusus. Penderita demam banjir ini biasanya memiliki kandungan sel darah putih kurang dari 10.000. Terjadi peningkatan kreatin sebanyak 50 persen. Sekitar 40 persen dari penderita leptospirosis mengalami kesulitan untuk menghasilkan enzim liver. Untuk memastikan, bakteri leptospira bisa dilihat melalui mikroskop.
Berenang di Sungai
Bakteri ini terdapat pada hewan peliharaan, seperti, ayam, kambing, kucing, dan anjing. Maka itu pemelihara hewan harus waspada. Yang harus dihindari sekarang ini adalah mencuci atau berenang di sungai. Sebelum dikonsumsi, air sumur harus diberi kaporit atau tawas. Air minum harus dimasak benar-benar mendidih agar bakteri mati. Kalau secara tidak sengaja terjadi kontak langsung dengan air kotor, sebaiknya lekas dicuci dengan air bersih.
Jika diketahui hewan peliharaan kita terjangkit bakteri leptospira sebaiknya lekas dibawa ke dokter hewan. Untuk sementara hindari kontak secara langsung dengan hewan tersebut, terutama air seni, kotoran atau darahnya. Ciri hewan yang menderita penyakit ini biasanya diikuti dengan diare dan nafsu makan berkurang. Penanganan oleh tim medis yang cepat dan tepat akan bisa mengatasi penyakit ini. Itu berarti risiko penularan terhadap manusia juga semakin kecil.
Di Indonesia dan beberapa negara tropis berkembang lainnya mayoritas bakteri ini berjangkit di tubuh hewan pengerat seperti tikus. Di beberapa daerah pesisir di mana banyak terdapat genangan air, yaitu rawa-rawa, leptospira sempat pula berkembang biak pada ternak.
Kita bisa mendeteksi keadaan antibodi hewan tersebut sekitar seminggu hingga sepuluh hari setelah hewan terserang bakteri dan akan mencapai puncaknya setelah 30 hingga 60 hari. Jika menyerang ternak leptospirosis bisa diobati dengan pemberian antibiotik seperti streptomycin, chlortetracycline, atau oxytetracycline. Sedang untuk manusia direferensikan penggunaan penisilin, tetracycline atau arythromycin. Penyakit ini tidak bisa dianggap remeh. Di negara lain, seperti, Nikaragua tercatat pernah terjangkit wabah leptospirosis yang menyerang 2.000 orang pada 1995.
Penulis adalah Peneliti di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Medan