SUARA PEMBARUAN DAILY

Longsor Karanganyar, Derita Setelah Keceriaan

Pengantar

Bencana tanah longsor di musim penghujan ini mengancam berbagai wilayah di Tanah Air. Tingginya curah hujan dan makin gundulnya lereng-lereng perbukitan di sejumlah tempat membuat banyak warga di sekitarnya, tidak tenang. Fakta telah membuktikan bahwa bencana tanah longsor masih menjadi ancaman. Terakhir longsor menimpa warga Tawangmangu, Kabupaten Karangnyar, Jawa Tengah. Untuk mengetahui lebih jauh masalah ini, koresponden SP, Fuska Sani Evani menuliskannya dalam sorotan berikut ini.

Foto-foto: SP/Fuska Sani Evani

Tim evakuasi yang terdiri dari TNI, POLRI dan masyarakat mencari warga yang tertimbun tanah

Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah (Jateng), mendadak mendapat sorotan dari berbagai kalangan, baik pers, pakar mitigasi bencana alam maupun segelintir orang yang menamakan dirinya relawan.

Kabupaten yang terletak di sebelah timur Solo, ini baru saja menggelar hajatan untuk memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), yakni pergelaran musik campursari nonstop selama 33 jam, 33 menit dan 33 detik, yang berlangsung sejak Minggu 23 hingga Senin 24 Desember 2007. Musik campursari nonstop digelar di depan pendopo kantor bupati.

Warga Karanganyar mendapat hiburan dari 22 grup campursari dan 170 penyanyi yang berasal dari Jateng, di antaranya Didi Kempot, hingga Yati Pesek, sampai dua musisi nasional, yakni Tito Sumarsono dan James F Sundah pun ikut hadir.

Bupati Karanganyar Hj Rina Iriani Sri Ratnaningsih yang terkenal hobi menyanyi pun sempat berduet dengan Didi Kempot. Namun, satu hari berselang, usai hajatan itu, warga Karanganyar berurai air mata. Sebanyak 65 warganya tewas akibat tertimbun tanah longsor.

Sejak 19 Desember lalu, hujan selalu mengguyur daerah yang terkenal sebagai sentral tanaman anthurium itu.

Selasa (25/12) sore sekitar pukul 17.00 WIB, air hujan sepertinya ditumpahkan dari langit di kawasan sekitar Karanganyar, Surakarta, Sukoharjo, Klaten, dan Wonogiri. Bengawan Solo yang terakhir kali membanjiri Kota Solo pada tahun 1965, Selasa malam juga mengamuk. Air menerjang ribuan rumah penduduk di Kota Solo dan sekitarnya. Sedang di Karanganyar, meski tak langsung terkait air Bengawan Solo, bencana tanah longsor telah mengharu-birukan sentra Jenmani itu.

Sebanyak 34 warga Desa Ledogsari tertimbun hidup-hidup. Di Enam kecamatan lain, kecamatan Jatiyoso, Matesih, Ngargoyoso, Jenawi, Kerjo, dan Jumapolo korban juga berjatuhan. Rabu 26 Desember 2007 dini hari, saat orang sedang terlelap dalam buaian malam, tiba-tiba 65 warga Karanganyar harus meregang nyawa akibat tanah longsor. Ratusan keluarga harus kehilangan tempat tinggal, dan harus merelakan harta benda yang telah dikumpulkan bertahun-tahun lamanya.

Menurut Kepala Lingkungan Dusun Ledogsari Widodo (55), longsor terjadi dua kali. Pertama terjadi sekitar pukul 00.30 tengah malam. Namun, longsoran bukit di belakang dusun itu tidak sampai menimpa rumah. Hanya saluran irigasi di atas bukit menjadi rusak, sehingga air turun ke dusun.

Warga kemudian bekerja bakti, meski cuaca hujan dan angin masih kencang. "Malam itu, sebenarnya warga ingin menyelesaikan saluran itu bersama-sama," katanya.

Pada pukul 03.00 WIB, listrik padam. Karena gelap gulita, warga batal meneruskan pekerjaan. "Sebagian warga pulang ke rumah masing-masing, sebagian lagi berkumpul di rumah Atmopaidi, salah seorang warga dusun. Namun, saat subuh, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dan berdebum seperti pesawat jatuh," ujarnya.

Tanah terus bergerak turun, tidak ada warga yang berani mendekati lokasi longsor yang hanya beberapa meter saja dari rumah mereka. Baru ketika dipastikan tanah berhenti bergerak, dan hujan sedikit reda, sekitar sejam kemudian warga mulai mendata rumah dan warga.

Bupati Karanganyar, Rina Iriani, tiba-tiba sibuk luar biasa. Hampir selama 24 jam perempuan perparas ayu itu bergulat dengan lumpur, mengkoordinasikan anak buahnya untuk menggali 34 warganya tertimbun material lereng curam di Dusun Ledogsari, Tawangmangu.

Ribuan tenaga dikerahkan untuk menggali reruntuhan material tanah merah yang sudah membenamkan 13 rumah. 10 hari dilewati. Meski menurut prosedurnya hanya 7 hari, namun bupati perempuan ini bersikeras, agar semua korban bisa ditemukan, walau hanya dengan tenaga sukarelawan.

Tawangmangu mendadak ramai oleh kunjungan, namun sayangnya bukan karena ingin menikmati pemandangan Grojokan Sewu, atau sate kelinci yang terkenal di Tawangmangu, melainkan ingin menyaksikan proses evakuasi sekaligus mengintip jenazah.

Bantuan

Warga dari seluruh penjuru bukit datang dengan berbagai alasan. Syukur ada yang datang dengan cangkul dan bakul nasi. Namun, sebagian besar lebih banyak yang datang hanya ingin 'menonton'.

Ribuan teguran dilayangkan oleh pihak aparat. Namun apa lacur, tontonan gratis itu terus menyedot massa, seperti kontes campur sari sehari sebelumnya.

Bupati Rina Iriani, sudah mengerahkan seluruh kemampuannya. Semua anak buahnya diterjunkan ke Dusun Ledogsari. Namun, karena lokasi bencana yang memang cukup berat, proses evakuasi korban berjalan lamban.

Jalur menuju lokasi penuh dengan tikungan tajam dan turunan yang terjal. Ada beberapa sisi bukit dengan kemiringan hampir 90 derajat. Kendaraan roda empat harus sangat berhati-hati. Jalan yang sangat kecil, naik turun dan curam, membuat Rina Iriani harus memutar otak. Untuk mempercepat proses evakuasi korban tanah longsor di areal yang sangat luas. 30 x 150 x 5 meter, Dinas Pekerjaan Umum Karanganyar akhirnya mengupayakan backhoe ukuran kecil.

Ratusan sekop, cangkul, linggis digunakan oleh tim yang terdiri dari TNI, Polri, Basarnas, Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (Satlak PBP) Karanganyar, serta masyarakat. Mereka bahu-membahu sejak pagi sampai petang, dibantu dengan kucuran air dari saluran irigasi di atas bukit maupun air yang didatangkan dengan mobil tangki pemadam kebakaran, hasilnya lumayan efektif.

Akibat curah hujan yang tinggi dan kemiringan bukit yang hampir 90 derajat, Dusun Ledogsari, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karangayar, Jawa Tengah, menjadi korban tanah longsor yang memakan 34 korban jiwa dan 16 rumah tidak lagi bisa ditinggali. Longsor itu disebabkan oleh pola tanam masyarakat yang salah. Tak ada lagi tanaman keras di sekitarnya dan sudah digantikan dengan tanaman sayur dan jagung.

Kerugian Material

Menurut Kasi Penanggulangan Bencana Kantor Kesbanglinmas setempat, Aji Pratama Heru, kerugian material mencapai sekitar Rp 69 miliar.

Longsor juga menewaskan 8 warga Desa Jumantoro, Kecamatan Jumapolo, menelan 3 korban tewas di Gedongan, Kecamatan Kerjo, 3 korban di Sukuh, Kecamatan Ngargoyoso, 3 korban tewas di Kecamatan Jenawi, 5 korban di Dusun Beruk dan Wukirsawit, Kecamatan Jatiyoso. Di Dusun Srandon, Kecamatan Karangpandan, 3 tewas.

Tanah longsor juga memutuskan jalur alternatif menuju Tawangmangu melalui Matesih, karena longsoranya bukit di Dusun Ganongan, Desa Koripan. Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) pemkab Karanganyar, Didik Joko Bakdono mencatat kerusakan infrastruktur sarana umum dan fasilitas sosial nilainya mencapai sekitar Rp 69 miliar.

Rinciannya, kerugian prasarana jalan dan jembatan Rp 33,9 miliar, prasarana irigasi Rp 23 miliar, drainase Rp 3,1 miliar dan sarana pendidikan Rp 9,4 miliar. Dari pendataan yang dilakukan, sebanyak 37 jembatan dan jalan mengalami kerusakan. Selain itu, 50 saluran irigasi, 42 sekolah, dan 8 drainase juga turut mengalami kerusakan. Terkait dengan faktor penunjang bencana tanah longsor di tempat tersebut, Rina Iriani menyatakan, rata-rata kejadian disebabkan oleh pola tanam masyarakat yang salah.

"Saya sudah memerintahkan agar bukit dengan kemiringan 90 derajat jangan ditanami sayuran. Tapi sepertinya di sini masih tetap ditanami sayuran. Mulai sekarang harus diganti dengan tanaman keras," katanya. Tebing tanah yang longsor itu semestinya ditanami tanaman keras dan bukan ditanami sayuran sebagaimana dilakukan warga. Diakui, tebing tanah yang curam itu hanya satu satunya bahan mata pencaharian warga. Dengan curah hujan yang sangat lebat, risiko longsor pasti mengancam.

Semestinya, di lokasi itu ditanami tanaman keras. Namun oleh warga, lokasi itu justru ditanami tanaman sayuran seperti jagung. Jagung dan sayuran tidak bisa menahan laju air dari atas. Akibat ditanami sayuran itu, tanah menjadi lembek dan lapuk, kemudian mengakibatkan tanah longsor. *


Last modified: 23/1/08