![]()
SP/Fuska Sani Evani
Sejumlah personel TNI dan warga mengevakuasi korban longsor di Dusun Ledogsari, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
enyebab tanah longsor di beberapa wilayah di Indonesia, disinyalir terkait dengan pola hidup masyarakat sekitar dan kondisi alam yang memang kurang menguntungkan. Wilayah perbukitan dengan lembah dan ngarai, pasti mengandung elemen-elemen mineral dari gunung berapi, memang mengundang daya tarik tersendiri.
Berbagai penelitian mengungkapkan bahwa bencana tanah longsor di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah (Jateng) disebabkan oleh melapuknya bantuan breksi vulkanik dan tuft (tumpuk) di lokasi tersebut.
Bupati Karanganyar beserta beberapa pejabat Pemkab Karanganyar melakukan pemantauan menggunakan pesawat helikopter jenis super puma HX 3311 milik PT Dirgantara Indonesia Bandung yang diperbantukan untuk penanganan bencana di Kabupaten Karanganyar.
Setidaknya terungkap 60 persen daerah di wilayah perbukitan lereng Gunung Lawu saat ini dinyatakan rawan longsor. Kecepatan longsor terukur 50 kilometer (km) per jam. Sebelumnya, kawasan itu diguyur curah hujan yang tinggi (75 mm) selama dua hari dua malam sebelum kejadian gerakan tanah.
Kemiringan lereng yang terjal di Ledogsari yang mencapai antara 25-40 derajat, menyebabkan lereng tidak stabil dan mudah goyah apabila jenuh air sehingga material pembentuk lereng mudah bergerak.
Alih fungsi lahan dari tanaman keras ke tanaman musiman sehingga tanaman keras yang berakar kuat dan dalam sebagai pengikat stabilitas tanah pada lereng berkurang, maka tanah mencari keseimbangan baru sehingga terjadi gerakan tanah/tanah longsor.
Pakar geologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Dr Dwi Korita Karnawati mengimbau masyarakat yang berada perbukitan dan lereng gunung yang menjadi langganan longsor, meningkatkan kewaspadaanya. Di musim penghujan ini tingkat bahaya longsor akan semakin meningkat.
"Kejadian longsor disebabkan oleh gerakan tanah disertai dengan suara gemuruh atau suara gemeretak dari arah atas lereng, yang pada awalnya dapat disertai batu-batu kecil atau kerikil yang menggelinding ke arah bawah lereng," kata pakar geologi Fakultas Teknik UGM ini.
Untuk itu, setelah musim hujan berlalu, maka warga disarankan untuk segera melakukan upaya perbaikan lereng dan lingkungan, terutama memperbaiki geometri lereng, melancarkan saluran-saluran air pada lereng, membuat perkuatan lereng dan menanami lereng dengan vegetasi yang tepat.
Apabila mendengar suara gemuruh, masyarakat jangan menghampiri lokasi gerakan tanah atau longsoran serta berkerumun pada lokasi tersebut. Lebih baik segera menghubungi aparat pemerintah setempat dan mencari bantuan penyelematan.
Sedangkan sebagai peringatan dini bisa dilihat dengan miringnya pohon-pohon dan tiang-tiang pada lereng, serta muncul retakan-retakan tanah berbentuk lengkung memanjang dan tapal kuda pada lereng. Solusi satu-satunya untuk menyelamatkan warga adalah relokasi, kata kandidat doktor dari Universitas Paris, Danang Satmoko MSc.
Warga Dusun Ledogsari, Tawangmangu, Karanganyar tetap riskan terhadap bencana longsor dan bahkan dipastikan suatu saat kelak bencana tanah longsor di daerah itu akan masih terjadi. Perkiraan itu bisa dilihat dari kondisi teras lahan yang ada di lokasi.
"Relokasi saya rasa mutlak dilakukan karena pasti akan terjadi longsor suatu saat kelak. Ini bisa dilihat dari kondisi lahan sekitar serta teras yang ada di tegalan," kata Danang dalam Diskusi Refleksi Bencana di Kantor Pusat Studi Bencana Alam (PSBA) UGM beberapa saat lalu.
Danang menambahkan selain faktor curah hujan tinggi, peran manusia dinilainya sebagai salah pemicu terjadinya bencana longsor di Tawangmangu itu. Sebab lahan di sekitar lokasi justru banyak yang dibuat secara teras. Hal itu tidak sesuai untuk daerah berbukit dan rawan longsor. "Teras baik mungkin untuk erosi, tapi tak cocok untuk longsor. Apalagi kebanyakan teras disana dibuat sebagai tegalan," katanya.
Dari hasil survei dan pengamatannya bersama tim di lokasi bencana dengan kondisi seperti ini maka setidaknya terdapat 171 rumah warga di sekitar lokasi yang masih rawan terhadap longsor setiap saat. "Akibat longsor kemarin paling tidak menyebabkan 191 rumah rusak, 12 di antaranya terkubur dan 7 rusak. Sehingga saat ini masih ada 171 rumah yang rawan terkena longsor setiap waktu," tuturnya.
Lereng Bukit
Beberapa perbukitan di Tawangmangu dengan kemiringan di atas 60 derajat tidak boleh ditanami sayur atau tanaman semusim lainnya. Tanaman itu tidak akan mampu merekatkan tanah dan menyerap air, sehingga sangat rawan terjadi longsor.
Dengan keterjalan yang sangat tinggi, lahan itu seharusnya hanya ditanami tanaman keras, dan dijadikan lahan konservasi. Bukan digunakan untuk lahan pertanian semusim. Sangat berbahaya dan di Jateng, selain Tawangmangu jumlahnya sangat banyak, termasuk di Dieng, Banjarnegara, dan Temanggung.
Kepala Subdin Kehutanan Karanganyar, Siti Maisyaroh menambahkan, ada beberapa titik rawan longsor di Karanganyar yakni di Tawangmangu mulai Ledogsari, Plumbon, Nglurah, Gondosuli, Blumbang serta di Beruk, Jatiyoso, Ngargoyoso, Jenawi, Kerjo, semuanya sudah terjadi. Dan masih sangat mungkin ada susulan.
Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Jateng, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), memetakan bahwa daerah bencana di Kabupaten Karanganyar pada umumnya merupakan lereng barat laut perbukitan Gunung Lawu, dengan kemiringan terjal yaitu 40 derajat - 50 derajat. Sedangkan lereng bagian bawah merupakan lembah alur sungai.
Batuan dasar daerah ini adalah breksi vulkanik dan breksi tufaan dengan fragmen andesit dan basalt yang merupakan produk vulkanik muda dari Gunung Lawu, berwarna cokelat kemerahan dengan tanah pelapukan berupa lempung pasiran, ketebalan tanah pelapukan 4-5 meter, permeabilitas sedang, bersifat lepas dan mudah runtuh.
Daerah itu termasuk zona kerentanan gerakan tanah menengah-tinggi. Artinya pada daerah ini sering terjadi gerakan tanah dan gerakan tanah lama bisa terjadi lagi apabila curah hujan tinggi.
Khususnya di sekitar Kampung Mogol, Desa Ledogsari, Kecamatan Tawangmangu adalah kebun campuran dan perkebunan di lereng bagian atas, kebun tanaman semusim (jagung, ketela rambat, dan tanaman sayuran lainnya) di lereng bagian tengah sampai atas, dan permukiman Kampung Mogol di lereng bagian bawah.
Banyak dijumpai permukiman penduduk di atas, dan di bawah lereng sedang hingga curam. Jenis gerakan tanah pada umumnya gerakan tanah rotasi dengan bentuk bidang gelincir berupa circle dan longsoran bahan rombakan dengan dimensi Kampung Mogol, Ledogsari, Tawangmangu; panjang 175 m, lebar 50 m, dengan tinggi gawir gerakan tanah 15 m. Gerakan tanah ini masih mengancam Kampung Mogol, yang berada di dekat tebing longsoran.
Berdasarkan hal tersebut, direkomendasikan agar masyarakat yang beraktivitas di sekitar lokasi gerakan tanah perlu waspada. Puncak curah hujan diperkirakan akan masih terjadi pada bulan Januari dan Februari mendatang. Perlu segera dilakukan penataan lereng dengan retaining wall pada daerah longsoran tebing jalan dan permukiman yang berada di atas perbukitan, di bawah lereng dan di bagian alur lembah berisiko terancam bencana gerakan tanah/ tanah longsor. Bertolak dari itu, wilayah tersebut sesungguihnya tidak layak huni. [SP/Fuska Sani Evani]