SUARA PEMBARUAN DAILY

Enam Provinsi Uji Coba Atasi Kelangkaan Pupuk

SP/M Kiblat Said - Soetarto Alimuso

[MAKASSAR] Pemerintah sedang menguji coba distribusi pupuk sistem tertutup yang dilaksakan pada enam kabupaten di enam provinsi. Dengan uji coba itu dapat diketahui lebih jelas jumlah kebutuhan pupuk suatu daerah dan kalau terjadi penambahan, sumber masalahnya bisa diketahui.

"Uji coba tersebut dilakukan di Kabupaten Maros di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), Purwakarta, di Jawa Barat (Jabar), Sleman di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Badung di Bali, Ogan Komerin Ulu Timur di Sumatera Selatan, dan Batang di Jawa Tengah (Jateng)," kata Direktur Jenderal Tanaman Pangan Departemen Pertanian (Deptan), Soetarto Alimuso di Makassar, Rabu (23/1).

Dikatakan, kelangkaan pupuk tidak perlu terjadi jika pemerintah daerah tanggap. Seharusnya, setiap kabupaten dapat mengatasi jika terjadi kelangkaan pada saat musim tanam karena mereka yang mengajukan usulan. Kalau pemerintah kabupaten tidak mampu, serahkan ke pemerintah provinsi. Apabila provinsi tidak dapat menyelesaikan persoalan itu, baru pemerintah pusat turun tangan.

"Kalau setiap kelangkaan pupuk yang hanya terjadi di suatu desa, lalu persoalan itu dibebankan ke pemerintah pusat, apalah artinya pemerintah otonom di bawah," katanya.

Menurutnya, tahun 2007 pemerintah sudah menyiapkan cadangan pupuk sebesar 200.000 ton untuk mengatasi kelangkaan dan jumlah itu tidak terserap habis. Tahun 2008 tetap saja disiagakan cadangan dengan jumlah yang sama, namun pengawasannya makin diperketat sebab pupuk itu disubsidi.

"Total subsidi pupuk tahun 2007 mencapai sekitar Rp 7,9 triliun, tahun 2008, naik menjadi Rp 8,7 triliun, subsidi itu sudah termasuk rencana bantuan langsung pupuk organik," katanya.

Membengkak

Sementara itu, Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Sulsel, Rahman Tayang mengatakan, kebutuhan pupuk urea di 23 kabupaten dan kota di Sulsel tidak mencukupi jatah yang ada. Kalau berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian (Mentan) tahun 2007, Sulsel hanya memperoleh jatah 235.800 ton, sedangkan pemakaian membengkak sampai sekitar 244.000 ton.

Untuk itu, tahun 2008 pihaknya menargetkan kebutuhan pupuk sekitar 270.000 sampai 300.000 ton, namun berdasarkan SK Mentan, pada tahun 2008 Sulsel memperoleh jatah 242.500 ton. "Kalau pun nanti tidak mencukupi, kami tidak khawatir sebab bisa saja ada penambahan sesuai usulan," katanya.

Pembengkakan jumlah pemakaian itu disebabkan adanya penggunaan untuk tambak, perluasan areal jagung dan sistim bertani padi tanam benih langsung (tabela). Kalau penanaman padi dengan sistim tanam pindah hanya menggunakan urea sekitar 250 kilogram (kg) per ha, sedangkan sistim tabela memakai urea sampai 600 kg per ha dan itu banyak dilakukan petani di Sinjai, Bone, Wajo, Sidrap, Pinrang dan Luwu Raya.

Pemakaian pupuk terbesar Januari ini di Sulsel terfokus pada di Kabupaten Bantaeng, Jeneponto, Takalar, Gowa, Maros, Pangkep, Barru, Pinrang dan Sidrap. Untuk mengawasi penyaluran pupuk ke petani, HKTI mengharuskan pengecer mengajukan data lengkap petani di daerahnya dan tidak boleh melampaui pembelian per petani di atas 20 zak. "Kami sudah punya pengalaman, kalau untuk kebutuhan urea dengan pola tanam pindah menggunakan pupuk sekitar 5 zak per ha dan untuk tabula 12 zak per ha," jelasnya. [148]


Last modified: 24/1/08