SUARA PEMBARUAN DAILY

Wajahnya Terlihat Lebih Cantik dari Biasanya

Dok Keluarga - Tika semasa hidup.

Rumah di jalan Cemara blok I, gang IV, Tugu Utara, Koja, Jakarta Utara itu tampak sepi, Rabu (23/1). Tidak terlihat keramaian orang melayat seperti sehari sebelumnya yang dipenuhi sanak saudara, sahabat-sahabat, polisi, dan wartawan. Hanya keluarga dekat yang tampak berkumpul di ruang tamu rumah itu.

Meski suasana duka masih terpancar di mata mereka, namun terdengar nada-nada kemarahan dari pembicaraan mereka. Tidak dapat disalahkan jika mereka masih menyimpan rasa dendam atas kematian salah satu anggota keluarga, Atik Septiani binti Mochtar (23). Tika, sapaan akrabnya, tewas karena dibunuh pacarnya, Zaki Afrizal Nurfaizin (30) lalu dimutilasi.

Sungguh kenyataan tragis, mengingat Zaki sama sekali tidak menunjukkan kesan negatif kepada keluarganya. "Saya tidak menduga kalau ternyata dia yang membunuh anak saya. Tega sekali dia. Padahal mengaku sama semua orang, dia mahasiswa Trisakti semester terakhir dan sekarang sedang magang di Citibank, Cempaka Mas, Jakarta Pusat.

Padahal Cuma pedagang nasi goreng. Dia juga mengaku kalau ayahnya polisi yang sering dinas ke luar kota. Dan ibunya sedang sakit di kampung. Di Jakarta dia tinggal sama tantenya di daerah Tanah Abang. Bohong itu semuanya," kata ibu korban, Haripah (46) sambil terus menangis.

Adik korban, Tati Haryani (15) berpendapat sama. "Pertama kali dikenalkan ke saya juga terlihat sopan dan rapi. Datang pake kemeja putih, berdasi, berjaket, bersepatu, dan bawa-bawa tas lagi. Pokoknya sudah seperti orang kantoran. Orangnya juga sering numpang salat di masjid dekat rumah kalau datang. Kelihatannya alim, ternyata seorang pembunuh," katanya.

SMS "Nyasar"

Perkenalan pertama Tika dan Zaki diawali dengan ketidaksengajaan. Pada sekitar Maret 2007, Tika menerima SMS (pesan singkat) dari nomor yang tidak dikenalnya. Ternyata SMS itu dari Zaki. Berawal dari situ, mereka berkenalan dan tidak lama setelahnya mereka berpacaran.

Selama berpacaran sekitar enam bulan, Zaki hanya datang ke rumah Tika tiga kali. Mereka lebih sering bertemu di luar rumah. Orangtua korban kurang setuju dengan pertemuan-pertemuan yang seperti ini. Ada kesan Zaki menghindari keluarga Tika dan tidak serius menjalani hubungan itu. Padahal, dengan status Tika sebagai janda beranak satu, Zaki harus lebih mendekatkan diri pada keluarga, terutama anak korban, Rizky Mulyana (4) jika ingin hubungan mereka lebih serius.

"Tika selalu berkorban buat dia. Ke mana-mana selalu dijemput dan diantar pake sepeda motor Tika. Katanya dia trauma kalau bawa motor sendiri, soalnya dulu pernah ditabrak. Kalau datang ke sini, selalu dibelikan makanan yang enak-enak buat dia. Mana pernah dia ngasih mainan buat cucu saya?" ujar Haripah marah.

"Aku juga pernah bilang kalau punya pacar anak kuliahan hati-hati. Soalnya mereka sering bohong. Tapi Mbak nggak pernah nanggepin serius," kata Tati, adik korban yang duduk di kelas I sebuah SMA di Jakarta Utara ini.

Namun kekhawatiran ini tidak ditanggapi serius oleh keluarga. Mereka merasa jika keduanya sudah cocok, maka orangtua siap untuk menikahkannya. Tika memang jarang menceritakan masalah pribadinya secara terbuka. Dia lebih senang bercanda dan tertawa. Sifat ceria, jarang murung dan tidak pernah mengeluh lebih sering diperlihatkan kepada keluarganya. Karena itu, keluarga menganggap hubungan mereka berdua tidak ada masalah.

Seperti Kamis (17/1) pagi itu. Pukul 06.15 WIB, Tika berangkat ke kantor seperti biasa. Ia dikenal sebagai pegawai rajin dan tidak pernah absen, kecuali dia benar-benar sakit. Karena itu, baru dua tahun bekerja di PT Kahoo Citra Indah Internasional (KCII) di Kawasan Berikat Nusantara (KBN), Cilincing, Jakarta Utara, ia langsung diangkat menjadi pegawai tetap.

"Saya tidak merasakan firasat apa-apa hari itu. Ayahnya juga. Tapi kata teman sekantornya, Tika terlihat cantik sekali waktu sore harinya. Wajahnya terlihat lebih cantik dari biasanya. Soalnya dia janjian sama Zaki pulang kantor di daerah Permai (Jakarta Utara), dekat rumah Tika. Temannya sudah melarangnya untuk bertemu di tempat-tempat gelap seperti itu. Bahaya katanya. Tapi rupanya tidak didengar," papar ibu korban.

Firasat juga dirasakan Rizky yang tidak berhenti menangis waktu malam harinya. Dia terus memanggil nama ibunya. Namun rupanya, ibunya tidak akan pernah datang kembali untuk menemaninya tidur setiap malam. "Saya dan keluarga saat ini masih mencoba merelakan kepergian Tika. Karena jika tidak begitu, Tika tidak akan tenang di alam baka. Tapi untuk pembunuhnya, kami tidak akan memaafkan. Kami menuntut hukuman yang seberat-beratnya, bahkan kalau bisa hukuman mati. Karena polisi sudah menangkap pelakunya, jadi kami serahkan ke mereka untuk menyelesaikan proses hukumnya. Kalau tadinya kami yang menangkap, mungkin kami sudah selesaikan dengan cara kami sendiri. Tapi ini adalah negara hukum, jadi kami percaya hukum akan berperan," kata ayah korban, Mochtar (56).

Kemarahan dan dendam tentu masih terus ada di dalam hati keluarga korban. Berharap dengan proses hukum yang adil, maka keadilan akan ditegakkan dan keluarga akan kembali pulih dari rasa marah dan dendam. [Merry Sondang]


Last modified: 24/1/08