![]()
AFP/Emmanuel DUNAND
Bakal calon Presiden AS dari Partai Demokrat, Barack Obama bertemu dengan jemaat Gereja Metodis St James di Darlington, South Caroline, Rabu (23/1). Obama sedang mengadakan kampanye untuk pemilihan pendahuluan di South Carolina, 26 Januari 2008.
encalonan Barack Obama, bakal calon Presiden AS dari Partai Demokrat, sejak awal diperkirakan tidak berjalan mulus. Obama, senator dari Illinois, berhasrat menjadi Presiden AS berkulit hitam pertama di tengah masih kuatnya cengkeraman segregasi rasial di Amerika. Beban Obama semakin berat setelah muncul isu di masa-masa kampanye yang menyebutkan ia awalnya beragama Islam.
Dalam berbagai kesempatan Obama membantah isu itu. "Banyak hal dilontarkan dalam beberapa pekan terakhir tentang sejarah Muslim keluarga saya. Sebagian hal yang sudah diutarakan memang benar. Tetapi yang lain salah," kata Barack Obama, yang akan bertarung ketat melawan Hillary Rodham Clinton dalam primary South Carolina, Sabtu (26/1), dalam sebuah tayangan di CNN.
"Ya, benar sekali saya punya nama yang populer di antara warga Muslim Kenya tempat ayah saya berasal. Benar sekali nama tengah saya adalah Hussein," kata Obama. Ia menyebutkan, Barack adalah sebuah nama yang berarti berkah. Sedangkan Hussein adalah bentuk maskulin dari kata cantik.
Karena tidak ada sesuatu pun yang salah dalam konsep berkah dari Tuhan serta kecantikan yang diciptakan Sang Maha Kuasa, Obama mengaku, dirinya tidak dapat menemukan apa sebetulnya yang salah pada nama tersebut. "Sebagian kalangan akan mengatakan, apakah bukan sebuah problem jika rakyat Amerika punya seorang presiden yang namanya mirip dengan mantan diktator Irak yang digulingkan dan dieksekusi? Jawaban saya sederhana saja: Tidak!" kata Obama.
Ia berpendapat, ia tidak lebih dari sekadar anak laki-laki dari seorang pria Afrika yang punya nama terdengar lucu, dilahirkan di bawah kekuasaan kolonial Inggris, dan kini dapat menjadi kandidat serius untuk menjadi Presiden AS.
Obama mengakui, ayahnya adalah seorang Muslim. Kendati demikian, ia tidak begitu mengenal agama yang dianut ayahnya, dan keluarga ayahnya senantiasa menjadi sesuatu yang membikin ia tertarik untuk mengetahuinya. Ketertarikan itu, kata Obama, semakin menjadi-jadi ketika ibunya yang berkulit putih menikahi seorang Muslim asal Indonesia. "Sebagai anak kecil, saya tinggal di Indonesia dan bersekolah bersama-sama para murid Muslim. Saya menyaksikan orangtua mereka menjalankan sholat setiap harinya, ibu-ibu mereka berkerudung Muslim, atmosfer sekolah berubah ketika Ramadan, dan saya merasakan kemeriahan perayaan Hari Raya," kata Obama.
Obama mengatakan, pria Indonesia yang dinikahi ibunya tidak benar-benar relijius. Tetapi dalam acara-acara tertentu ia datang ke masjid. Ayah tirinya itu memiliki Al-Quran dalam berbagai bahasa, serta berbagai buku tentang sabda Nabi Muhammad serta riwayat kehidupannya. Dalam beberapa kesempatan, ayah Obama disebutkan kerap mengutip frase-frase Islam, seperti fitnah lebih keji daripada pembunuhan dan semua manusia sama di hadapan Tuhan dan hanya ketakwaan yang membedakannya.
Ketika tumbuh berkembang di Hawaii bersama sang ibu, Obama mengatakan, kenangan Islam dari keluarga kakeknya perlahan mulai surut. "Ibu saya mendidik saya dengan nilai-nilai kemanusiaan. Saya tidak berkembang di sebuah keluarga di mana agama diajarkan," kata Obama.
Ketika berkuliah di Columbia University dan Harvard Law, Obama semakin banyak bersentuhan dengan umat Muslim, karena dua sekolah itu punya banyak mahasiswa Muslim. "Sejumlah mereka menjadi teman saya. Dan banyak di antara mereka yang datang dari negara-negara yang kini bersikap sangat bermusuhan dengan negara saya (AS)," kata Obama. Pengalaman semasa kecil di Indonesia diakui Obama sangat membantu dirinya untuk bisa memahami teman-teman Muslimnya. Obama juga mengaku belajar banyak dari mereka. "Bagi saya Muslim bukan sesuatu yang aneh. Dalam pengalaman saya hingga berkuliah, seorang Muslim tidak kurang eksotisnya bagi saya dibandingkan dengan Mormon, Yahudi, atau Saksi Yehova," kata Obama.
Pekerja Komunitas
Setelah kuliah, Obama memilih Chicago sebagai kota asal dan bermukim di South Side serta berkarya sebagai pekerja komunitas. Chicago adalah salah satu kota Amerika dengan populasi Muslim yang terpadat, yakni sekitar 300.000 jiwa. Dalam aktivitasnya di sana, Obama banyak bersentuhan dengan umat Muslim. "Saya makan di rumah mereka, bermain dengan anak-anak mereka, dan memandang mereka sebagai teman tempat meminta saran," kata Obama.
Itulah sebabnya, tragedi serangan teror 11 September 2001 membuat Obama sangat sedih. Ia ingin keadilan ditegakkan bagi para korban dan pelaku serangan tersebut. Tetapi, ia juga tidak menyalahkan seluruh umat Muslim atau agama Islam.
"Dari pengalaman saya, saya mengetahui karakter baik dari sebagian besar umat Muslim, dan nilai-nilai yang mereka bawa untuk Amerika," kata Obama. Banyak orang Amerika, yang tidak mengenal umat Muslim secara pribadi, menyalahkan Islam secara keseluruhan atas tindakan buruk yang hanya dilakukan segelintir umat Muslim. "Tindakan ini sangat bodoh dan tidak bijak," kata Obama.
Ia kemudian dapat kesempatan untuk mengunjungi Kenya, tempat kelahiran ayah kandungnya. Di sana, ia bertemu dengan para keluarga Muslimnya, termasuk sang nenek. "Saya menemukan, orang-orang itu menginginkan hal yang sama dengan hak mereka yang berada di Amerika. Mereka bekerja keras, ingin kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak mereka, dan berdoa pada Tuhan agar memperoleh kesuksesan," ujar Obama.
"Inilah yang membuat saya mencalonkan diri sebagai Presiden AS," kata Obama. Ia berkomitmen akan merangkul umat Muslim dari posisi kekerabatan dan respek, yang pada saat ini dalam sejarah Amerika menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan. [Dari berbagai sumber/E-9]