SUARA PEMBARUAN DAILY

Kekhawatiran Resesi Dunia Dominasi Davos

AP/Peter Dejong

Para peserta Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss melihat telepon genggam mereka saat pembukaan pertemuan tersebut, Rabu (23/1). Pertemuan ini diikuti sekitar 2.500 pebisnis dan politikus.

[DAVOS] Kendati topik pembahasan Forum Ekonomi Dunia di Davos adalah pengurangan kemiskinan, perubahan iklim dan ancaman terorisme tetapi masalah perekonomian global mendominasi pembicaraan di pertemuan tahunan tersebut.

Presiden Afghanistan Hamid Karzai, dalam pidatonya pada hari pertama mengingatkan bahwa dunia bisa mengalami penderitaan akibat penyebaran terorisme yang tengah melanda wilayahnya.

Musisi grup musik U2, Bono, serta mantan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS), Al Gore, berbicara dalam sesi pembahasan masalah kemiskinan, serta perubahan iklim. Dua topik itu menjadi pembahasan forum di samping proses perdamaian Timur Tengah dan bagaimana teknologi bisa menjadi sarana dalam hubungan sosial di masa kini, yang tidak mengenal batas.

Namun, sebagian partisipan dalam pertemuan itu, menyebut dunia sulit menghindari efek gejolak ekonomi di AS. Mereka khawatir perlambatan ekonomi yang tengah terjadi akan menyulut bencana politik di berbagai tempat. Ketakutan soal resesi dunia menjadi topik pembahasan yang lebih dominan.

Setahun lalu pada pertemuan Davos, mereka memperkirakan ekonomi akan maju dengan penuh percaya diri, namun itu sebelum krisis yang terjadi di AS menyebar, dan mengguncang perekonomian dunia.

Menlu AS Condoleezza Rice, pada pertemuan itu berusaha meyakinkan bahwa perekonomian AS masih kuat, dan tetap akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi dunia. Dia juga mengatakan, AS akan membuka pintu untuk investasi asing, serta perdagangan bebas.

"Perekonomian kami tetap akan menjadi mesin terdepan pertumbuhan ekonomi global," katanya. Dia mendesak agar dunia memiliki kepercayaan diri, berdasar pada kekuatan perekonomian global, serta bertindak dengan percaya diri berdasar pada prinsip-prinsip yang membawa kesuksesan di dunia saat ini.

Rata-rata berpendapat bahwa dunia tidak dapat luput dari dampak malaise ekonomi AS yang ditandai dengan krisis kredit perumahan (subprime crisis), turunnya kepercayaan bisnis, laporan perusahaan yang merugi dan anjloknya pasar saham.

Tahun lalu, para pemimpin di Davos memprediksikan bahwa perekonomian akan bergerak maju. Tetapi setelah krisis kredit perumahan di AS, analisis itu berubah, kepercayaan ekonomi terguncang.

Situasi pasar masih labil, kendati pasar Asia dan Wall Street sedikit terangkat tetapi saham Eropa berjatuhan kendati Federal Reserve melakukan pemotongan tingkat suku bunga sehari sebelumnya guna menstabilkan perekonomian. Di Davos, kekhawatiran akan resesi bergema. "Kita berada di Ronde 1 atau 2. Ini adalah pertarungan 15 ronde," tegas Gubernur Bank Sentral Meksiko Guillermo Ortiz, mengisyaratkan yang terburuk akan datang.

Langkah Radikal

Miliarder George Soros menyerukan langkah radikal dengan injeksi regulasi besar-besaran dan pengawasan pasar finansial. Menurutnya kebebasan yang berlebihan menyebabkan "bukan krisis yang wajar tetapi akhir sebuah era."

"Pihak berwenang mesti meneliti pembukuan institusi-institusi finansial dan memberi jaminan bahwa mereka akan menyelamatkan dan bahkan mengambil alih bank-bank yang bangkrut," tukasnya.

Menteri Keuangan Rusia Alexei Kudrin mengisyaratkan Rusia yang memiliki cadangan devisa dan emas dalam jumlah besar, dapat membantu dunia meredam krisis ini dengan melonggarkan cadangan devisa. "Tentu kita telah saling bergantung dan krisis ini akan berpengaruh bagi kami juga. Tetapi Rusia memiliki sistem pertahanan dan kekebalan yang baik sehingga dampaknya tidak separah yang lain," ujarnya.

Dekan Lee Kuan Yew School of Public Policy, Singapura, Kishore Mahbubani, mengatakan Asia juga akan mampu bertahan dari badai. "Bila Tiongkok bisa mengurangi pertumbuhannya 7-8 persen daripada 10-11 persen maka ini cukup memadai," komentarnya.

Tetapi gambaran suram untuk AS disuarakan Nouriel Roubini, chairman Roubini Global Economics, New York. Menurutnya, tidak lagi bila AS bersin seluruh dunia kena pilek karena dalam kasus ini AS justru akan kena pilek berlarut-larut hingga pneumonia. [AP/B-14]


Last modified: 24/1/08