SUARA PEMBARUAN DAILY

SUARA PEMBACA

Suara pembaca dikirim melalui email opini@suarapembaruan.com atau Faks ke redaksi, disertai alamat lengkap dan fotocopy identitas yang masih berlaku

Persiapan Tahun Kunjungan Wisata 2008

Pemerintah, dalam hal ini Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) sudah mencanangkan tahun 2008 sebagai Tahun Kunjungan Wisata atau Visit Indonesia Year (VIY 2008). Pemerintah menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara tujuh juta orang yang akan menikmati berbagai objek-objek wisata nusantara.

Kita tentu mendukung upaya pemerintah ini apalagi kita sudah ketinggalan dari Malaysia yang pada tahun 2007 menetapkan Visit Malaysia 2007. Kita melihat, Malaysia sangat serius dan memaknai betul tahun kunjungan wisata tersebut dengan investasi besar-besaran dan melakukan promosi lintas negara.

Kita tentu ingin VIY 2008 menuai kesuksesan, apalagi VIY ini bukan yang pertama kali, karena tahun 1991 kita pernah juga memiliki VIY 1991 yang waktu itu hanya mampu mendongkrak jumlah wisatawan 400.000 jiwa saja dari tahun sebelumnya. Mudah-mudahan VIY 2008, hasil yang diperoleh bisa lebih baik lagi, apalagi tema besarnya mengusung peringatan seratus tahun kebangkitan nasional (celebrating 100 years of national awakening).

Untuk memberikan keyakinan publik terhadap kesuksesan VIY 2008, kiranya Depbudpar perlu menjelaskan kesiapan menghadapi VIY 2008, apalagi kita sudah hampir di penghujung akhir bulan pertama tahun 2008. Hal ini penting, agar pemerintah, industri, dan masyarakat juga bisa bekerjasama untuk menghadapi kemungkinan terburuk, jika ada kontra promosi.

Wayan Sudarmadja SH MH

Jl Taman Kemang Kav 21 Jakarta Selatan

Jangan Malu Mencontoh Jepang

Ada beberapa hal menarik yang bisa diambil dari kunjungan Pangeran Akishino dan Putri Kiki Kawashimo dari Jepang. Salah satunya, kita bisa belajar lebih banyak dari Jepang. Indonesia bisa belajar bagaimana pemerintah Jepang menjadikan pendidikan sebagai basis utama pengembangan negara. Jepang bisa menjadi bangsa besar dan sangat berpengaruh di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, karena negara tersebut sangat memperhatikan pendidikan warganya.

Hal lain yang bisa dipelajari dari Jepang adalah bagaimana negara tersebut mampu mempertahankan nilai-nilai budaya yang dimiliki. Seperti halnya Indonesia, Jepang pun mengalami serbuan budaya asing. Namun, Jepang sukses menjaga identitas diri dengan budaya yang dimilikinya.

Ini yang kurang dimiliki oleh Bangsa Indonesia. Para anak muda kita lebih asyik bergaya dengan budaya barat, ketimbang budaya sendiri. Pengakuan seni reog oleh Malaysia menjadi salah satu contoh nyata bahwa sebagai bangsa besar, Indonesia kurang bisa melindungi budaya yang menjadi identitas diri.

Indonesia tidak perlu malu mencontoh Jepang atau negara lain yang sukses menjaga indetitas dirinya. Dalam hal ini, saya mendukung Presiden Yudhoyono menekankan tiga pilar pada hubungan Indonesia-Jepang, yaitu budaya, pendidikan dan persahabatan antar pemuda.

Semoga usia hubungan Indonesia-Jepang yang sudah mencapai umur 50 tahun, bisa bermanfaat bagi perkembangan budaya, pendidikan dan mentalitas pemuda kita.

Sebagai bangsa besar, tidak perlu malu untuk mengakui bahwa kita tertinggal cukup jauh dari Jepang, baik di segi pendidikan, budaya maupun pengembangan sumber daya pemuda. Siapa tahu dengan mengambil pelajaran positif dari hubungan dengan Jepang, kita bisa meniru negara tersebut. Tidak perlu muluk untuk menjadi negara industri dalam waktu dekat ini. Ketika bangsa ini sudah mampu bangkit dari keterpurukan ekonomi, pendidikan dan budaya, itu sudah menjadi langkah awal menuju negara maju.

Sutrisno

Jl PLN Raya No 38 Pondok Karya, Pondok Aren, Tangerang

Kenyamanan Transportasi

Berbagai kecelakaan seakan tak hendak pergi dari dunia transportasi kita, baik di darat, udara, maupun di laut. Kecelakaan yang disebabkan oleh rapuhnya infrastruktur transportasi dan human error telah banyak memakan korban. Wajar bila rasa waswas dan khawatir menghantui kita setiap kali bepergian. Bukan hanya kita. Bahkan pemerintahpun tentu dibuat gerah dan gelisah atas semua peristiwa itu, karena dari kecelakaan itu muncul kritik bahkan caci maki atas kinerja pemerintah.

Tampaknya pemerintah tak berdiam diri. Paling tidak ajakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada para pelaku transportasi untuk mengutamakan keamanan dan keselamatan menjadi sinyal keseriusan pemerintah. Tentu bukan sekadar ajakan. Langkah konkret pemerintah dalam perbaikan sarana dan prasarana transportasi sangat ditunggu masyarakat.

Pemerintah dapat melakukan kerjasama dengan berbagai pihak (swasta) untuk memenuhi standar maksimal sarana dan prasarana transportasi yang layak bagi masyarakat. Hal ini terutama untuk moda transportasi massal, seperti kereta api yang selama ini menjadi andalan masyarakat luas. Upaya ini tampaknya mulai diwujudkan melalui pembuatan rel ganda Kutoarjo-Yogyakarta dan Depo KRL Depok, yang diresmikan Presiden Yudhoyono beberapa waktu lalu.

Menurut Presiden, yang lebih penting dari ketersediaan sarana dan prasarana transportasi tersebut adalah keselamatan dan kenyamanan para penumpang. Dan ini akan tercipta apabila para pemimpin dunia usaha transportasi terus mempertahankan profesionalitas dan akuntabilitas termasuk jaminan keselamatan bagi pengguna jasa angkutan baik darat, laut maupun udara.

Kebutuhan transportasi yang terus meningkat dari masyarakat harus dibarengi oleh profesionalitas para penyedia jasa transportasi, sehingga semua bisa tumbuh berkembang dan menguntungkan bagi semua pihak. Semoga dengan peresmian jalur ganda rel kereta api dan langkah-langkah konstruktif lainnya bagi pengembangan sarana dan prasarana transportasi dapat memberi kenyamanan bagi para penggunanya sekaligus dapat menepis kecurigaan negara luar, khususnya Uni Eropa yang sampai saat ini masih melarang pesawat kita terbang ke Eropa karena dianggap tidak aman. Kita harus menolak kecurigaan pihak luar itu melalui kinerja yang maksimal sehingga masyarakat betul-betul merasakan keselamatan dan kenyamanan.

Habibah Thaibah

Jl Cilincing Raya Cakung, Jakarta Utara


Last modified: 23/1/08