
[MELBOURNE] Nama Casey Dellacqua di dunia tenis putri profesional mungkin tak sehebat Justine Henin, kakak beradik Williams maupun Maria Sharapova. Tetapi petenis asal Perth itu, menjadi kesayangan publik Melbourne. Dia dianggap sebagai pahlawan tuan rumah di ajang turnamen tenis Grand Slam Australia Terbuka.
Meski sudah mengikuti turnamen besar awal musim ini sejak 2003, nama Dellacqua tak sehebat seperti sekarang. Selama empat musim mengikuti turnamen besar ini dengan status petenis wild card, langkahnya selalu kandas di babak pertama. Bahkan, dua musim lalu, dia dipermalukan petenis putri nomor satu dunia, Lindsay Davenport di babak awal. Ketika itu ada yang bilang sebagai petenis dia kelebihan berat badan, sehingga menyulitkan pergerakannya.
Namun tengoklah kini prestasinya. Sebelum langkahnya terhenti di babak keempat oleh petenis rangking tiga dunia, Jelena Jankovic, dia mampu menumbangkan dua petenis top, Patty Schnyder dan Amelie Mauresmo. Pihak media massa di Australia bahkan menjulukinya sebagai "si pembunuh raksasa". Jankovic pun tak diberinya kemenangan dengan mudah. Pada pertandingan Minggu (20/1), Dellacqua memberi perlawanan hebat hingga pertandingan berlangsung selama 81 menit, dengan skor akhir 7-6, 6-1 untuk kemenangan Jankovic.
Dellacqua keluar dari lapangan tanpa perasaan sedih. Dia melambaikan tangan kepada publik di Melbourne yang memberinya sambutan sambil berdiri. Bertahan hingga babak ketiga, membuatnya meraih hadiah uang tunai sebesar Rp 719 juta. Rangkingnya di awal musim pun langsung melesat dari 78 ke 50 dunia. Hasil itu menjadikannya sebagai petenis putri nomor satu Australia. [Berbagai Sumber/L-9]