[PONTIANAK] Sejak dua minggu terakhir, pembakaran lahan untuk pertanian dan perkebunan mulai marak di wilayah Kalimantan Barat (Kalbar). Hal ini dilakukan karena sudah hampir dua minggu hujan tidak turun di Kota Pontianak dan sekitarnya dan cara yang efektif membuka lahan adalah dengan cara membakar.
Pantauan SP di pinggiran Kota Pontianak Minggu (20/1) menunjukkan, maraknya pembakaran dengan skala kecil, pada umumnya warga yang membakar lahan adalah untuk lahan perkebunan atau ladang dan juga untuk pertanian. Maraknya pembakaran ini mengakibatkan kualitas udara di Kota Pontianak sudah mulai memburuk.
Hal itu sesuai dengan hasil pemantauan pihak Bapedalda Pemprov Kalbar terhadap jumlah titik api di Wilayah Kalbar. Di mana dari hasil pemantauan, jumlah titik api dari hari ke hari mengalami peningkatan yang singnifikan.
Martino (40), warga Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya kepada SP Minggu (20/1) mengatakan, pihaknya membakar lahan hanya untuk berkebun dan menanam padi. Jadi tidak mungkin hasil pembakaran lahan oleh warga menimbulkan kabut asap. Kemungkinan besar ada, tetapi sangat kecil dan tidak seperti kenyataan.
Dalam hal membuka dan membersihkan lahan, pihaknya tidak memiliki niat untuk menimbulkan kabut asap. Dalam melakukan pembakaran, pihaknya selalu mengawasi api.
Pemerintah hendaknya tidak serta merta menyalahkan warga yang menimbulkan kabut asap karena membuka lahan. [146]