SUARA PEMBARUAN DAILY

Ade, Buronan LP Makassar Tertangkap

[MAKASSAR] Setelah dua minggu menikmati alam bebas dalam pelariannya, Marcus Valy Huwae alias Ade (20), narapidana (napi) Lembaga Pemasyarakatan (LP) Gunung Sari, Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), yang kabur sejak Minggu (6/1) berhasil ditangkap, Sabtu (19/1).

Marcus, terpidana asal Batu Gintung, Ambon, Maluku, dihukum 15 tahun penjara karena kasus pencurian dan kekerasan di Kompleks Asrama Kongregasi Putri Bunda Hati Kudus Ambon ,10 Maret 2006 di Batu Gitung, Ambon, berhasil ditangkap tak jauh dari LP, di sekitar di Jalan Sultan Alauddin lorong 2D Kecamatan Tamalate, Makassar.

Marcus melarikan diri dari LP Gunung Sari bersama napi kasus bom Makassar, Wirahadi alias Hadi (25) dengan memanjat tembok tinggi menggunakan seutas tali. Sebelum tertangkap, Marcus kepergok dua warga binaan LP yang dalam proses asimilasi (hampir bebas), Zainuddin dan Syaharuddin, sedang makan di warung coto di Jalan Sultan Alauddin. Zainuddin bergegas melaporkan hal tersebut ke M Akib, komandan jaga LP yang saat itu bertugas. Sedangkan Syaharuddin ditugasi membuntuti Marcus.

Kepala Pengamanan LP Gunung Sari, M Padli AS langsung mengerahkan petugas untuk melakukan pengejaran. Marcus tak berdaya terjebak di lorong buntu dan beberapa warga sempat melakukan pemukulan karena mengira yang dikejar itu penjambret, untung saja petugas LP menyelamatkannya.

Marcus mengaku, rencana kabur disusun Wurahadi, tali dan balok kayu yang dipakai kabur disediakan Wirahadi. Namun, saat lolos dari LP, keduanya terpisah. Wirahadi sempat memberikan uang kepadanya Rp 50.000. Wirahadi tertangkap lebih dahulu oleh polisi dalam pelariannya di Desa Manuju, Kecamatan Manuju, Kabupaten Gowa, Selasa (15/1).

Bingung

Menurutnya, empat hari pertama dalam pelariannya, ia bingung hendak ke mana sebab tak mengenal jalan- jalan di Makassar, akhirnya Marcus tinggal di Masjid Al-Azhar Jl Sultan Alauddin, sekitar 300 meter dari LP dan dengan bekal uang dari Wirahadi ia membiayai hidupnya.

Setelah empat hari di masjid, Marcus ke Pasar Sentral dan mulai berkelana, tidur di emper-emper toko. "Saya bekerja mencuci mobil angkot dengan upah Rp 1.000 per mobil. Bahkan ada pemilik mobil yang berbaik hati memberikan saya baju kaus bekas," katanya.

Marcus mengaku punya istri yang bekerja di salah satu kafe di Jl Boulevard, Makassar bernama Wiwin, hanya saja selama kabur dari LP belum pernah bertemu, kecuali seorang temannya bernama Syamsul. "Itu pun Syamsul hanya melihat saya dari jauh karena dia takut saya sedang dicari," ujarnya.

Pelarian Marcus sempat menghebohkan dan mengorbankan 12 petugas LP, beberapa di antaranya terkena sanksi administrasi kepegawaian karena dini-lai lalai dalam menjalankan tugas.

Dengan ditemukannya dua napi yang buron itu, petugas LP memperketat pengamanan, setiap keluarga napi yang menjenguk harus menjalani pemeriksaan ketat di pintu masuk lingkungan LP. [148]


Last modified: 21/1/08