[CILACAP] Sedikitnya 150 dari 200 unit kapal penangkap ikan tuna jenis longline milik nelayan Cilacap, Jawa Tengah, selama Januari ini tak bisa melaut karena langkanya minyak tanah sebagai bahan campuran solar, yang biasa mereka gunakan untuk bahan bakar minyak (BBM) kapalnya. Akibatnya, 1.000 lebih anak buah kapal (ABK) penangkap ikan tadi terpaksa menganggur.
Pengangguran yang terjadi ini cukup berat, karena kapal yang menganggur sudah mencapai 75 persen. Kalau minyak tetap langka, jumlah kapal yang tidak melaut akan bertambah banyak. Saat ini saja, kolam kapal di Kompleks Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap (PPSC) penuh dengan kapal yang sandar.
"Sebenarnya para nelayan dan pemilik kapal menyadari, kalau menggunakan BBM campuran solar dan minyak tanah, mesin kapalnya mudah rusak. Namun, mereka lakukan juga, karena kalau murni menggunakan solar, hasilnya tidak memadai," kata Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Cilacap, Atas Munandar Senin (21/1) pagi.
Para pemilik kapal yang bisa mengoperasikan kapalnya, adalah mereka yang bisa membeli minyak tanah dengan harga Rp 3.000 per liter. Sedang harga solar Rp 4.300 per liter. "Sampai saat ini, harga ikan masih stabil, sementara harga BBM terus naik dan sering langka, khususnya minyak tanah," katanya.
Dengan langkanya minyak, banyak nelayan yang putus asa, karena tidak bisa melaut dan tak bisa menghidupi keluarga mereka. Para nelayan terpaksa menjual sebagian harta bendanya. [WMO/M-11]