sia Provinsi Banten sudah tujuh tahun, namun perjalanan pembangunannya masih stagnan. Padahal, jika dilihat dari nilai APBD Banten setiap tahun yang mencapai Rp 2 triliun, seharusnya berbagai persoalan bisa secara perlahan diatasi. Alokasi anggaran untuk sektor pendidikan dan kesehatan, yang menurut amanat UUD 1995 harus sebesar 20 persen dari jumlah APBD dan APBN, belum sepenuhnya dijalankan secara konsisten.
Sektor pendidikan yang sering disorot, karena kurang mendapat perhatian secara optimal di Banten, hingga kini masih terseok- seok. Namun, di Kabupaten Lebak yang pada tahun 2004 banyak ditemukan bangunan sekolah dasar (SD) yang rusak, kini secara perlahan sudah diperbaiki, bahkan sudah dibangun gedung baru.
Perubahan wajah pendidikan di Lebak ke arah yang lebih baik, karena tekad dan komitmen dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak sendiri yang dipimpin oleh Bupati Mulyadi Jayabaya. Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah daerah setempat untuk memperbaiki gedung-gedung sekolah yang rusak.
Sedangkan gedung sekolah yang rusak kini yang paling parah terdapat di Kabupaten Serang. Selama tahun anggaran 2007, baru beberapa gedung sekolah yang diperbaiki, itu pun setelah beberapa gedung SD ambruk.
Belum lama ini, Gedung SDN Sukamaju, Desa Cikeusal, Kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang, ambruk, karena sejak dibangun 1989, gedung sekolah itu tidak pernah diperbaiki. Kondisi bangunan sekolah itu sudah lapuk, temboknya pecah-pecah, bahkan atap yang terbuat dari genteng juga rusak. Akibat ambruknya gedung sekolah itu, ratusan siswa kelas I dan II terpaksa harus belajar di halaman sekolah, di bawah terik sinar matahari.
Salah seorang guru SDN Sukamaju, Titin Tursini, di Serang, mengungkapkan, pihak sekolah itu sudah berulang kali mengajukan permohonan kepada Dinas Pendidikan Serang, namun tidak pernah direspons. Dia mengatakan, kejadian ambruknya gedung sekolah itu, terjadi pada malam hari, sehingga tidak memakan korban jiwa manusia.
"Kondisi gedung sekolah itu sudah tidak laik dipakai. Para siswa dan guru selalu dihantui perasaan takut setiap kali melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Karena itu, kami meminta agar para pejabat di Kabupaten Serang untuk memperhatikan kondisi gedung sekolah yang rusak sehingga para siswa bisa belajar dengan aman dan nyaman," kata Titin.
Belajar di Halaman
Salah seorang siswa kelas II SDN Sukamaju, Sita Rahayu (9), mengaku, selama beberapa hari terakhir ini, siswa kelas I dan II harus belajar di halaman.
"Kami merasa tidak nyaman belajar di halaman sekolah. Konsentrasi belajar kami terganggu karena suara kendaraan di jalan begitu bising. Belum lagi kalau hujan turun, kami harus berlari dan menyelamatkan alat tulis dan buku," tutur Sita.
Berdasarkan pantauan, Gedung SDN Sukamaju terdiri atas enam ruang kelas. Satu ruang kelas sudah ambruk dan dua ruang kelas lainnya nyaris ambruk. Ruang kelas yang kondisinya sedikit baik hanya tiga.
Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pendidikan Kecamatan Cikeusal, Chosyim, mengungkapkan, sebanyak 10 gedung SDN di kecamatan ini sudah dalam kondisi rusak dan tidak laik pakai untuk kegiatan belajar mengajar. Terkait kondisi gedung sekolah yang rusak itu, pihaknya sudah melaporkan ke Dinas Pendidikan Kabupaten Serang, namun belum ditindaklanjuti.
Dia mengaku merasa khawatir dengan kondisi gedung sekolah di tempat itu, kalau sampai memakan korban.
"Setiap tahun kami melaporkan ke Dinas Pendidikan Serang, namun hasilnya tetap sama. Kami hanya khawatir, pada saat gedung sekolah itu ambruk, ratusan siswa masih berada di dalam ruangan," katanya.
Berdasarkan data dari Dinas Pendidikan Banten, jumlah ruang kelas SD yang rusak masih banyak, antara lain ruang kelas SD yang rusak berat sebanyak 4.913, dan rusak ringan 4.977.
Kepala Bidang Bina Program Dinas Pendidikan Banten, Ino S Rawita mengungkapkan, kondisi gedung SD yang paling banyak mengalami kerusakan terdapat di Kabupaten Serang, terdiri atas 1.600 ruang kelas dalam kondisi rusak berat dan rusak ringan 1.471 ruang kelas.
Di Kabupaten Pandeglang, ruang kelas yang rusak berat 1.148, dan rusak ringan 734. Sementara di Kabupaten Lebak, ruang kelas SD yang rusak berat 1.098, dan rusak ringan 797. Sedangkan di Kabupaten Tangerang, ruang kelas SD yang rusak berat 1.065, rusak ringan 1.563. Di Kota Cilegon yang rusak berat dua ruang kelas dan rusak ringan 234. Di Kota Tangerang 178 ruang kelas rusak ringan. [SP/Laurens Dami]