[JAKARTA] Berdasarkan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dipublikasikan pekan lalu di Paris, Prancis, virus flu burung H5N1 dapat menyebar secara tak langsung, kadang melekat pada permukaan atau terbang dalam debu pupuk yang kemudian menginfeksi manusia.
Tim WHO meneliti semua kasus influenza avian pada manusia yang telah menjangkiti 350 orang di 14 negara, serta membunuh 217 orang sejak 2003, dan menemukan bahwa 25 persen kasus tidak memiliki penjelasan. Sebagian besar menular secara langsung dari burung ke manusia.
Dalam laporan yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine, sangat jarang seseorang dapat menginfeksi orang lain, dan umumnya relatif dekat menular lewat kontak fisik langsung.
"Sekitar satu seperempat atau lebih pasien dengan infeksi virus influenza tipe A (H5N1) sumber penularannya tidak jelas. Penularan dari lingkungan ke manusia tetap memungkinkan," tutur peneliti WHO, Dr Frederick Hayden.
Dilaporkan pula, untuk beberapa pasien, identifikasi risiko penularan setelah mengunjungi pasar unggas. Kemungkinan partikel kecil dari kontaminasi virus berubah-ubah melekat pada permukaan. Atau kemungkinan pupuk terbuat dari kotoran burung yang terinfeksi yang membawa virus ke hidung atau mulut manusia.
Sementara itu, Menteri Kesehatan Siti Fadila Supari mengungkapkan, hingga tahun 2007, kasus flu burung pada manusia di Indonesia mencapai 119 kasus yang menyebar di 12 provinsi meliputi 44 kabupaten. Sebanyak 97 orang di antaranya meninggal dunia dengan angka kematian (case fatality rate) 81,51 persen.
"Sampai 18 Januari 2008 ini dilaporkan terdapat tiga kasus baru dari Tangerang dan Bekasi. Mohon diperhatikan, saya minta agar pemerintah daerah setempat, terutama kedua kabupaten tersebut untuk mengatasi kasus flu burung," kata Siti, di Jakarta, pekan lalu.
Terkontaminasi
Tim ahli flu burung WHO juga mengutarakan, meminum air yang bersih dan memakan makanan yang dimasak dengan benar tidak akan berisiko. Tetapi proses pencernaan dari sejumlah produk kontaminasi virus atau berenang dan mandi dalam air yang terkontaminasi dapat menimbulkan risiko.
Virus H5N1 diperkirakan berakar di wilayah Asia, termasuk Indonesia, serta Afrika dan Timur Tengah. Kemudian seringkali dibahas di Eropa dan menganjurkan pembantaian ratusan juta ekor ayam.
Para peneliti mengatakan bahwa orang jarang terinfeksi. Ketakutan masyarakat adalah virus akan bermutasi ke strain yang dapat dengan mudah menular dari satu orang ke orang lain, dan menimbulkan sebuah pandemik yang dapat membunuh jutaan orang dalam beberapa bulan. [BBC/DLS/S-26]