SUARA PEMBARUAN DAILY

Anak Indonesia, dari Generasi Tempe ke Generasi Kerupuk

Kelangkaan dan mahalnya sejumlah bahan kebutuhan konsumsi masyarakat, seperti kedelai, jagung, dan tepung terigu berdampak besar bagi asupan gizi, nutrisi, dan kalori masyarakat, khususnya masyarakat miskin yang jumlahnya lebih dari 70 juta penduduk di Indonesia. Dampak paling buruk terhadap kekurangan, kelangkaan, dan mahalnya bahan kebutuhan pangan rakyat ini mengakibatkan masalah gizi buruk yang dihadapi balita Indonesia semakin besar.

Harga kedelai saat ini sudah mencapai Rp 8.000 per kg, jauh lebih mahal dibanding beras. Kedelai untuk menjadi bahan makanan seperti tahu, tempe, dan susu kedelai harus melalui proses yang juga membutuhkan biaya tambahan.

"Ini akan membuat masyarakat miskin semakin sulit mendapatkan bahan pangan murah seperti tahu tempe. Sekarang banyak orangtua terpaksa hanya memberi makan lauk kerupuk pada anaknya," ujar Guru Besar Ilmu Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor, Hidayat Syarief, kepada SP, di Jakarta, pekan lalu.

Menurut dia, sudah waktunya pemerintah kembali menggerakkan para petani untuk menanam bahan kebutuhan pokok rakyat, seperti kedelai dan jagung. "Dulu ada gerakan menanam kedelai, sekarang perlu dihidupkan lagi. Ironis, kita punya lahan yang sangat luas dan subur tetapi semua bahan pangan harus diimpor," tutur Rektor Universitas Sahid Jakarta ini.

Dia menjelaskan, secara langsung, gizi buruk diakibatkan terus rendahnya konsumsi energi dan protein, juga mikronutrien dalam makanan sehari-hari dalam jangka waktu lama. Bila anak penderita gizi buruk tidak segera ditangani, amat berisiko tinggi dan berakhir dengan kematian, sehingga dapat meningkatkan angka kematian.

Padahal, angka kematian menjadi salah satu indikator derajat kesehatan. Anak yang pernah menderita gizi buruk sulit mengejar pertumbuhan sesuai umurnya. Pada tingkat tertentu, kekurangan gizi akan mengakibatkan berat otak, jumlah sel, ukuran besar sel, dan zat-zat biokimia lain lebih rendah daripada anak normal.

Makin muda usia anak yang menderita kurang gizi, makin berat akibat yang ditimbulkan. Keadaan akan menjadi lebih berat jika kurang gizi dialami sejak dalam kandungan. Kemunduran mental akibat gizi buruk dapat bersifat permanen atau tidak dapat lagi diperbaiki (irreversible). Namun, pada keadaan kurang gizi yang ringan maupun sedang, kecenderungan mental dapat dipulihkan.

Kemiskinan dan Budaya

Sedangkan ahli gizi dari Universitas Indonesia (UI), Ign Arief Suherman, menilai, masalah gizi buruk bukan hanya disebabkan oleh kemiskinan. Masalah ini kompleks, tidak hanya dari segi ekonomi atau pun kesehatan, tapi juga dari aspek sosial dan budaya.

"Pemantauan tim antropologi UI di Yahukimo, Papua, menunjukkan bahwa masalah kekurangan gizi muncul seiring dengan semakin berkurangnya wilayah tanam masyarakat, karena pembabatan hutan sagu dan industrialisasi yang juga mematikan sumber-sumber makanan protein lainnya," ucapnya.

Dia mengungkapkan, di Sambas, Kalimantan Barat, 50 persen balita yang mengidap gizi buruk bukan disebabkan kemiskinan, melainkan karena budaya makan. Kebanyakan ibu yang baru melahirkan mengonsumsi nasi dan ikan kering, tetapi tanpa sayur karena sayur berkorelasi dengan kemiskinan.

Dia mengatakan, Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Gizi Buruk telah dikeluarkan sejak Juli 2005. Upaya penanggulangan gizi buruk juga sudah dilakukan, seperti pemberian makanan tambahan, promosi keluarga sadar gizi, dan revitalisasi posyandu. Namun, upaya ini ternyata belum mampu menanggulangi masalah gizi buruk.

"Bahkan, masih saja setiap hari kita mendengar pemberitaan mengenai kasus gizi buruk di media massa. Tingkat prevalensi kekurangan gizi di Indonesia cenderung meningkat dari tahun ke tahun," ujarnya.

Tahun 2003 ada 17,7 persen penderita gizi buruk, tahun 2004 menjadi 17,8 persen, dan tahun 2005 meningkat lagi menjadi 19,5 persen. Memang menyedihkan, sebab masalah gizi buruk, termasuk busung lapar, semestinya dapat dicegah. Langka dan mahalnya harga tempe dan tahu bagi warga miskin, akan mengubah anak Indonesia dari generasi tempe ke generasi kerupuk. [SP/Eko B Harsono]


Last modified: 20/1/08