[BEOGRAD] Tomislav Nikolic, sekutu mendiang diktator Slobodan Milosevic, mengungguli kandidat Presiden Serbia yang pro Barat dalam pemilu, Minggu (20/1). Tetapi, Nikolic gagal untuk memenangi pemilihan dengan suara mayoritas mutlak, sehingga diperkirakan bakal terjadi pemilihan presiden putaran kedua (runoff).
Nikolic, yang juga pemimpin Partai Radikal, memenangi 39 persen suara dalam pemilihan putaran pertama, sedikit lebih unggul ketimbang kandidat Boris Tadic yang meraih 35 persen suara, demikian menurut Center for Free Elections and Democracy di Beograd, yang melakukan perhitungan suara secara independen.
Sementara komisi pemilihan umum, yang memberikan hasil perhitungan suara awal setelah 30 persen suara usai dihitung, mengatakan sejauh ini Nikolic meraih 38 persen dukungan, sedangkan Tadic memperoleh 35 persen suara. Komisi menyebutkan, hasil perhitungan suara akhir, yang akan dikeluarkan Senin (21/1), tampaknya tidak akan memperlihatkan hasil yang terlampau berbeda dengan perhitungan suara sementara.
"Kami dapat menyimpulkan bakal terjadi pemilihan putaran kedua," ungkap Zoran Lucic, seorang pejabat kelompok pemantau pemilu independen. "Pertarungan tampaknya akan berlangsung sangat ketat," ungkap Lucic lebih jauh.
Baik kubu Nikolic maupun Tadic mengatakan mereka telah bersiap menghadapi runoff yang dijadwalkan berlangsung 3 Februari.
Perhitungan suara dapat menentukan apakah Serbia, negara Balkan yang tengah bergolak, akan bergerak mendekati Uni Eropa, ataukah bakal kembali ke keterpencilan sebagaimana di era Milosevic, yang wafat pada 2006, ketika tengah menjalani persidangan atas kasus genosida di mahkamah kejahatan perang PBB.
"Serbia telah memperlihatkan betapa negara itu menginginkan perubahan," kata Nikolic usai perhitungan suara. Pemilu Serbia dibayang-bayangi oleh rencana deklarasi kemerdekaan Kosovo secara unilateral pada bulan Februari. [AP/E-9]