![]()
AP/Hatem Omar
Anak-anak terpaksa bermain di tengah kegelapan di kamp pengungsi Rafah, selatan Jalur Gaza, Minggu (20/1). Satu-satunya pembangkit listrik di Gaza dimatikan karena bahan bakar habis setelah jalan masuk ke Gaza diblokade oleh Israel. Kini 1,5 juta penduduk Gaza tak mendapatkan
penerangan listrik.
[GAZA] Satu-satunya pembangkit listrik di Gaza tidak dapat beroperasi, Minggu (20/1), setelah Israel memblokade pengiriman bahan bakar yang dibutuhkan untuk mengoperasikan pembangkit tersebut.
Gaza diselimuti kegelapan. Warga yang sudah terkepung terancam kehabisan cadangan makanan dan aki untuk mengantisipasi kedinginan dan kegelapan pada beberapa hari mendatang. Pasokan bahan bakar ke Gaza terputus total. Beberapa pekan lalu, Israel juga telah mengurangi pasokan bahan bakar sebagai taktik tekanan.
Badan kemanusiaan PBB, U.N. Relief and Works Agency (UNRWA), mengutuk Israel. Tetapi, Israel mengatakan UNRWA seharusnya melontarkan kritik mereka terhadap kelompok-kelompok militan Palestina yang menembakkan roket ke wilayah selatan Israel setiap harinya.
Israel menutup seluruh pintu perbatasan yang terhubung ke Gaza pekan lalu dengan alasan serangan roket militan Palestina terus berlanjut dari arah Jalur Gaza.
Selain menerima pasokan bahan bakar dari Israel untuk mengoperasikan pembangkit listrik satu-satunya di wilayah itu, Gaza juga memperoleh dua pertiga pasokan listriknya secara langsung dari Israel. Sejumlah pejabat Israel mengatakan, pasokan listrik langsung dari Israel tidak akan terpengaruh oleh dihentikannya pasokan bahan bakar.
Kepala Otoritas Energi Gaza, Kanan Obeid, mengakui Hamas menghentikan pengoperasian pembangkit listrik sehingga Gaza jadi gelap total. Sejumlah kru televisi dan wartawan diundang untuk menyaksikan penghentian beroperasinya pembangkit listrik sesaat sebelum pukul 18.00 waktu setempat, Minggu (20/1).
Beberapa menit kemudian, warga Gaza mulai menyalakan lilin sebagai sebentuk protes.
Pengiriman bahan bakar secara teratur dari Israel tidak datang pada hari Minggu karena terminal bahan bakar ditutup. "Pembangkit hampir tidak punya cadangan bahan bakar," kata Rafik Maliha, direktur pembangkit listrik.
Pejabat Kementerian Kesehatan Dr Moaiya Hassanain memperingatkan, penghentian bahan bakar akan menyebabkan bencana kesehatan. "Kami punya pilihan, apakah menghentikan pasokan listrik untuk bayi-bayi di bangsal bersalin, ataukah menghentikan aliran listrik untuk pasien operasi jantung, atau menutup ruang-ruang operasi," kata Hassanain.
Pura-pura
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Israel Arye Mekel menuduh Hamas berpura-pura menciptakan situasi darurat, kendati Gaza tetap menerima 75 persen pasukan listriknya secara normal dari Israel. "Penggelapan hanyalah taktik Hamas seolah-olah terjadi krisis semacam itu guna menarik simpati internasional," timpal Mekel.
Minggu malam, Presiden Palestina Mahmoud Abbas mendesak Israel agar mencabut blokade. Demikian disampaikan juru bicara Abbas, Nabil Abu Rdeneh. Abbas hanya berkuasa secara efektif di Tepi Barat, setelah Hamas menghalau pasukannya dari Gaza pada bulan Juni.
Warga Gaza bergegas membeli lilin dan aki, serta bahan kebutuhan pokok seperti beras, tepung, dan minyak sayur, kata pemilik toko kelontong, Sami Mousa. Banyak orang ingin berbuat yang sama, kata Mousa. Tetapi masalahnya, mereka tidak punya uang.
Pabrik roti berhenti beroperasi karena blokade Israel. Mereka tidak punya listrik maupun tepung.
Komite Perlawanan Rakyat, yang terkait dengan Hamas, mengancam akan membobol blokade dengan cara menerobos perbatasan dengan Mesir "secara paksa".
Meskipun dikepung dan diselimuti kegelapan, warga Gaza terlihat tidak panik. Sebab mereka sudah terbiasa menghadapi penghentian pasokan bahan bakar, pemadaman listrik, serta blokade-blokade yang lain sejak Hamas mengambil alih Gaza pada bulan Juni 2007.
Pemimpin sayap politik Hamas yang hidup di pengasingan, Khaled Meshaal, mengajak pemimpin Arab dan Abbas untuk melupakan perbedaan pendapat di antara mereka dan segera membantu rakyat Gaza yang tengah terkepung.
Dari Amman dilaporkan, pemimpin Yordania Raja Abdullah II menyerukan, baik pada Israel maupun Palestina, bahwa momentum harus dimanfaatkan untuk mendorong kemajuan upaya-upaya perdamaian, kendatipun situasi mengerikan di Jalur Gaza sekarang semakin memburuk.
Raja Yordania tersebut mengutuk "pelanggaran-pelanggaran militer Israel" di Gaza. Namun, Abdullah tidak menyebutkan secara spesifik serangan-serangan militan Hamas ke Israel. Padahal, hubungan Yordania dengan Hamas sangat dingin.
Ia mengatakan, Israel tidak boleh melakukan tindakan apa pun, khususnya langkah-langkah terkait perluasan pemukiman di wilayah-wilayah Palestina, yang dapat menghalangi upaya-upaya perdamaian dengan Palestina. Yordania memiliki hubungan hangat dengan Israel di bawah kesepakatan damai 1994. [AP/AFP/E-9]