SUARA PEMBARUAN DAILY

CAMS Award, Penghargaan untuk Animasi Tanah Air

[JAKARTA] Dunia animasi Indonesia semakin menonjol. Berbagai kegiatan dilakukan agar masyarakat lebih menghargai produk animasi Tanah Air, seperti CAMS Award yang digagas PT Citra Andra Media (Creative, Animation, and Multimedia/CAM Solutions).

Penghargaan CAMS Award bertujuan untuk menjaring dan mendorong potensi di bidang animasi. Penghargaan itu diberikan di Jakarta, baru-baru ini. Pemberian penghargaan berdasarkan lomba pembuatan animasi pendek dengan tema Creativity & Fun building Characters (CFbC) Membangkitkan Karakter Bangsa. Tema tersebut diangkat CAM Solutions sebagai keinginan untuk mewujudkan suatu perbaikan perilaku masyarakat Indonesia.

Pada ajang ini, peserta dibagi menjadi dua kategori, yaitu pelajar/mahasiswa dan umum. Panitia CAMS Award menerima 54 karya, tetapi 10 peserta harus gugur karena tidak mengikuti ketentuan, yaitu durasi yang terlalu lama. Untuk nominator, dipilih lima karya dari masing-masing kategori.

"Dari sepuluh animator terpilih, kebanyakan berasal dari luar DKI Jakarta. Hal itu menunjukkan bahwa animasi sudah dinikmati secara merata di Indonesia," ujar Karyana, administrasi CAMS, yang saat itu juga berperan sebagai pembawa acara.

Sepuluh nominator tersebut berasal dari beberapa kota di Indonesia, yaitu Jakarta, Depok, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Malang, dan Padang. Dari nominator itu, dipilih dua karya terbaik dari masing-masing kategori sebagai juara.

Untuk memperoleh penghargaan, ada ketentuan umum yang harus dipenuhi peserta, yaitu animasi berupa iklan layanan masyarakat. Tiga topik yang disodorkan panitia, yaitu disiplin, tepat waktu, dan budaya antri.

"Proses penyisihan dilakukan juri, yang terdiri dari tiga orang, selama sembilan hari. Juri tidak hanya mengamati, tetapi juga harus menganalisis dengan teliti dan cermat," kata Karyana.

Dewan juri terdiri atas Rully C Rochady (ketua), Wahyu Aditya (anggota), dan Drs Suyadi (anggota) yang lebih dikenal dengan panggilan Pak Raden dalam serial Unyil. Untuk pemilihan karya terbaik, dewan juri terdiri dari lima orang. Sebagai ketua juri adalah Wahyu Aditya dengan anggota Deddy Syamsuddin, Gotot Prakosa, Drs Suyadi, dan Slamet Rahardjo.

Sementara itu, durasi film animasi dibatasi selama 30 detik. Hal itulah yang menjadi salah satu kendala, seperti yang diutarakan Karyana seusai acara. Menurutnya, itu bukan hal mudah karena harus menuangkan ide dalam waktu singkat, tetapi ada tujuan yang harus dicapai.

Butuh Dukungan

Setelah melakukan proses penjurian akhir, dewan juri memutuskan empat karya terbaik. Kategori pelajar/mahasiswa dimenangkan oleh Muhammad Fathanatul Haq dari SMKN 3 Kasihan (Yogyakarta), dengan karya berjudul Biasakan Tepat Waktu, dan Saeful Akbar dari Universitas Informasi dan Bisnis Indonesia (Bandung), dengan karya berjudul Sama Dengan. Pemenang kategori umum, yaitu Arie Hendrawan dengan karya berjudul Selangkah Lagi, dan Wiryadi Dharmawan dengan karya berjudul Antre atau Sedih. Juara-juara tersebut tidak terbagi menjadi juara satu dan dua, tapi sama-sama memenangkan penghargaan sebagai karya terbaik.

Arie Hendrawan, pemenang kategori umum yang sehari-hari berprofesi sebagai dosen di salah satu universitas swasta mengungkapkan, inspirasi film yang dibuat berdasar kecintaan terhadap dunia sepakbola. Arie ingin agar sepakbola Indonesia bisa lebih maju dan bibit-bibit atlet olahraga konsisten dengan cita-cita mereka.

"Animasi Indonesia sangat butuh dukungan dari pemerintah. Saya bermimpi, suatu saat, animasi Indonesia bisa sehebat Disney atau Pixar. Sebenarnya, potensi kita sudah cukup baik," kata Arie.

Animator asal Bandung, Anastasia Athea Halleyana memilih judul yang cukup unik, yaitu Surabique. Film animasi buatannya memilih topik budaya antre. "Surabique singkatan dari Surabi Queue (antrean surabi). Saya melihat, jika ada produk baru, terutama makanan, yang diluncurkan, maka orang akan rela antre berlama-lama. Tetapi, kadang ada yang menyerobot antrean. Hal itu yang menjadi inspirasi saya," kata Athea. [DMP/N-4]


Last modified: 21/1/08