SUARA PEMBARUAN DAILY

AS Resesi, Produk Tiongkok Akan Banjiri Indonesia

[JAKARTA] Ketika konsumsi masyarakat Amerika Serikat (AS) melemah, seiring terjadinya resesi ekonomi di negara tersebut, diprediksi barang-barang asal Tiongkok akan membanjiri pasar Indonesia. Pasalnya, eksportir terbesar AS adalah Tiongkok.

"Mereka kemungkinan akan melempar barang ke Indonesia untuk menyelamatkan barang-barang industri, yang sedianya akan diimpor ke AS," kata Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, M Lutfi ketika ditemui di Jakarta, akhir pekan lalu.

Hal itu katanya, akan menyebabkan permasalahan dari pertumbuhan industri Indonesia. "Ini yang saya pikir jauh-jauh hari harus diantisipasi," tuturnya.

Krisis kredit berbasis perumahan (suprime) memang melemahkan perekonomian AS, memperlambat pertumbuhan ekonomi AS, dan membuat turunnya konsumsi tahun ini. Ditambah lagi dengan tingginya harga bahan bakar minyak, menyebabkan permintaan barang industri dan penjualan melemah.

Meski begitu, ancaman akibat resesi ekonomi di AS tidaklah terlalu berpengaruh pada tingkat ekspor Indonesia ke negara tersebut. Pasalnya, Indonesia dan AS tidak terlalu berkoneksi banyak.

"Ekspor nonmigas kita ke AS tidak lebih dari US$ 2 miliar. Yang jadi masalah sekarang, ketika produksi Tiongkok makin membanjiri Indonesia," urainya.

Lutfi mengatakan, industri tekstil dalam negeri, patut diberi perhatian lebih. Sebab, kapasitas permesinan tekstil pertumbuhannya akan semakin melemah.

Penurunan katanya, terjadi sejak tiga tahun terakhir, yang sangat berpengaruh pada pola investasi Indonesia ke depan. "Yang menjadi masalah, apakah tahun ini akan terjadi perbaikan kapasitas permesinan? Dengan pelemahan ini, ditambah banjir produk impor, membuat kapasitas permesinan kita akan memburuk. Kita khawatir, Indonesia akan menjadi negara yang justru lemah dalam kapasitas industri, tapi tetap bagus dari sisi sumber daya alam," jelas Lutfi.

Untuk bisa bersaing dengan negara lain, menurut Lutfi, perbaikan iklim investasi adalah perbaikan ideologi yang akan terus diperbaiki. Salah satu caranya adalah dengan memberikan insentif.

Bahkan, kalau dirasa belum cukup, menurutnya, pemerintah perlu memberikan proteksi kepada para pelaku industri.

"Misalnya, saat tekstil dan produk tekstil (TPT) dari Tiongkok membanjiri pasar Indonesia, kita memberi insentif. Proteksi pada industri nasional juga harus diberikan," katanya.

Jika produk impor tidak dijaga dengan baik, Lutfi memprediksi, akan terjadi lagi banjir TPT ratusan persen, seperti yang pernah terjadi pada 2006 lalu. Saat ini, pemerintah tengah membicarakan soal proteksi dan insentif.

"Kita berharap, TPT dalam negeri bisa bersaing dengan TPT impor. Kita juga harus terus menjaga agar pasar dalam negeri tidak dibanjiri produk asing, yang sebenarnya merupakan strategi dumping produk-produk tidak kompetitif, yang dilempar pihak asing. Kalau ini terjadi, investasi Indonesia akan melemah," ujarnya. [D-10]


Last modified: 21/1/08