
[SHENZHEN] Perusahaan Asuransi terbesar kedua di Tiongkok, Ping An Insurance (Group) Company of China Ltd, berencana meningkatkan anggaran investasi luar negeri menjadi US$ 22 miliar. Hal itu merupakan bagian dari kebijakan pemerintah negara itu, yang secara agresif mendorong investasi perusahaan dalam negeri ke berbagai negara di luar Tiongkok. Demikian diberitakan FT.com, Senin (21/1).
Jumlah investasi luar negeri itu, tiga kali lipat lebih besar dibanding biaya akuisisi sejumlah saham di luar negeri, sejak setahun lalu. Menurut pendapat sejumlah analis bisnis dan perbankan, besarnya nilai yang dianggarkan tersebut, menunjukkan perusahaan-perusahaan di Tiongkok sangat serius mengakuisisi atau membeli saham-saham perusahaan pesaing yang ada di negara Barat.
Di sisi lain, banyak lembaga keuangan di Amerika Serikat dan Eropa yang belakangan ini merasakan harga saham perusahaan mereka yang anjlok, setelah rugi miliaran dolar AS akibat gejolak pada bisnis kredit perumahan.
Situs itu juga menyebutkan, keinginan Ping An untuk berinvestasi di luar negeri sudah mendapat persetujuan dari Pemerintah Tiongkok. Pada awal Desember 2007 lalu, Pemerintah Tiongkok memberi persetujuan kepada perusahaan itu untuk menginvestasikan dananya di pasar luar negeri, maksimal 15 persen dari total aset mereka. Investasi yang diizinkan sebelumnya hanya lima persen dari total aset mereka.
Tetapi, dengan kebijakan Pemerintah Tiongkok, yang mendorong perusahaan dalam negeri untuk investasi di banyak negara, maka nilai investasi pun ditingkatkan. Dengan izin itu, perusahaan yang 17 persen sahamnya dimiliki oleh HSBC, menjadi badan usaha pertama yang mendapat lampu hijau untuk menginvestasikan dananya ke luar negeri, di bawah kebijakan yang disebut Skema Institusi Investor Domestik.
Di sisi lain, Ping An berencana mengeluarkan sejumlah saham baru yang dijual ke publik dan institusi di pasar sekunder di Shanghai, Tiongkok. Penjualan itu diperkirakan untuk meraup lebih dari US$ 16 miliar, berdasarkan penutupan harga penjualan saham 98,21 Rmb hari Jumat, pekan lalu. Perusahaan itu di Shianghai juga berencana mengeluarkan obligasi senilai US$ 5,7 miliar.
HSBC, yang memiliki saham di perusahaan itu menegaskan, mereka tidak akan ikut membeli saham di Ping An, semata-mata terkait adanya ketentuan soal kepemilikan saham investor domestik. Menurut perusahaan asuransi itu, pengumpulan dana melalui penjualan saham dan obligasi sebenarnya akan digunakan lagi untuk mendanai sejumlah akuisisi saham perusahaan lain, yang sangat menguntungkan bagi ekspansi kelompok usahanya. Langkah itu juga untuk meningkatkan efisiensi operasional agar makin mampu bersaing dengan perusahaan dalam bisnis asuransi, perbankan, dan kegiatan lainnya.
"Sektor finansial di AS dan Eropa sementara ini begitu tertekan. Ini merupakan peluang untuk berbagai perusahaan Tiongkok, seperti Ping An, untuk membeli saham mereka," tegas Steven Sun, salah seorang pejabat HSBC. [FT/com/E-4]