SUARA PEMBARUAN DAILY

TAJUK RENCANA I

Menghadang Resesi Ekonomi AS

Gambaran suram masih sulit beringsut manakala kita merefleksikan kondisi perekonomian nasional. Mengawali tahun 2008, perekonomian kita masih memanggul beban berat warisan dari tahun sebelumnya yaitu lonjakan harga minyak yang membawa dampak ikutan begitu dahsyat ke sendi-sendi perekonomian.

Kondisi ini diperparah oleh persoalan klasik di dalam negeri, yakni lemahnya manajemen ekonomi nasional. Sebut saja kelangkaan minyak goreng dan minyak tanah, serta lonjakan harga kebutuhan pokok masyarakat, menyebabkan kue ekonomi tak kunjung dinikmati mayoritas masyarakat. Belum optimalnya kinerja elemen-elemen ekonomi, seperti sektor perbankan dan APBN untuk menstimulasi pergerakan roda perekonomian nasional, memaksa pemerintah terus bergelut dengan berbagai tantangan.

Di awal 2008, perekonomian dunia dibayangi ancaman resesi perekonomian Amerika Serikat (AS). Ancaman itu adalah warisan krisis kredit sektor properti di AS tahun lalu, yang menggerogoti sistem keuangan negara tersebut dan global. Buktinya, beberapa lembaga investasi kelas dunia dalam kondisi "lampu kuning", sebagai dampak dari krisis kredit properti tersebut.

Indonesia, tentu juga merasakan ancaman tersebut. Bahkan ancaman global itu diperparah dengan persoalan dalam negeri, berupa kenaikan harga komoditas pangan, seperti kedelai dan tepung terigu. Banyak kalangan memperkirakan, kondisi yang dipengaruhi melangitnya harga komoditas di pasar internasional itu, bakal berlangsung lama.

Apabila resesi benar-benar melanda AS, bisa dipastikan perekonomian kita terimbas hebat. Ekspor kita ke negara adidaya itu pasti merosot. Ekspor ke negara lain turut melemah, karena negara tujuan ekspor lainnya pun terkena dampak resesi AS. Belum lagi ambruknya lembaga investasi dan keuangan asal AS yang beroperasi di Indonesia, pasti akan membawa dampak pada investasi dan sistem keuangan nasional.

Hal yang tak kalah pentingnya adalah fundamental ekonomi kita harus diakui sebagian masih ditopang oleh faktor psikologis. Ambruknya perekonomian AS, akan mengirim sinyal sentimen negatif kepada pelaku pasar di seluruh dunia. Hal itu akan memengaruhi kekuatan fondasi perekonomian kita, yang hingga kini menganggap AS sebagai jangkar dari perekonomian global.

Paparan tersebut tentu menjadikan kita waspada, agar ancaman resesi di AS tersebut tak menyebabkan perekonomian kian limbung. Namun, tak mudah bagi kita berkelit dari dampak ikutan resesi di AS. Hal maksimal yang bisa dan harus dilakukan seluruh pemangku kepentingan nasional, baik dari aspek fiskal, moneter, maupun sektor riil, adalah merumuskan langkah untuk meminimalisasi dampak resesi tersebut.

Kerja keras harus dilakukan pemerintah selaku regulator sisi fiskal dan sektor fiskal, serta Bank Indonesia (BI) dari sisi moneter. Tantangan terbesar bagi pemerintah adalah meningkatkan kapasitas APBN agar benar-benar menjadi stimulus bagi perekonomian, memformulasikan kebijakan yang merangsang pergerakan investasi dan sektor riil, serta merumuskan kebijakan yang mampu menerobos kesulitan-kesulitan struktural yang ada, semisal lonjakan harga dan kelangkaan komoditas. Hal terakhir sangat perlu dilakukan, sebagai jaring pengaman bagi masyarakat miskin.

Sementara dari sisi moneter, BI berupaya keras menciptakan kondisi moneter yang kondusif untuk memberi ruang bagi ekspansi fiskal dan sektor riil, serta memperkuat konsolidasi perbankan untuk mendukung pergerakan ekonomi melalui penyaluran kredit investasi dan kredit modal kerja.

Sinergi dari semua itu, tidak saja untuk menghadang ancaman resesi dari AS, tetapi memang sangat diperlukan untuk membawa perekonomian kita tumbuh lebih cepat.


Last modified: 20/1/08