SUARA PEMBARUAN DAILY

Semifinal dan Final LDI 2007 Diundur

[JAKARTA] Badan Liga Indonesia (BLI) PSSI terpaksa mengundurkan jadwal pertandingan semifinal dan final Liga Djarum Indonesia (LDI) 2007. Pertandingan semifinal dan final yang sebelumnya digelar tanggal 31 Januari dan 3 Februari di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, diundur menjadi 6 dan 9 Februari.

Sekretaris Jenderal PSSI, Nugraha Besoes kepada SP di Jakarta, Jumat (18/1) pagi menjelaskan, sebelumnya BLI sudah memutuskan bahwa akibat adanya kerusuhan di Stadion Brawijaya, Kediri, pertandingan semifinal dan final yang sebelumnya dilakukan 24 dan 27 Januari, harus ditunda ke 31 Januari dan 3 Februari.

Itu dilakukan BLI karena mereka memindahkan sisa pertandingan Grup A di Kediri ke Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Sidoarjo, Jatim, yaitu 21, 23, dan 26 Januari. Keputusan BLI pun yang menetapkan semifinal dan final 31 Januari dan 3 Februari pun akhirnya kembali diubah lagi menjadi 6 dan 9 Februari.

"Kami tidak mungkin bisa menggelar pertandingan di Stadion Utama pada 3 Februari karena stadion sudah dipesan Nahdlatul Ulama (NU)," katanya.

Selain itu, diputuskan juga bahwa Stadion Gelora 10 November Surabaya ditetapkan sebagai venue kedua pertandingan terakhir babak delapan besar Grup A. BLI segera melakukan koordinasi dengan panitia penyelenggara Persebaya.

Sponsor Rugi

Mengenai pengunduran jadwal semifinal dan final tersebut, bukan hanya BLI yang mengalami kerugian baik dalam bentuk moril maupun materil, tetapi juga pihak sponsor, PT Djarum. Menurut wakil dari Djarum, Fatih Chabanto dari PT Zentha Hitawasana, pengunduran jadwal semifinal dan final itu berpengaruh pada persiapan Djarum dalam menggelar acara final LDI 2007 dan acara-acara Djarum lainnya seperti Fair Play Award.

"Persiapan kami untuk acara final menjadi tidak jelas dan akan menambah biaya, termasuk mengundang artis-artis. Yang jelas, biaya akan membengkak," kata Fatih.

Fatih yang kebetulan menyaksikan pertandingan antara Arema Malang versus Persiwa Wamena pada babak delapan besar Grup A di Stadion Brawijaya, Kediri, menjelaskan bahwa kerusuhan di Kediri yang mengakibatkan seluruh pertandingan dialihkan ke Sidoarjo, bukanlah force majeure.

"Bukan. Itu bukan force majeure. Semuanya terjadi karena menurut saya keamanan di Kediri sangat lemah. Saya hanya melihat ada ratusan petugas keamanan tanpa perangkat keamanan di dalam stadion. Jumlah itu tidak sebanding dengan jumlah penonton, sehingga kerusuhan dengan mudah dapat meledak," ujar dia. [F-4]


Last modified: 18/1/08