enaikan harga kedelai di wilayah Banten yang terjadi akhir-akhir ini, membuat para produsen tahu tempe tidak berdaya. Ratusan produsen tahu tempe di Banten sempat kebingungan mengatasi dampak kenaikan kedelai. Apalagi kenaikan ini disertai kenaikan harga sejumlah penunjang produksi seperti minyak goreng dan minyak tanah.
Langkah yang dilakukan para produsen tahu tempe, mengurangi produksi, bahkan sempat menghentikan produksi karena kesulitan modal. Para produsen tahu tempe melakukan siasat lain, dengan menaikkan harga jual. Namun, solusi ini tidak bisa mengatasi persoalan karena keputusan itu tidak dilakukan bersamaan seluruh produsen.
Akibatnya, para konsumen mengeluh dan beberapa pelanggan enggan membeli tahu tempe di tempat langganan mereka. Realita ini juga menyulitkan para produsen tahu tempe, karena dagangan mereka tidak laku.
Banyak produsen tahu tempe di Serang menghentikan produksi karena tidak kuat modal. Mereka mengeluh tidak mampu membeli kedelai yang harganya meningkat tajam mencapai Rp 8.000 per kilogram (kg). Produsen terancam bangkrut, terpaksa menghentikan produksi dengan konsekuensi kehilangan mata pencarian dan karyawan harus kehilangan pekerjaan. Dampak dari kenaikan harga kedelai memang sangat luas, dan semakin meresahkan.
Untuk Kabupaten Serang, selama kenaikan harga kedelai, sekitar 200 produsen tahu tempe menghentikan produksi sejak April 2007 hingga Januari 2008. Di wilayah Kabupaten Pandeglang, sekitar 48 produsen tahu tempe terancam bangkrut.
Bendahara Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Kopti) Cabang Serang, Sudiana, di Serang, Selasa (15/1) menjelaskan, jumlah produsen tahu tempe selama kenaikan harga kedelai menurun drastis.
Sebelumnya yang terdaftar di Kopti Cabang Serang berjumlah 600 produsen dan sekarang yang masih bertahan sekitar 400 produsen. "Kondisi ini sangat memprihatinkan. Kami tidak bisa berbuat banyak. Bayangkan, harga kedelai sebelumnya hanya Rp 3.800 per kg tiba-tiba naik menjadi Rp 8.000. Tidak ada cara lain bagi produsen tahu tempe, selain menghentikan produksi untuk menghindar dari risiko bangkrut dan rugi," ujarnya.
Dijelaskan, sejumlah produsen tahu tempe yang menghentikan produksi terpaksa beralih profesi sebagai tukang ojek, buruh tani, berdagang sembako, dan melaksanakan usaha lain.
Produsen tempe di Serang, Atep Sudrajat mengungkapkan, selama terjadi kenaikan harga kedelai, terpaksa mengurangi jumlah produksi sesuai dengan kemampuan modal. "Sebelumnya, kami mampu membeli satu kuintal lebih kedelai untuk produksi per hari, kini hanya mampu membeli 60 kg," katanya.
Pengurangan Karyawan
Selain menekan angka produksi, tambahnya, jumlah karyawan pun dikurangi untuk menekan biaya produksi. Ia mengaku, sebelumnya mempekerjakan 20 karyawan, namun sekarang tinggal tiga orang.
"Kami tidak mampu membayar karyawan banyak, karena produksi per hari sudah berkurang. Kami terpaksa mengurangi jumlah tenaga kerja. Kami memang kasihan dengan keadaan mereka, karena mereka (karyawan-Red) juga orang susah. Namun, kami tidak bisa berbuat banyak dalam menghadapi dampak kenaikan harga kedelai ini," katanya.
Menghadapi berbagai dampak kenaikan harga kedelai di Banten, ratusan produsen tahu tempe, Selasa (15/1) melakukan rapat di Serang guna membahas dan menyepakati kiat-kiat yang harus dilakukan dalam menghadapi berbagai kesulitan.
Ketua Forum Silaturahmi dan Komunikasi Produsen Tahu Serang, Engkos Koswara menjelaskan, rapat yang dihadiri 110 produsen tahu tempe itu menyepakati beberapa keputusan bersama yakni menaikkan harga jual tahu secara proporsional dan memperkecil ukuran. Mereka mendesak pemerintah menurunkan harga kedelai sehingga harga jual tahu dan tempe bisa kembali normal.
"Kami terpaksa melakukan kesepakatan sehingga kenaikan harga jual tahu di tingkat pabrik dan di pasaran dilakukan serentak. Langkah ini terpaksa kami lakukan, karena tidak ada solusi lain dalam menghadapi kenaikan harga kedelai. Langkah ini kamu terapkan, selama harga kedelai tetap tinggi," katanya.
Dijelaskan, dalam rapat disepakati bahwa harga jual tahu mentah di tingkat pabrik dinaikan menjadi Rp 1,250 juta per kuintal dari sebelumnya Rp 1 juta per kuintal. Sementara untuk tahu goreng, dinaikan menjadi Rp 1,6 juta per kuintal dari sebelumnya Rp 1,2 juta per kuintal. Harga tahu di pasaran dinaikan menjadi Rp 175 sampai Rp 200 per buah, dari sebelumnya Rp 100 sampai Rp 150 per buah.
"Kenaikan harga ini tidak terlalu besar, ketimbang harga kedelai yang begitu tinggi beberapa kali lipat dari harga sebelumnya. Selain menaikkan harga, di tingkat pasaran akan terjadi penurunan ukuran tahu. Kami yakin, langkah yang akan kami terapkan ini tidak membuat konsumen kabur karena harga sama di semua tempat di Banten dan berlaku serentak," katanya.
Selain menyepakati kenaikan harga, mereka juga bersepakat membuat sebuah koperasi.
"Kami juga akan mendesak pemerintah segera mengambil langkah cepat guna menurunkan harga kedelai dan mengembalikan tata niaga kedelai ke Bulog. Kami juga meminta pemerintah daerah melakukan swasembada kedelai," ujarnya.
Tuntutan kepada pemerintah daerah itu akan dibuat secara tertulis dan akan disampaikan kepada Dinas Perindustrian dan Perdagangan, baik itu Provinsi Banten maupun untuk kabupaten/ kota di Banten serta Dinas Pertanian dan Peternakan.
"Semua keputusan dan kesepakatan ratusan produsen tahu tempe di Banten ini akan diserahkan kepada pemerintah daerah untuk ditindaklanjuti secepat mungkin," ujarnya. [SP/Laurens Dami]