[NGAWI] Sebanyak 400 dari 1.000 produsen keripik tempe di Saddang, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, bangkrut, menyusul naiknya harga kedelai. Di daerah ini harga kedelai menembus Rp 8.000 per kilogram (kg). Produsen keripik tempe yang sudah gulung tikar sejak dua minggu lalu adalah perajin dengan modal kecil.
"Produsen dengan modal kecil, hanya mampu membeli kedelai 5 -10 kg per hari. Sejak harga kedelai naik, mereka tidak mampu membeli kedelai. Akhirnya para perajin kecil tersebut memilih menutup usaha kecilnya. Perajin modal menengah rata-rata masih mampu bertahan," kata Kuat, penjual kedelai kepada SP, di Ngawi, Kamis (17/1).
Produsen dengan modal menengah, biasanya membeli kedelai rata-rata di atas 100 kg. Sejak harga kedelai naik, mereka membeli bahan baku keripik tempe ini di bawah 80 kg per hari.
"Saya terpaksa menaikkan harga keripik tempe kemasan dari Rp 1.400 menjadi Rp 1.500. Tetapi para pelanggan banyak yang komplin atas kenaikan tersebut," kata Kemis, pemilik produsen tempe kelas menengah.
Wakil Bupati Ngawi, H Budi Sulistiyono menyatakan prihatin, karena banyaknya perajin keripik tempe modal kecil di Saddang banyak yang gulung tikar. Guna mengatasi bangkrutnya usaha kecil tadi, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat, segera mengusahakan pinjaman modal kepada koperasi agar dapat memberikan kedelai kepada produsen.
Dari Daerah Istimewa Yogyakarta dilaporkan kenaikan harga kedelai mencapai Rp 8.000 per kg menyulitkan perajin tahu tempe. Menurut salah satu pembuat tahu di wilayah Srandakan Bantul, Muchadi terpaksa menyusutkan ukuran kemasan tahu.
Jika biasanya tahu ukuran 6 x 6 cm dijual Rp 300 per biji di tingkat pembeli, saat ini dia mengecilkan ukuran tahu menjadi 4 x 4 cm dengan harga yang sama. Pengurangan ukuran lebih baik dari pada menaikkan harga. [080/152]