uzana Marantika yang genap berusia 13 tahun pada Senin (14/1) terlihat gembira dengan acara ulang tahunnya. Apalagi, Suzan biasa disapa, di acara ulang tahun itu dihadiri teman-temannya, baik dari sekolah minggu, SMP 12 Angkasa, dan teman- teman di dekat rumahnya.
Stenly (10), tetangga korban mengaku diundang menghadiri perayaan ulang tahun Suzan di rumah korban. Hanya saja, ia tidak mengikutinya sampai selesai. Pada ulang tahun ini, tampak wajah Suzan berseri-seri dan dipenuhi kegembiraan, walau perayaan ulang tahunnya dirayakan secara sederhana. "Memang kakak Susan terlihat gembira sekali malam itu," katanya.
Dalam perayaan ulang tahun itu, tambahnya, Suzan sempat meniup lilin dan memotong kue ulang tahun tersebut. Kemudian diisi dengan ibadah syukur dan setelah itu menyanyi bersama teman-temannya.
Stenly sekitar pukul 21.00 WIT diminta pulang oleh orang tuanya karena hujan lebat disertai kilat dan guntur terjadi malam itu di Kota Jayapura, Papua. Sementara itu, Fale dan Desi, yang tinggal 100 meter dari rumah korban mengaku tidak menyangka, Suzan pagi harinya sudah meninggal.
Fale dan Desi sempat menghadiri ulang tahun Suzan, meski sedikit terlambat. "Memang Suzan terlihat ceria saat ulang tahun, sambil menyanyi-nyanyi. Acaranya, selesai sekitar pukul 21.00 WIT, kami masih ngobrol bersama Suzan dan kakaknya, Novelin Marantika hingga pukul 22.00 WIT, kemudian kami pulang," kata Fale.
Dalam ulang tahun ini dihadiri lebih dari 30 orang. Fale dan Desi melihat Suzan mendapatkan hadiah dan ucapan selamat ulang tahun dari teman-temannya. Sebelumnya, Fale dan Desi ngobrol bersama Novelin Marantika, kakak Suzan. Ketika keduanya akan pamit pulang, Novelin berusaha untuk mencegahnya.
Fale dan Desi ini, sempat tiga kali ditahan Novelin agar tidak pulang dan menemaninya untuk ngobrol, sambil membuka-buka foto album keluarga.
Novelin sempat cerita soal bola, yakni Persipura yang gagal menjadi juara Copa Dji Sam Soe. Menurut Desi, dalam ceritanya, Novelin selalu memuji-muji pemain favoritnya di Tim Persipura, yakni Jendry Pitoy, Jack Komboy, dan Ricardo Salampessy.
SMS Korban
Ketika musibah longsor terjadi, Suzan masih sempat menghubungi temannya, Fena, anak dari Elsy, Sekretaris Direktur RSUD Dok II Jayapura. Padahal, ia sudah tertimbun longsor bersama tiga orang keluarganya.
Seperti diungkapkan Pdt Hans Limbert, yang sempat menerima SMS korban yang di-forward dari Elsy kepadanya, yang menyatakan beberapa jam setelah tanah longsor menimpa beberapa rumah korban tersebut, Suzan masih hidup.
Suzan sempat menghubungi Fena dengan hand phone yang mengatakan "Kak, longsor tanah di sekeliling. Saya tertimbun tanah longsor, tolong izinkan di sekolah," katanya.
Suzan juga sempat mengirim SMS ke Fena yang isinya "Cepat Gali, Karena Kita 3 Masih Bernafas di Gorong-gorong. Tanah Mulai Kering, Cepat Gali".
Masih adanya tanda-tanda kehidupan dari Suzan yang tertimbun tanah longsor ini, sempat membuat aparat keamanan, baik dari Polri, TNI AD, Marinir yang bahu membahu dengan masyarakat berharap korban bisa ditemukan.
Dua ekskavator yang bergerak cepat menggali tanah ternyata sia-sia. Suzan ditemukan bersama tiga orang lain sudah meninggal. Ia ditemukan pertama dari tujuh orang yang terbenam lumpur. SMS dia tinggal kenangan.
SMS minta tolong Suzan juga sampai kepada Bapaknya Gerson Marantika yang saat itu sedang bertugas di Jakarta. Itu terungkap saat dia menangis di samping dua jenazah anaknya, yakni Suzana Marcel Mintje Marantika dan Novelin Amelia Marantika, saat ibadah sebelum jenazah dilepas ke pemakaman di Gereja GKI Betlehem Jemaat RSUD Dok II.
Berkali-kali, Gerson Marantika memandangi wajah kedua anaknya dan berkali-kali pula tangannya mengusap wajah kedua anaknya.
Kesedihan Gerson Marantika ini, tidak lain juga karena sempat dihubungi oleh anaknya, Suzana. Berkali-kali Gerson Marantika menyebut anaknya Suzana yang sempat SMS kepadanya untuk meminta pertolongan pada pagi harinya. Gerson tak menyangka ini SMS terakhir. Dan sekaligus pamitan terakhir sang anak terkasihnya. [SP/Roberth Isidorus Vanwi]