[JAKARTA] Pahit tidak pahitnya masa lalu dalam hubungan antara Indonesia dengan Belanda, mau tidak mau harus tetap kita pelajari. Sejarah itu harus dipelajari supaya kepahitan di masa lalu tidak terulang kembali dan diharapkan hubungan Indonesia-Belanda yang naik-turun dapat berkembang lebih baik lagi di masa depan.
Hal itu disampaikan Prof Dr Bambang Purwanto MA dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (UGM) kepada SP, seusai acara pengukuhan dirinya sebagai Guru Besar Luar Biasa bidang Hubungan Sejarah Belanda-Indonesia, Erasmus Huis, Jakarta, Kamis (17/1).
Menurut Bambang, sama seperti kebanyakan orang, mulanya tidak mudah baginya untuk memilih jurusan yang akan diambil ketika akan melanjutkan studinya. Kurang lebih selama 15 tahun baru didapatkannya kesempatan itu. Dengan kesadaran ada krisis di dalam komunitas, ia meyakinkan orang sekitarnya, baik kolega maupun keluarganya, jurusan sejarah yang ia pilih adalah tepat.
Dikatakannya, sebenarnya sejarawan-sejarawan muda di Indonesia memang belum begitu banyak yang menggeluti hubungan dengan Belanda.
Menurutnya, pengukuhannya sebagai guru besar, merupakan pengakuan dari bangsa lain terhadap keberadaan sejarawan Indonesia dan diharapkan dapat menjadi pembuka jalan bagi sejarawan muda lainnya.
Sementara itu, Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Nicolas Van Dam, dalam sambutannya mengatakan, pengukuhan Bambang sebagai Guru Besar Luar Biasa Bidang Hubungan Sejarah Belanda-Indonesia merupakan sebuah kerjasama baru bagi Belanda dan Indonesia. Ia mengharapkan hubungan Indonesia dengan Belanda lebih meningkat, serta tahun ini dapat menjadi tahun yang lebih komprehensif, ter- utama bagi pemimpin kedua negara.
Tidak Menyalahkan
Senada dengan Bambang, Nicolas mengatakan, orang tidak bisa menyalahkan sejarah untuk menyalahkan pihak lain. Justru kita harus mempelajari sejarah itu agar hubungan antara satu dengan lainnya dapat diperbaiki dan menjadi lebih baik.
Bambang Purwanto, pria kelahiran 17 September 1961, sudah menulis dua buku, bukunya yang pertama berjudul Menggugat Histiriografi Indonesia, yang ditulis bersama rekannya, dan bukunya yang kedua berjudul Gagalnya Histiriografi Indonesia. [AMT/M-15]