opi satu, Man!" seru Subagyo, penarik bajaj kepada Sutarman, pemilik warung kopi (warkop). Bagyo kemudian duduk, menyusuli tiga orang lain yang sudah lebih dulu berada di warkop depan Stasiun Kereta Api (KA) Jatinegara, Rabu (16/1) dini hari. "Susahnya cari penumpang sekarang. Kalau ada sewa (penumpang - Red), nawar harganya kelewatan," Bagyo langsung menyampaikan kekesalannya pada empat kawannya, termasuk Sutarman. "Emang udah dapet sewa berapa, Yo?" timpal seorang temannya, Sunaryo. "Baru tiga. Tapi duitnya cuma jigo (Rp 25.000 - Red)," sahut Bagyo ketus.
Yang lain meyambutnya dengan tertawa. Bagyo tak peduli, ia pun menyeruput kopi bikinan Tarman, panggilan akrab si pemilik warkop. "Masih lumayan, Yo. Gue aja baru dapet lima belas ribu. Sepuluh ribunya udah buat beli bensin. Sekarang tinggal goceng (Rp 5000, Red). Itu aja bakal kepotong bayar kopinya Tarman," kata seorang yang lain, Dumadi.
"Ngojek juga sepi. Orang pengennya nawar melulu. Mau jual mahal, kita sendiri butuh uangnya. Kalau kita terima, jadinya enggak impas juga," kata Sunaryo, sang tukang ojek. "Padahal sekarang apa-apa mahal. Udah tiga hari, gue cuma ngasih uang belanja Rp 20.000 buat bini gue. Untung belom punya anak," timpal Yusuf, yang sejak tadi diam saja. Suasana warkop tiba-tiba sepi sejenak.
"Eh, udah pada nengokin eyang belom?" Tarman berusaha mencairkan suasana. "Eyang" yang dimaksud adalah Soeharto yang terbaring sakit di Rumah Sakit Pusat Pertamina.
"Iya ya. Tuh orang sakit apaan sih? Berita di TV sampai pada heboh ngeberitainnya," sahut sunaryo dengan mimik serius. "Mau sakit apa kek, emang kalo dia sakit atau sehat, kita dapet apa? Kayak gituan mah buat orang-orang penting," ucap Dumadi kesal.
"Bener tuh kata Dumadi," sahut Bagyo, seakan lupa dengan penghasilannya hari ini. "Kita mah yang penting bisa makan. Mikirin makan aja susah, mau ikut-ikutan mikirin Soeharto. Dia mah udah kaya, enggak kurang apa-apa," lanjut Bagyo lagi. 'Harga tempe masih mahal. Minyak tanah, udah mahal, belinya ngantri lagi," kali ini, Yusuf yang bicara.
"Jangankan tempe dan minyak tanah, sawi aja ikut-ikutan naik harga. Masa sekarang, sekilonya lima ribu. Mie instan juga naik sepuluh ribu sekardusnya. Mau naikin harga, takut enggak laku. Jadi ngurangin untung aja deh," Tarman ikut sumbang pendapat.
"Katanya negara agraris, tapi kedelai sama beras masih impor," lanjutnya. Tarman terpaksa mengerem pidatonya. Seorang sopir taksi memesan mie rebus padanya. Sementara yang lain, melanjutkan obrolan.
"Apanya yang agraris? Semua tanah dijadiin mal. Petani enggak maju-maju gara-gara dikerjain tengkulak. Pupuk, bibit, obat hama, semuanya mahal. Makanya terus pada ke kota...ya seperti kita ini," Ucapan Yusuf ini disambut deraian tawa teman-temannya. "Tahan dulu obrolannya. Gue nganter pesenan dulu," pesan Tarman sebelum mengantar pesanan sopir taksi tadi.
Masa vakum digunakan empat orang yang lain untuk minum kopi dan menyalakan rokok. Dumadi malah sempat buang air kecil dulu di samping bajaj Bagyo. "Ayo diterusin," kata Tarman semangat.
"Sampai mana tadi... Oh iya, petani. Iya, hari gini, jadi petani juga susah. Punya tanah, tapi enggak bisa ngolah," sahut Sunaryo. "Banjir di Jawa (Tengah dan Timur - Red) juga ngerusak sawah. Tambah hancur saja deh petani," tambahnya. "Lapindo juga belum selesai-selesai i? Menurut saya, korban lumpur itu lebih kasihan daripada korban banjir atau gempa. Selain korban nyawa dan harta, mereka juga kehilangan kampung halaman," kata Dumadi.
"Kalau saya orang kaya, saya mau menyumbang tanah dan rumah buat korban lumpur," sahut Bagyo lagi dengan logat Banyumasan yang kental. Teman-temannya cuma senyum-senyum saja. "Makan aja susah, mau mbeliin tanah buat korban Lapindo. Pake mau bikinin rumah segala," kelakar Tarman.
"Nasib kita begini aja, apa karena kurang kerja keras ya?" Kali ini Tarman bicara serius. "Kayaknya tiap hari bangun pagi. Salat juga lima waktu. Kerja juga enggak berhenti..." suara Tarman terdengar lesu.
"Eh, kok jadi pada serius sih... Kita kan tadi ngomongin hasil tarikannya Bagyo. Kok jadi elo yang stres, Man," Sunaryo bicara. "Kita ini emang uratnya, urat susah. Dulu enggak sekolah, jadinya keleleran di jalan kayak sekarang. Tetapi, karena kita udah susah, jangan dibikin susah," sambungnya.
"Eh ada kereta masuk tuh. Manasin mesin dulu ah." Bagyo pun meninggalkan arena dan menyalakan mesin bajajnya, siap menyambut penumpang yang turun dari kereta. Langkah Bagyo diikuti yang lain. "Ntar sambung lagi, Man," kata Yusuf. Tarman pun membereskan gelas kopi tamunya tadi.
"Emang susah. Yang miskin berontak, yang kaya menindas. Kalo dipikirin, enggak kelar-kelar," kata Sutarman pelan, sambil mengelap meja. Tapi ya sudah, seperti "Dono Kasino Indro" pernah bilang: sekadar suara rakyat kecil, bukannya mau usil. [ATW/L-8]