[JAKARTA] Ketika orang berbondong-bondong mengunjungi, mendoakan, dan bersimpati pada Soeharto, tragedi kemanusiaan justru luput dari perhatian. "Tragedi bunuh diri Slamet, menjadi gambaran timpangnya kepekaan sosial bangsa ini. Slamet mungkin berdosa karena berputus asa, namun lebih berdosa kita yang membiarkan tragedi terus terjadi," ucap budayawan Goenawan Mohamad dalam acara doa bersama yang digelar Radio KBR 68H, Jakarta, Kamis (17/1).
Bersama Goenawan, hadir pula sejumlah tokoh lintas agama seperti Benny Susetyo, Yus Mawengkeng, Bikhsu Bhadravidya, Abdul Moqsith Gazali, Musda Mulia, Zafrullah Pontoh, Martin Sinaga, Albert Patty, dan Gomar Gultom. Aktivis Islam Liberal, Nong Mahmada, tampil sebagai pembawa acara tersebut.
Doa bersama ini digelar untuk Slamet, pedagang gorengan di Pandeglang yang tewas gantung diri karena terimpit kebutuhan ekonomi di rumahnya, Kampung Ciherang, Kabupaten Pandeglang, Banten, Senin (14/1) lalu. Slamet mengambil jalan pintas di tengah sulitnya pedagang mendapatkan minyak tanah, serta harga minyak goreng dan harga tempe plus tahu yang melambung tinggi. Sejak harga-harga melambung tinggi dan minyak tanah sulit didapat, tiap hari dagangannya selalu tekor. Utang menumpuk, sementara anak-anak dan istrinya harus makan. Slamet frustasi.
Selain doa bersama, digelar pula acara pengumpulan dana untuk membantu keluarga almarhum. Sekaligus, mengajak masyarakat peduli pada kehidupan sosial bangsa yang masih prihatin. "Slamet, yang berpenghasilan Rp 8.000 per hari, harus menghidupi istri dan empat anaknya. Sementara, banyak orang tak ragu menghabiskan uang Rp 3 juta hanya untuk sebuah makan malam. Keputusasaan Slamet merupakan kegagalan masyarakat membangun kehidupan sosial yang harmonis," tutur Goenawan.
Dikatakan, seandainya perhatian yang diberikan ke mantan Presiden Soeharto juga diberikan pada masyarakat kecil, maka tak akan ada tragedi Slamet. Media juga tak luput dari kritik. Media dinilai terlalu menyorot Soeharto, sehingga menutup jangkauan pandangan masyarakat terhadap masalah lain yang lebih nyata dan berdampak luas. "Entah Soeharto sehat atau sakit, apa gunanya bagi masyarakat? Kondisi Soeharto mungkin bernilai politis tinggi, tapi tidak bernilai sosial," ungkapnya.
Disinggung juga masalah kenaikan kedelai yang membuat pengrajin tempe terdesak. "Impor kedelai menghancurkan petani dan pengrajin tempe tahu. Demikian kedelai menjadi mahal dan menyengsarakan rakyat. Belum lagi potensi naiknya kebutuhan barang pokok lain, yang seharusnya mulai diantisipasi pemerintah. Kalau dibiarkan, akan ada Slamet yang lain. Bila demikian, dosa kita yang terus membiarkan tragedi terjadi, akan lebih besar lagi," ujarnya.
Wujud kepekaan sosial terhadap Slamet, dituangkan dalam bentuk penggalangan dana bagi keluarga. Dana yang terkumpul sementara mencapai Rp 2 juta. Penggalangan dana untuk keluarga almarhum akan dilanjutkan, karena menurut Goenawan, saat ini keluarga itu masih harus menanggung utang almarhum yang mencapai Rp 5 juta. [ATW/Y-4]