![]()
AFP / JOSE CENDON
Polisi mengadang pendukung oposisi, Gerakan Demokratis Oranye (ODM) di Eldoret, Kamis (17/1). Situasi Kenya makin memanas pada dua hari terakhir sejak kubu oposisi melancarkan aksi protes. Tujuh orang tewas di kawasan kumuh Nairobi yang menjadi daerah pendukung ODM.
[NAIROBI] Polisi Kenya menembakan gas air mata dan peluru secara membabi buta, Kamis (17/1), pada hari kedua setelah bentrokan berdarah dengan pengunjuk rasa yang menentang terpilihnya kembali Presiden Mwai Kibaki. Jumlah korban tewas akibat insiden itu sendiri masih simpang siur. Kepolisian Kenya mengaku hanya lima orang yang tewas di seluruh Kenya. Tetapi pemimpin oposisi, Raila Odinga dan Gerakan Demokratis Oranye (ODM) menyebut tujuh yang tewas.
Kubu oposisi menuduh pemerintah dan aparat keamanan sedang menjadikan Kenya sebagai ladang pembantaian kaum tak berdosa. Polisi menyangkal tuduhan itu karena mereka cukup menahan diri dalam bertindak. Uni Eropa mendesak untuk memotong bantuan untuk Pemerintah Kenya. PBB telah menyiapkan kucuran dana USD 41,8 juta untuk membantu 500.000 korban krisis di Kenya.
Odinga menyatakan di Nairobi saja sedikitnya tujuh orang tewas, khususnya yang berada di distrik Mathare dan sekitarnya. Jumlah korban tewas sejak pemilihan presiden 27 Desember 2007, tercatat sudah lebih dari 700 orang.
Menurut Odinga, korban tewas termasuk seorang sopir anggota parlemen dari pihak oposisi. Dia ditembak oleh polisi saat berusaha meninggalkan rumahnya. Sementara Elizabeth Ongoro, seorang anggota Parlemen Kenya, menyebut setidaknya enam ditembak oleh polisi berseragam.
Namun, polisi menyatakan hanya menembak mati dua orang di Mathare, dan tiga lainnya di Kisumu, yang merupakan basis pendukung oposisi. Odinga memimpin aksi unjuk rasa selama tiga hari, setelah upaya mediasi dengan mempertemukan kedua belah pihak, pekan lalu, gagal. Polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan kerumunan pengunjuk rasa, diikuti tembakan peluru tajam, di perkampungan rakyat miskin di Nairobi, serta sebelah barat kota Kisumu, dan Eldoret.
Pekerja rumah sakit di Eldoret menyebutkan bahwa polisi telah menembakkan gas air mata ke dalam rumah sakit. "Polisi menembakkan gas air mata ke ruangan gawat darurat, dan memukuli 15 pegawai rumah sakit," ujar Tony Kirwa, juru bicara rumah sakit. Julius Chelimo, petugas keamanan rumah sakit, menyebut bahwa polisi bertingkah sangat brutal.
AS menyalahkan baik Kibaki maupun Odinga atas kebuntuan mematikan yang mengancam stabilitas di Afrika Timur yang berpenduduk 37 juta orang. "Kedua pihak memikul tanggung jawab yang sama," kata juru bicara Kementerian Negara Amerika Serikat Sean McCormack. [B-14]