SUARA PEMBARUAN DAILY

Kisah Eksotis Orang Indian dalam Foto Curtis

ÒBlack FootÓ karya Edward S Curtis.

Enam puluh foto bertajuk "Warisan Sakral: Edward S Curtis dan Suku Indian Amerika Utara", yang mengedepankan tentang sejarah, dan kebudayaan para penduduk asli Amerika Utara, karya fotografer dan etnografer, Edward Sherriff Curtis dipamerkan Kedutaan Besar Amerika Serikat Jakarta, di gedung Bentara Budaya, Jakarta sejak Rabu (16/1) - Selasa (29/1).

Menurut Atase Kebudayaan, Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Anne E Grimes, foto-foto yang dipamerkan dipilih dari koleksi pribadi Christopher G Cardozo. Ia adalah pakar ternama dunia yang ahli mengenai Edward S. Curtis.

"Pameran ini diadakan khusus oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, dan telah diadakan di berbagai museum dan galeri di Asia, Eropa, dan Amerika Selatan. Tujuan utama dari pameran 60 puluh foto ini adalah menelusuri para penduduk asli Amerika, serta sejarah dan kebudayaan mereka," urainya.

Grimes mengungkapkan, dua pameran serupa yang menampilkan 60 gambar fotografi seni murni oleh Curtis dengan kualitas museum, sedang diadakan di berbagai negara pada tahun 2005-2008.

"Gambar-gambar tersebut merupakan representasi sejumlah wilayah dengan kebudayaan dan geografi yang berbeda, tempat Curtis mengabadikan dan melukiskan cita rasa seninya dalam fotografi potret, lanskap, dan fotografi yang menjadikan benda mati sebagai objek (still life)," tuturnya.

Rencananya, jelas Grimes, selain di Jakarta pameran serupa juga akan digelar di Institut Teknologi Bandung pada 3 Maret - 19 Maret, kemudian ke Sun Plaza, Medan, dan Palembang Square pada tanggal 23 Maret - 30 Maret.

"Setiap pameran akan menampilkan 60 gambar fotografi seni murni dengan kualitas museum. Sebagian besar foto yang dicetak merupakan reproduksi dari proses yang sangat jarang ada yang dilakukan oleh Curtis untuk karya-karyanya yang paling mahal dan berharga," ungkapnya.

Grimes mengatakan, pameran foto ini digelar untuk mengenang suku asli bangsa Amerika, sejarah dan kebudayaannya. Pameran ini juga dimaksudkan untuk menghormati fotografer dan etnografer ternama Edward S Curtis.

Meskipun akhirnya dikenal sebagai juru foto, Curtis sebenarnya juga pernah membuat film dan pertunjukan musik tentang suku Indian. Alih-alih mendapatkan untung, dia malah mengalami rugi besar. Curtis tak pernah menghasilkan cukup uang dari foto-foto yang dibuat. Curtis hidup sengsara dan akhirnya mengalami gangguan jiwa. Istri dan anak-anaknya pergi meninggalkannya.

"Pameran ini merupakan perubahan besar-besaran dari pameran foto-foto modern (non image) Curtis sebelumnya," imbuhnya.

Menurut Grimes, foto-foto karya Curtis ini merupakan sebuah catatan yang tak tergantikan, mengenai lebih dari 80 suku asli Amerika Utara dari puluhan ribu suku Indian di Amerika. Sebagian suku yang ditemui Curtis bahkan terdengar masih asing buat orang Amerika sendiri. Foto-foto tersebut dipublikasikan untuk pertama kalinya antara tahun 1907 dan 1930, yang setelah sempat dilupakan selama beberapa abad, kini mengalami kebangkitan kembali.

"Curtis telah membidik sekitar 50.000 foto, sedangkan yang dikoleksi Cardozo sekitar 4.000 foto. Foto-foto yang kami pamerkan ini adalah reproduksi foto," jelasnya.

Foto-foto: Istimewa - ÒHupa Mother and ChildÓ (1924) karya Edward S Curtis.

Berkualitas

Foto-foto yang dipamerkan ini merupakan karya-karya berkualitas cetak foto tinggi, dilengkapi dengan panel-panel didaktik, reproduksi efemera. Pameran fotografi yang unik ini menunjukkan pencapaian Curtis dalam bidang teknis dan estetika.

Dengan keahlian teknik fotografi yang dikuasainya, Curtis telah merekam sebuah sejarah, kebudayaan dan kehidupan sehari-hari suku-suku Indian secara gamblang dan jelas. Tentang kehidupan, aktivitas, pakaian, adat serta kebudayaan dari sebuah peradaban manusia.

Di antara karyanya yang dipamerkan, foto berjudul The Vanishing Race atau Suku Yang Lenyap, merupakan karya Curtis paling terkenal, yang merupakan metafora visual bagi konsep inti yang mendasari keseluruhan proyek Curtis selama 30 tahun, yaitu bahwa para penduduk asli Amerika, paling tidak secara budaya menuju kepunahan.

Tujuan utama Curtis untuk membuat dokumentasi tentang para penduduk asli ini beserta dunia mereka sebelum mereka lenyap untuk selamanya. Curtis mencari sebuah gambar untuk melukiskan gagasan ini selama hampir empat tahun sebelum menciptakan Suku Yang Lenyap. Seabad lalu gambar ini merupakan karya Curtis yang paling terkenal. Kini karya ini masih merupakan karya klasik yang sangat dicari-cari.

Sementara karya Curtis berjudul The Oath atau Sumpah merupakan gambar Curtis yang penting dan terpilih sebagai gambar sampul depan untuk buku volume IV, dari Sang Indian dari Amerika Utara, karya Cardozo.

Dalam gambar ini seorang pejuang Apsaroke, Picket Pin, mengucapkan sumpah kejujuran dan kehormatan disaksikan dua pejuang lain. Sumpah tersebut mensyaratkan sang pria menembuskan setangkai anak panah pada sepotong daging, meletakkan anak panah di atas tengkorak banteng yang dicat merah, mengangkatnya ke arah matahari, dan bila kata-katanya jujur, menyentuhkan daging tersebut ke mulutnya.

Upacara ini dilakukan apabila terjadi komunikasi yang sulit atau kontroversial untuk membantu memastikan kejujuran dan niat baik sang pembicara. Foto ini juga merupakan salah satu goldtone karya Curtis yang paling diminati, dan luasnya bagian langit menciptakan goldtone yang amat menawan. [Y-6]


Last modified: 17/1/08