SUARA PEMBARUAN DAILY

Menkeu: Kita Harus Hati-hati

[JAKARTA] Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, pelemahan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak awal pekan ini merupakan gejala global di seluruh dunia.

"Kita memang harus hati-hati, tetapi tidak perlu kemudian harus terlalu pesimis," kata Sri Mulyani seusai menghadiri rapat Pansus RUU tentang Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) di Gedung DPR/ MPR Jakarta, Kamis (17/1).

Menkeu menyebutkan, kondisi perekonomian dan situasi masyarakat seluruh dunia saat ini sedang menghadapi turbulensi.

"Jadi ada baiknya kita memang harus hati-hati, tidak perlu harus kemudian menjadi terlalu pesimis," tegasnya seperti dikutip Antara.

IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat anjlok secara drastis pada Rabu (16/1). IHSG yang sempat pada posisi tertinggi 2.830,262 pada 9 Januari, kemudian anjlok terus dan hingga penutupan sesi pagi Kamis (17/1) turun menjadi 2.574,731. Pada pembukaan perdagangan Jumat (18/1) sesi pagi, kembali IHSH anjlok 91,99 poin menjadi 2557,28. Sedangkan Dow Jones pada penutupan Kamis turun -306,35. Hal ini akibat kekhawatiran terajdinya resesi di negara adidaya tersebut.

Doakan

Sementara itu, mengenai perkiraan lembaga riset ekonomi Econit tentang kemungkinan terjadi krisis karena sektor finansial meningkat sementara sektor riil tidak berkembang, Menkeu meminta agar para ekonom mendoakan terjadinya perkembangan ekonomi yang positif di Indonesia.

"Kondisi ekonomi dunia sekarang ini lebih merupakan cerminan dari kondisi Amerika dan Eropa karena mereka mengalami kelesuan atau bahkan krisis pembiayaan," katanya.

Namun, menurut dia, kondisi itu tidak berarti langsung berpengaruh ke Indonesia karena selama ini perkembangan berbagai indikator menunjukkan kondisi yang baik.

"Dari sisi pemerintah sendiri, yang jelas porsi utang kita turun menjadi 39 persen dari PDB (Produk Domestik Bruto). Porsi utang luar negeri hanya 50 persen bahkan di bawah itu, cadangan devisa BI mencapai 57 miliar dolar AS, nilai tukar mata uang juga sudah fleksibel," katanya.

Menurut dia, kalau mau melakukan perbandingan paralel mestinya melakukan perbandingan statistik. "Jangan seperti nakut-nakutin saja," katanya. [Ant/M-6]


Last modified: 18/1/08