SUARA PEMBARUAN DAILY

Memaafkan Soeharto

Tarmizi Taher

Pak Harto kita kenal sebagai bapak pembangunan. Tidaklah sekadar retorik jika sejak Orde Baru kita mempertegas diri bahwa tujuan pembangunan nasional ialah untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya dan masyarakat Indonesia seluruhnya. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya orientasi pembangunan kita memang dimulai dari manusia Indonesia itu sendiri, yakni membangun manusia atau insan pembangunan menuju masyarakat yang sejahtera di dunia dan selamat di akhirat.

Dalam konsep pembangunan seperti itu artinya kita menempatkan manusia Indonesia sebagai subjek pembangunan, sehingga semua sarana dan prasarana pembangunan fisik pada dasarnya berfungsi fasilitatif untuk menciptakan tujuan pembangunan yang lebih hakiki tersebut. Dalam kaitan ini, menciptakan manusia pembangunan seringkali tidak segampang seperti yang diinginkan, sebab hal ini meliputi dimensi yang berkaitan dengan transformasi kultural, agar nilai-nilai kehidupan masyarakat kita sejalan dengan cita-cita pembangunan nasional.

Salah satu ciri utama manusia pembangunan ialah memiliki disiplin tinggi dalam hidupnya. Suatu sikap mental yang membuat orang tersebut mempunyai kiat untuk menghadapi tantangan hidupnya dan sekaligus memiliki kesadaran yang tinggi tentang hak dan kewajibannya, baik sebagai anggota masyarakat ataupun sebagai warga negara. Prototype manusia ideal dari insan Indonesia yang kita cita-citakan yaitu orang yang memiliki etos dalam hidupnya, sehingga tidak menjadi beban dan menyulitkan orang lain, dan sekaligus memiliki etik diri dan sosial yang membuat dirinya dalam masyarakat sebagai panutan moral dan spiritual yang mendatangkan berkah dan rahmat bagi sekitarnya.

Kembali kaitan dengan pribadi Pak Harto, saya kira, beliau telah memberikan apa yang memang seharusnya bisa dia berikan secara maksimal sebagi bapak pembangunan. Dengan segala kondisi kesalahannya sebagai pemimpin, tentu tidak bisa digunakan untuk menghapus jasa-jasa mantan Presiden Soeharto bagi Indonesia. Cara yang paling baik adalah memaafkannya.

Bukankah memaafkan merupakan sikap yang mulia sesuai dengan pesan Nabi Muhammad Saw, tapi juga baik bagi kesehatan dan memberikan ketenangan pada jiwa. Hidup kita mudah-mudahan akan berjalan dengan lebih baik karena kita tidak disibukkan dengan perasaan kecewa dan sakit hati atas perbuatan orang lain. Seperti yang dicontohkan Nabi, memaafkan seseorang tidak akan menurunkan derajat orang yang memaafkan di mata orang yang melakukan kesalahan. Memaafkan, baik bagi orang lain, terutama juga baik bagi diri sendiri.

Lebih jauh, bila ditinjau dari sudut agama, sifat memaafkan dan tidak mengembangkan dendam merupakan sifat yang harus diutamakan oleh setiap pemeluk agama.

Memperhatikan Bawahan

Pengalaman saya dengan bersama Pak Harto, beliau sering cerita pengalamannya dengan para perwira. Sebagai generasi muda TNI, ketika itu, mendengar dengan tekun dan memetik hikmah, betapa seorang atasan TNI sangat memperhatikan bawahannya. Terkadang saya berpikir, kapan masyarakat sipil punya hubungan akrab lahir dan batin dengan atasannya?

Pernah saya tanyakan hal yang sensitif kepada Pak Harto. Saat itu saya berjalan berdua dengan Pak Harto dari Istana Negara menuju Istana Merdeka. "Pak, apa boleh saya bertanya hal yang serius kepada bapak?" tanya saya. "Silakan" kata Pak Harto. "Sebagai menteri agama saya acapkali ditanya oleh ulama-ulama Islam dan tokoh agama yang lain kapan bapak akan berhenti menjadi presiden? Tanpa tersinggung dan dengan raut wajah nan biasa, dia menjawab, "Saya juga sudah bosan menjadi presiden, Tarmizi. Tapi, kata Ketua Umum Golkar, di mana-mana rakyat meminta saya supaya kembali menjadi presiden."

Selama tiga bulan sejak saya bertanya hal itu kita sering diskusi mengenai keinginan Pak Harto untuk hidup kembali menjadi orang biasa yang tak terikat protokoler.

Punya Petunjuk

Pengalaman lain, pernah suatu ketika Pak Harto berkata: "Tarmizi, sebagai menteri agama kamu sudah punya petunjuk dari Allah, yaitu Al-Qur'an dan Sunnah serta ditambah petunjuk dari negara yakni Undang-Undang Dasar (UUD) dan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN). Menteri agama itu tanggung jawabnya bukan hanya kepada saya sebagai presiden, tetapi tanggung jawab yang lebih besar hanya kepada yang di atas (Tuhan)."

Sejak menjabat sebagai Menteri Agama (1993-1998) hubungan saya dengan Pak Harto jika menghadap ke Bina Graha, saya tidak langsung bicara soal dinas, tetapi bicara dulu mengenai persoalan keluarga, anak, cucu dan hal-hal lain di luar dinas. Pak Harto itu lemah lembut, tapi tidak ragu-ragu dan tegas dalam mengambil keputusan. Demikianlah sekelumit pengalaman saya dengan mantan Presiden Soeharto. Wallahualam.

Penulis adalah mantan Menteri Agama, dan Ketua Umum Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia


Last modified: 18/1/08