![]()
SP/Stefy Thenu
Makam berbentuk joglo khas Solo tempat dimakamkannya Ibu Tien Soeharto, kedua orangtuanya, serta satu kubur yang dipersiapkan untuk mantan Presiden Soeharto.
uasana Astana Giribangun di lereng Gunung Lawu, yang biasanya sepi, tiba-tiba saja penuh keramaian. Bukan hanya aparat keamanan dari TNI, Polri, petugas keamanan internal dari Yayasan Mangadeg, namun wartawan dari berbagai media cetak dan elektronik dari berbagai kota dan negara pun hadir di kompleks makam raja-raja dan ke-luarga Pura Mangkunegaran tersebut.
Semuanya berharap-harap cemas, di tengah kondisi mantan penguasa Orde Baru, Soeharto, yang kondisinya kritis dan tidak menentu, di RSPP Jakarta, Sabtu (12/1), sejumlah pejabat sipil dan militer di Jawa Tengah, berziarah ke makam tersebut. Tercatat, Pangdam IV/Diponegoro, Mayjen TNI Agus Suyitno, Kapolda Jateng, Irjen Pol Doddy Sumantyawan, Sekda Jateng, Hadi Prabowo, Kapoltabes Solo, Kombes Yotje Mende, hadir. Tampak pula Bupati Karanganyar, Hj Rina Iriani, dan Bupati Wonogiri, H Begug Purnomosidi.
Namun, semua yang datang menolak berkomentar. Hanya Pangdam yang menyatakan, bahwa kehadirannya hanya berziarah. Kondisi kritis Pak Harto juga mengundang ratusan peziarah tiban. Mereka bukan saja datang dari wilayah eks Karesiden Solo, melainkan datang dari kota-kota lain seperti Jawa Timur dan Jakarta.
Seperti keluarga Karjan dari Jakarta yang mengaku datang ke Giribangun, karena melihat tayangan televisi dan berita di koran bahwa kondisi mantan presiden kedua RI itu, tengah kritis. Pria tambun itu datang bersama istri dan dua anaknya. Karjan beruntung, karena dapat masuk ke dalam lokasi makam. Dia diperbolehkan masuk oleh petugas juru kunci makam, setelah berhasil menunjukkan kartu pengenal peziarah dari kantor sekretariat.
Sebab, berbeda dengan biasanya, tidak semua peziarah dibebaskan masuk ke dalam lokasi calon makam Pak Harto, yang bersebelahan dengan makam mendiang Ibu Tien, serta makam Soemaharjomo dan Siti Hartini Oudang, kedua orangtua Ibu Tien.
Banyak peziarah yang tidak diizinkan masuk oleh para petugas juru kunci makam dengan alasan yang tidak jelas. Padahal, menurut Warsiman, peziarah asal Klaten, dia dan keluarganya yang rutin tiap tiga bulan berziarah ke tempat itu, tidak akan dipersulit jika akan berziarah ke makam Ibu Tien dan keluarganya.
Warsiman bahkan sempat berdebat kecil dengan seorang petugas. "Lho, tadi njenengan (Anda) bilang bisa tapi cuma hanya tiga menit saja, sekarang kok malah tidak bisa? Bagaimana ini?" ujarnya dengan nada jengkel. Warsiman dan keluarganya pun hanya bisa melihat dari balik pagar, sebelum akhirnya memutuskan pulang.
Sudirman yang mengaku bersama 10 temannya dari Madiun, juga harus menelan kekecewaan. Sudah berletih peluh berjalan kaki naik ke lokasi, namun tak diizinkan masuk oleh petugas jurukunci. Dia dan teman-temannya terpaksa hanya melihat-lihat kesibukan di dalam makam dari balik pagar.
Ridjo, petugas juru kunci makam, saat ditanya tentang masalah itu membantah pihaknya mempersulit. Sebab, semua peziarah harus mengurus izin lebih dulu ke pihak sekretariat yang ada di pintu masuk kompleks Astana Giribangun.
"Kalau masuk rumah orang kan tetap harus kulonuwun (permisi), makanya harus izin dulu, baru bisa masuk. Kalau tidak, ya, tidak diperbolehkan," ujar Ridjo yang mengaku sudah bekerja sejak tahun 1976.
Ridjo yang warga sekitar lokasi makam, Dusun Karanganyar, Desa Karang Bangun, Kecamatan Matesih, tersebut mengatakan, kompleks makam biasanya ramai didatangi para peziarah pada akhir pekan, Sabtu dan Minggu. Mereka datang ada yang berombongan 100 hingga 400 orang. Ada yang peziarah domestik, namun tak jarang ada pula yang datang dari mancanegara.
Kompleks makam ini mulai dibangun pada tahun 1974 dan diresmikan 23 Juli 1976. Astana Giribangun dibangun tepat di bawah Astana Mangadeg, kompleks pemakaman para penguasa Pura Mangkunegaran, salah satu pecahan dinasti Mataram, yang salah satunya makam Pangeran Sambernyawa.
Sejarah
Berdirinya pura Mangkunegaran tidak dapat dipisahkan dari perjuangan RM Said atau dikenal dengan sebutan Pangeran Sambernyawa antara tahun 1740 - 1757.
Pangeran Sambernyawa adalah adik dari Susuhunan Pakubuwono III yang melakukan perlawanan terhadap kompeni Belanda. Bahkan di masa perjuangannya ia tidak hanya menghadapi Belanda, melainkan juga ia bertempur melawan kakaknya sendiri Susuhunan Pakubuwono III dan juga Sultan Hamengkubuwono I (Pangeran Mangkubumi).
Selama perjuangan yang berlangsung 16 tahun itu, Pangeran Sambernyawa dikenal sangat cerdik, memiliki daya tempur yang tinggi dan strategi yang sangat menyulitkan pihak musuh.
Tercatat, pada tahun 1756 ketika terjadi pertempuran di hutan Sitakepyak sebelah selatan kota Rembang, pasukan kompeni Belanda (VOC) yang dipimpin Kapten Van Der Pol dan Kapten Beiman sebanyak dua detasemen dapat dihancurkan. Kendati ia berjuang dengan jumlah pasukan yang kecil serta peralatan perang sekadarnya, namun berkat kepandaiannya ia membuat Belanda terpaksa bertekuk lutut.
Ketika terjadi lagi pertempuran di Yogyakarta, tiga bulan sebeluma akhir tahun 1757, Pangeran Sambernyawa bersama pasukannya sempat memporakporandakan Benteng Kompeni Belanda.
Peristiwa bobolnya pertahanan Belanda itu membuat Nicolas Hartingh, Residen Belanda untuk Yogyakarta meminta kepada Susuhunan Pakubuwono III untuk membujuk Pangeran Sambernyawa agar membantunya dalam menjalankan pemerintahan di Surakarta.
Pada hari Sabtu, 17 Maret 1757, dilangsungkan pertemuan lagi yang dihadiri Susuhunan Pakubuwono III dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Patih Danurejo yang mewaki- li Sultan Hamengkubuwono I dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Pangeran Sambernyawa yang kemudian bergelar KGPAA Mangkunegoro I.
Pertemuan lanjutan itu menghasilkan perjanjian Salatiga yang isinya menyatakan bahwa KGPAA Mangkunegoro I tak beda dengan raja-raja Jawa yang lain, hanya tidak diperkenankan duduk di atas singgasana, mendirikan Balai Winata, memiliki alun-alun beserta sepasang pohon beringin.
Kepadanya diserahkan juga wilayah yang dikuasainya yang tersebar mulai dari tanah Kaduang, Laroh, Matesih, Wiroko, Hariboyo, Honggobayan, Sembuyan, Gunung Kidul, Pajang sebelah utara dan selatan dari jalan Kartasuro-Solo, Keraja- an baru tersebut diberi nama Puro Mangkunegaran dengan KGPAA Mangkunegoro I sebagai kepala keluarga sekaligus Pengayom seluruh Kerabat.
Seiring dengan perjalanan waktu, Puro Mangkunegaran telah berubah fungsi dari pusat pemerintahan kerajaan menjadi pusat budaya. Kini, Pura Mangkunegaran merupakan salah satu objek wisata yang menarik di Solo. Istana Mangkunegaran dibangun oleh Mangkunegoro II antara tahun 1804-1866. Arsitektur bangunannya seperti model bangunan tradisional Jawa. [SP/Stefy Thenu]