SUARA PEMBARUAN DAILY

7 Pabrik Tahu Berhenti Produksi

SP/Fuska Sani Evani

Para pedagang gorengan di Yogyakarta sebagai unit usaha kecil mengakui ketidakpastian dalam usahanya. Mereka menjerit dengan kenaikan terigu, tempe, tahu terlebih dengan langkanya minyak tanah.

[PONOROGO] Sebanyak tujuh pabrik tahu di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur (Jatim) untuk sementara menghentikan produksi setelah terjadi lonjakan harga kedelai yang mencapai Rp 7.500 per kilogram (kg) dari harga sebelumnya hanya Rp 3.000 per kg.

Sejumlah pengusaha tahu di Kecamatan Balong dan Bungkal, Ponorogo kepada wartawan, Minggu (13/1) menyatakan, sejak sepekan ini mereka menghentikan produksi pascakenaikan harga kedelai. "Siapa bisa menjual kalau harga kedelai Rp 7.500 per kg," kata pengusaha tahu di Kecamatan Balong, Muhammad Iqbal.

Selain harganya mahal, bukan hal mudah bagi produsen tahu dan tempe di Ponorogo untuk mendapatkan kedelai. "Kita juga nggak tahu ke mana kedelai itu sekarang. Di pasaran sangat jarang dan harganya sangat mahal," katanya.

Di sisi lain, ada sejumlah pengusaha tahu berusaha semaksimal mungkin mempertahankan eksistensinya. Caranya, menaikkan harga tahu sekaligus memperkecil ukuran tahu.

Sementara itu, ratusan pengusaha tempe di kawasan pusat industri tempe rakyat di Kelurahan Sanan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Jatim, terancam tutup akibat naiknya harga kedelai serta langkanya bahan bakar minyak tanah di pasaran.

Kenaikan harga kedelai sebagai bahan baku utama tempe, baik lokal maupun impor sejak Desember 2007, sudah diantisipasi dengan menurunkan volume produksi.

"Penurunan volume produksi yang kemudian diikuti dengan memperkecil potongan tempe, masih tidak mampu menolong apa pun," ujar Muhammad Nurali (52), Pengurus Forum Kelompok Perajin Tempe (FKPT) Sanan.

Terancam

Jika kondisi harga kedelai tidak diturunkan ke tingkat yang lebih realistis, serta persediaan minyak tanah tidak dipenuhi, hampir pasti lebih dari 500 keluarga perajin tempe Sanan terancam gulung tikar.

Kepala Bidang Perdagangan Disperindagkop Ko-ta Malang, Penny Indriyan- ti, mengungkapkan, harga kedelai lokal yang semula Rp 6.000 per kg kini naik menjadi Rp 7.500 per kg.

Tentang langkanya pemenuhan kebutuhan minyak tanah sebagai pengisi kompor pengolah kedelai, disebutkan Penny karena akibat dari pelaksanaan program konversi minyak tanah ke gas elpiji yang sudah memasuki tahap ketiga, yakni pengurangan volume pasokan hingga 50 persen dari volume awal.

Menurut Wira Penjualan BBM Pertamina Depo Malang, Edith Indra Triyadi, pasokan minyak tanah ke wilayah Kota Malang yang semula 250.000 liter per hari baru dikurangi sekitar 50.000 liter per hari.

Jika kemudian di lapangan minyak tanah menghilang, perlu ditelusuri, apakah ada penimbunan atau pemborongan minyak tanah untuk keperluan lain selain kompor dan lampu petromaks," ujarnya.

Harga kedelai putih impor dalam dua bulan terakhir ini terus melambung. Semula harganya hanya Rp 4.200 per kg, naik menjadi Rp 7.900 per kg. Sedang harga kedelai hitam lokal yang semula Rp 3.800 per kg, menjadi Rp 7. 200 per kg.

"Kenaikan harga ter- sebut, membuat para pera- jin tahu dan tempe teran- cam gulung tikar," kata Wahadi, Pengurus Primer Ko- perasi Tahu/Tempe Indonesia di Sokaraja, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Sementara itu, Tini, pedagang gorengan di Yogyakarta, sangat dipusingkan dengan kenaikan harga terigu, minyak goreng, tempe dan tahu itu, sebab semuanya adalah bahan baku pokok bagi bisnis mereka. Karena itu, Tini menaikkan harga gorengannya menjadi Rp 500 dari semula Rp 300. [ES/WMO/070/080/152/148]


Last modified: 14/1/08