Banyak pertanyaan muncul ketika mantan Presiden Soeharto sakit dan harus dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) sejak lebih dari seminggu lalu. Salah satunya adalah betapa luas dan "gegap gempita" liputan untuk mantan penguasa negeri ini selama 32 tahun di era Orde Baru. Belum lagi kalau mau disebutkan fasilitas yang all out dari negara. Bandingkan dengan mantan presiden yang lain, misalnya.
Pertanyaan berkaitan dengan media massa, baik cetak dan elektronik, adalah mengapa peliputannya bahkan mengalahkan banyak persoalan yang mengemuka di negeri ini. Banjir, longsor, kelangkaan minyak tanah dan gas elpiji, serta persoalan lain yang menimpa rakyat kebanyakan. Semua seperti lewat begitu saja ketika Pak Harto, begitu biasa "Bapak Pembangunan" itu disebut, mulai dilarikan ke RSPP.
Sampai hari ini pun berita Pak Harto masih mendominasi pemberitaan media massa. Ada apa? Tentunya bukan soal budaya bangsa negeri ini yang bisa jadi telah berubah. Namun lebih dari itu, semacam ada komersialisasi sekaligus pencitraan bagi Pak Harto dan, tentu saja, keluarganya.
Pencitraan karena hanya dengan peliputan secara luas, disengaja atau tidak, ada harapan akan datangnya pengampunan bagi Pak Harto yang masih harus berurusan dengan hukum, perdata dan pidana. Entah, ini terlepas atau tidak dari keberadaan saham milik keluarga Cendana di media cetak dan elektronik.
Dari sisi komersialisasi, berlaku hukum pasar. Semakin banyak pembaca, pemirsa, atau pendengar, semakin besar iklan yang diharapkan masuk. Semakin banyak iklan masuk, semakin tebal kocek bertambah.
Hukum ini pun tentu bukan tidak diketahui oleh media massa. Apalagi, diakui atau tidak, masyarakat diam-diam selalu ingin mengetahui perkembangan Pak Harto, yang kontra terlebih yang pro.
Media massa yang sudah berada di wilayah industri tentu tahu benar soal ini. Juga tidak mengherankan jika infotainment yang selama ini hanya membidik artis, pun ikut-ikutan berjibaku seperti layaknya jurnalis umumnya.
Tentu pikiran nakalnya adalah "Siapa tahu Mayangsari yang notabene artis pun muncul di RSPP. Toh, Mayangsari adalah sumber berita yang layak muat (layak tayang) dan layak berita buat infotainment. Kalau pun tidak muncul, toh banyak artis lain yang layak "dikejar" media infotainment di momentum ini.
Alhasil, bisa dikatakan ada komersialisasi dan pencitraan di momentum sakit (dan sampai wafatnya suatu hari nanti) yang tampaknya bukan tidak sengaja. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, kata orang Peru, dan tampaknya itulah yang terjadi. [SP/YW Nugroho]