![]()
Abimanyu
Mantan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew (tengah) menjenguk mantan Presiden Soeharto di Rumah Sakit Pusat Pertamina, , Jakarta, Minggu (13/1). Kedatangan Lee ke RSPP merupakan bentuk kunjungan sebagai sahabat Soeharto.
ada pertengahan 2007, mantan Presiden RI Soeharto masih menyambut kedatangan mantan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew. Pertemuan berlangsung di kediaman Soeharto Jalan Cendana Nomor 8, Menteng, Jakarta Pusat.
Ketika itu, ada genggaman tangan yang erat antara dua mantan pemimpin bangsa. Walau keduanya sudah sepuh, Lee berusia 84 tahun saat itu dan Soeharto 86 tahun, namun wajah mereka masih berseri. Soeharto melepaskan kepergian sahabatnya dengan pelukan erat.
Pada Minggu (13/1) atau hari ke-10 Soeharto dirawat di RS Pusat Pertamina, sang sahabat Lee Kuan Yew datang khusus ke Indonesia. Tentu saja kedatangan itu untuk melihat langsung perkembangan kesehatan Soeharto. Sekitar pukul 11.45 WIB, Lee yang masih terlihat gagah di usia tuanya, turun dari mobil CD 16 01 yang diparkir tepat di depan pintu utama RSPP. Wajahnya masih bersinar-sinar dengan sorot mata yang tajam walau rambutnya sudah menipis dan putih.
Langkahnya pun masih mantap pada usia senja. Di antara rombongan Lee, tampak Duta Besar Singapura Ashok Mirpuri dan isteri serta sejumlah staf kedutaan besar negeri jiran Indonesia itu. Mereka langsung menuju lift yang mengantarkan rombongan ke lantai lima, kamar 536, tempat Soeharto terbaring sakit selama ini.
Tidak ada jabat tangan erat, tidak ada pelukan. Lee hanya menatap Soeharto yang masih ditidurkan oleh Tim Dokter Kepresidenan. Pun tidak ada dialog antara dua sahabat itu. Soeharto masih dalam keadaan tidak sadar, terpasang alat-alat yang membantu pernafasannya dengan mata terpejam.
Turut mendampingi Lee di dalam ruangan itu anak perempuan Soeharto yakni Mbak Tutut, Titiek, dan Mamiek. Mantan Menteri Sekretaris Negara Murdiono, yang setiap hari mendampingi Soeharto, juga turut mendampingi Lee melihat kondisi mantan orang nomor satu di negeri ini.
Hanya 15 menit Lee berada di ruangan itu. Dia menyalami keluarga dan mengucapkan harapannya agar Soeharto dapat segera sembuh. Lee, menurut Murdiono, juga tidak menawarkan bantuan tim dokter asal Singapura. Lee pun beranjak dari ruang utama RSPP itu, dengan langkah perlahan namun masih terlihat sehat. Tangan pria yang siang itu menggunakan dasi biru tua bermotif, terangkat, dan bibirnya tersenyum. Ia melambai ke kerumunan wartawan yang mengabadikan kedatangannya.
Tidak diketahui apa yang berkecamuk di hatinya. Menjalin persahabatan selama 30 tahun, tentu membuatnya turut prihatin dengan kesehatan Soeharto yang sedang dalam kondisi sangat kritis.
Hanya Dua Organ
Pada hari ke-10 dirawat, Soeharto mengalami kemunduran multiorgan. Dari lima organ, hanya dua yang berfungsi. Fungsi jantung, dibantu dengan alat pemacu jantung. Paru-paru juga dibantu dengan peralatan medis dan ginjal juga sudah tidak berfungsi. Hanya otak dan pencernaan yang masih berfungsi. "Organ-organ yang tidak berfungsi itu akan kami upayakan untuk diperbaiki. Kami memberi obat-obatan agar fungsi jantung bekerja. Otak masih baik karena ketika dilakukan rangsangan, dia memberikan reaksi," kata salah satu anggota Tim Dokter .
Tim Dokter hingga kemarin, belum berencana mencabut alat-alat medis yang menempel di tubuh Soeharto. Tetapi, Tim Dokter memang mengakui telah melakukan upaya maksimal untuk memulihkan kesehatan pria yang pada Juni nanti berusia 87 tahun.
Tim Dokter pun sudah tidak lagi membatasi larangan untuk menjenguk Soeharto. Pada hari sebelumnya, Tim Dokter membatasi kunjungan tamu. Namun, kali ini kata tersebut tidak lagi disebutkan Tim Dokter Kepresidenan.
Kondisi Soeharto yang kian kritis membawa banyak keluarga, kerabat, dan kenalan berkumpul. Para sahabat Soeharto, kerabat, wartawan, baik dari luar atau dalam negeri berkumpul di RSPP untuk mengetahui kondisi Soeharto. Mereka berharap ada kabar terbaru tentang kesehatan Soeharto walau mentari dan rembulan silih berganti menjalankan tugasnya. [SP/Lince Eppang]